BAB 43

1183 Words

“Keluarga besarku sudah dalam perjalanan, Nandita. Astaga, aku tahu pasti terdengar menggelikan, tapi aku benar-benar gugup sekarang ini.” Aku menatap layar ponsel, mendengarkan voice note yang baru saja masuk dari Pak Baskara. Getaran suaranya yang biasanya berat dan otoriter kini terdengar sedikit tidak stabil. Bayangan seorang Camat yang biasa mengatur ratusan orang kini sedang meremas tangannya sendiri karena cemas, membuat senyumku mengembang lebar. Terlalu lebar, hingga membuat sosok di depanku hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala. “Duileeeh, yang mau dilamar. Full senyum sampai bibir kering,” celetuk Mbak Isna sembari memoleskan blush on di pipiku dengan gerakan telaten. Aku terkekeh pelan, mencoba menahan diri agar tidak terlalu banyak bergerak. “Rasanya masih tidak percaya, M

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD