BAB 42

1085 Words

“Ayo, naik.” Ajakan itu datang bersamaan dengan sebuah tangan besar yang terulur tepat di depanku. Aku tersentak, seolah baru saja ditarik kembali dari dunia lain. Aku menoleh ke sekeliling dan menyadari bahwa beberapa orang yang tadi mengerumuniku di bibir sungai sudah beranjak naik. Adzan Dhuhur mulai berkumandang dari kejauhan, membelah udara yang lembap. Di tengah kesunyian yang mendadak itu, hanya tersisa aku dan Pak Baskara yang masih setia berdiri menungguku dalam diam. Aku menatapnya bergantian, payung yang masih ia genggam erat untuk melindungiku dan telapak tangannya yang terbuka, memintaku untuk menyambutnya. Kepalaku terasa penuh, dipaksa mencerna semua yang terjadi dalam waktu singkat. Perhatian sederhana yang terus ia curahkan, detak jantungku yang mendadak liar tak terkend

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD