“Lalu bagaimana dengan kamu sendiri, Nandita?” Suara berat yang sangat aku kenali itu memecah kesunyian yang sejak tadi mencekam ruang tamu. Aku, Ibu, dan Pak Baskara seketika mendongak bersamaan. Langkah kaki yang lebar dan mantap bergema di atas lantai tegel, menandakan kehadiran Bapak yang baru saja kembali dari penggilingan padi. Sosoknya yang tinggi besar—versi lebih tua dari Bang Wira—berdiri di ambang pintu dengan wibawa yang sanggup menciutkan nyali siapa pun. Melihat kedatangan Bapak, Pak Baskara segera bangkit dari kursinya. Beliau memberikan salam hormat, yang hanya ditanggapi Bapak dengan anggukan sekadarnya. Di sini, jabatan Camat yang begitu disegani seolah tidak berlaku. Di mata Bapak, pria di hadapannya bukan lagi atasanku, melainkan seorang laki-laki yang datang untuk me

