Aku mendekati Huda yang sekarang terkapar di atas aspal jalanan perumahan. Tanganku masih terkepal erat, berdenyut karena hantaman tadi, namun godaan untuk kembali menghajarnya justru terasa semakin besar. Tidak ada sedikit pun rasa belas kasihan yang tersisa saat melihatnya mengerang kesakitan dengan hidung yang bersimbah darah. Dalam kemarahan yang memuncak, aku merasa satu pukulan lagi mungkin bisa langsung mengirimnya lunas ke alam baka. “Nandita ... gila kamu, ya!” umpatnya dengan suara sengau karena hidungnya yang tersumbat darah. Huda berusaha bangkit dengan susah payah. Ia beringsut menjauh dariku, matanya menyiratkan ketakutan karena ia sadar aku bisa saja bertindak lebih nekat dari ini. “Lebih gila mana dibandingkan kamu, Da?” balasku nyalang. Aku mengikuti setiap langkahnya

