“Masakan Nenek enak banget.” Celetukan polos itu meluncur dari bibir mungil Mikha, diiringi dengan acungan jempol kecilnya yang masih mengkilap karena minyak nangka goreng. Itu adalah potongannya yang kesekian, dan reaksi itu sukses membuat Ibu bertepuk tangan. Iya, kalian tidak salah baca. Ibu benar-benar bertepuk tangan dengan raut wajah yang begitu gembira, seolah beliau baru saja memenangkan lotere nasional hanya karena dipuji oleh anak Pak Camat. “Hihihi, makasih lho Sayangnya Nenek sudah mau mencicipi masakan Nenek. Nenek masih punya buanyaaaak sekali nangkanya di dapur. Nanti bawa pulang ya, minta gorengkan sama Mbak di rumah,” ujar Ibu dengan nada suara yang naik dua oktav, sangat kontras dengan suaranya saat mengomeli aku tadi di halaman. “Terima kasih, Nenek,” jawab Mikha antu

