“Kan sudah Abang bilang, pacaran itu tidak usah lama-lama. Tidak usah juga kamu menyerahkan seluruh hatimu ke laki-laki yang kamu sebut pacar itu. Kamu jatuh cintanya setengah mati, eh ternyata waktu dikhianati sakitnya seperti mau mati.” Aku menghela napas panjang, tidak mampu menahan desahan sebal mendengar bagaimana Bang Wira di ujung telepon sana terus menggerutu dan memarahiku. Sedari dulu, hanya Bang Wira yang paling anti dengan hubunganku dan Huda. Menurut abangku itu, semakin lama sebuah hubungan tanpa kepastian, semakin besar risiko untuk kandas secara tragis. Dulu, Bang Wira pernah meminta Huda untuk menunjukkan keseriusannya padaku melalui sebuah pertunangan atau setidaknya cincin pengikat sebagai tanda. Namun, mantan pacarku yang sekarang sudah resmi menjadi “oknum” itu menol

