“Ya Allah, Pak Camat!” Kalimat itu meluncur begitu saja dari bibir Ibu yang sedetik lalu masih terbuka lebar, siap mengeluarkan rentetan makian lebih jauh. Aku bergegas mendekati beliau, benar-benar khawatir jantungnya akan berhenti berdetak karena syok yang teramat sangat. Bagaimana tidak? Ibu baru saja menunjukkan sisi “barbarnya” tepat di depan hidung orang paling berpengaruh di kecamatan ini. Saat aku sampai di sisi Ibu, tangan beliau masih betah membekap mulut sendiri, seolah sedang menahan jeritan atau mungkin menahan rasa malu yang sudah meluap sampai ke tenggorokan. Wajah Ibu saat ini adalah sebuah mahakarya komedi putar, perpaduan antara kepanikan luar biasa karena baru saja membentak atasan anaknya, dan sisa kekaguman yang tak bisa disembunyikan pada sosok pria tampan di depann

