“Ya ampun, yang mana sih anaknya Pakde Bhakti itu? Kok ingatanku cuma mentok di sosok yang tinggi, besar, dan hitam ya? Ya Allah, Bapak! Tega sekali sama anaknya sendiri!” Sambil berdiri di barisan antrean warung nasi tumpang Bude Welas, aku tidak hentinya bergumam sendiri. Suasana pagi yang seharusnya tenang justru terasa panas karena kepalaku masih dipenuhi oleh obrolan meja makan tadi pagi. Aku sedang menjalankan tugas suci sebagai 'anak bawang' di kantor, membawakan pesanan sarapan untuk para senior yang rumahnya searah denganku. Mbak Citra dan dua orang rekan lainnya sudah menitipkan pesan sejak subuh. Nasib memang, tapi daripada sarapan mereka aku beri bumbu tambahan yang tidak-tidak, lebih baik aku melampiaskan kekesalanku dengan mendumal sepanjang jalan. Pikiran konyol Bapak soal

