BAB 33

1334 Words

“Da, bertanggungjawablah pada seragam prajurit negara yang kamu kenakan sekarang ini! Jangan menjilat ludahmu sendiri hanya untuk mengambil keuntungan receh. Perlu apa aku ingatkan lagi kalau aku ini cuma pegawai honorer yang sama sekali tidak punya kebanggaan dan sudah kamu buang seperti sampah!” Suaraku bergetar, bukan karena sedih, tapi karena amarah yang sudah mencapai ubun-ubun. Di depan warung nasi tumpang Bude Welas yang masih ramai, aku tidak peduli lagi pada pandangan orang. Huda hanya terpaku, mulutnya terkatup rapat dengan ekspresi yang sulit diartikan—antara malu, kaget, dan mungkin sedikit tidak percaya bahwa Dita yang penurut bisa bicara setajam ini. “Sikapmu barusan benar-benar menjijikkan. Tiga kali lho kalimat putus kamu ucapkan, sudah macam talak tiga. Masa iya lupa cum

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD