“Boleh saya berpikir beberapa hari dulu, Pak? Saya ingin meyakinkan diri sendiri karena saya hanya ingin menikah sekali seumur hidup. Lagipula, selain sebagai atasan dan bawahan, saya rasa saya perlu mengenal Bapak secara personal.” Aku menatap mereka bertiga secara bergantian. Ada debaran halus yang belum mau tenang di dadaku, namun aku berharap Bapak, Ibu, maupun Pak Baskara sendiri paham akan alasanku mengambil keputusan ini. Aku tidak ingin melompat ke kolam yang baru hanya karena ingin lari dari luka yang lama. Syukurlah, saat Ibu menepuk bahuku pelan dengan sisa sisa rasa terkejut di wajahnya, aku tahu langkahku sudah tepat. “Salat istikharah ya, Dit. Minta petunjuk sama Allah. Jika memang jodoh, minta didekatkan, dan jika memang bukan, minta agar semuanya berjalan dengan baik,” bi

