BAB 14

1309 Words

“Masuk, kita berangkat bareng. Tidak ada penolakan, jangan sampai kejadian kemarin terulang lagi.” Aku terdiam kaku di pinggir halte. Suara bariton itu terdengar begitu mutlak, seolah sedang membacakan surat keputusan camat yang tidak bisa diganggu gugat. Berpura-pura tidak mendengar adalah pilihan pertamaku. Aku sengaja bersedekap, melongok ke kanan dan ke kiri dengan wajah bingung yang dibuat-buat, seakan-akan sedang mencari tahu siapa sebenarnya yang sedang berbicara melalui kaca mobil yang terbuka itu. Di dalam hati, aku terus merapal doa dengan khusyuk, Ya Allah, semoga BST segera datang. Sekarang juga. Bukannya aku tidak tahu diri menolak tumpangan mewah dari seorang camat, tapi aku hanya sedang mencoba menyelamatkan sisa-misa harga diriku—dan juga ketenangan hidupku di kantor. Bis

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD