“Ngapain kamu melongo lihatin saya begitu! Ini lho, kamu menutup pintunya kurang kencang!” Pipiku seketika terasa terbakar. Panas yang menjalar dari leher hingga telinga sudah pasti membuat wajahku memerah karena rasa malu yang brutal. Tanpa kusadari, tanganku terangkat begitu saja, menggeplak kepalaku sendiri yang dengan lancangnya berpikiran yang tidak-tidak soal Pak Camatku yang absurd ini. Astaghfirullah, Nandita. Lihat, Bu Ustadzah, kelakuan Nandita yang nakal ini. Bisa-bisanya aku mengira Pak Baskara akan menciumku, padahal jelas-jelas dia hanya ingin membetulkan pintu mobilnya yang kurang rapat. Andaikan aku memiliki kekuatan untuk menghilang saat ini juga, ingin sekali aku menenggelamkan diri ke dasar bumi agar terbebas dari rasa malu akibat pikiranku yang kotor. Reaksi tubuhku

