BAB-1. COKLAT DARI SEKAR.
DEMI MERAYAKAN KEMBALINYA AKU KE DUNIA MENULIS, AKU MEMUTUSKAN UNTUK MEMBAGIKAN BUKU BARUKU YANG KUTULIS SETELAH HIATUS SECARA GRATIS.
SELAMAT MEMBACA, TEMAN-TEMAN.
SEMOGA KALIAN SUKA :))
BAB-1. COKLAT DARI SEKAR.
“Selamat siang…” Aku mengetuk pintu kamar kost yang hari itu tampak sepi. Mataku menyapu sekitar, tidak ada siapa-siapa di sana. Jam menunjukkan pukul 11.00 wib. Jika penghuni kost pekerja, artinya mereka sedang bekerja. “Jangan-jangan nggak ada orang,” gumamku pada diri sendiri.
“Selamat siang, Bu Sekar.” panggilku sekali lagi.
Tiga menit berlalu, masih tidak ada jawaban. Aku berbalik, sepertinya orang yang ingin kutemui sedang tidak ada di rumah.
“Siang, Pak.”
Saat aku hendak pergi dari sana, tiba-tiba terdengar suara perempuan. Aku memutar tubuh, menatap singkat wanita yang kini menjadi nasabahku. “Bu, Sekar?” tanyaku setelah bengong sesaat.
Wanita itu mengangguk. “Masuk dulu, Pak.” ia akhirnya berkata setelah menggigit bibir bawahnya kuat-kuat. Rona merah muda di wajahnya membuatku bertanya-tanya, sebenarnya apa yang sedang terjadi padanya?
Demi sopan santun, aku melepas sepatu kerjaku dan masuk ke kamarnya. Ia mempersilahkan aku untuk duduk di satu-satunya kursi di sana lalu menutup dan mengunci pintunya. Nasabahku lalu berdiri di belakang pintu. Ia menggenggam tangannya erat-erat dengan ekspresi cemas. Aku telah berkali-kali melihat ketakutan orang yang ditagih hutang ke rumahnya. Tapi ini pertama kalinya aku melihat ekspresi aneh itu.
Tanpa menunggu lama, aku segera memulai percakapan. “Maaf, Bu Sekar. Karena Ibu belum membayar angsuran-”
Kalimatku terhenti saat dia membuka jaket hitam yang sejak tadi dia pakai. Jaket itu terjatuh ke lantai. Aku memandangnya sekilas lalu kembali fokus pada nasabahku yang kini hanya memakai lingerie berwarna merah muda. Aku meneguk salivaku kasar. Apa-apaan ini?
Aku menunduk, enggan melihat apa yang seharusnya tidak kulihat. Pandanganku justru tertuju pada jari-jari kakinya. Terlihat lucu dan menggemaskan karena ukurannya yang mungil. Tanpa kusadari tatapan mataku justru beralih pada kaki jenjangnya yang indah, lalu lututnya, dan barakhir di pahanya yang masih berada di batas antara kulit itu sendiri dan lingerie.
Kali ini aku hanya bisa menelan ludah. Aku mendongak, menatap wanita itu yang juga sejak tadi melihatku. Wajahnya memerah entah karena apa. Bibirnya bergerak pelan, seolah ia baru saja menelan sesuatu.
Di balik lingerie merah muda itu, aku bisa melihat sekilas kulitnya yang selembut sutra dan seputih s**u. Dadanya yang berukuran cukup besar dan terlalu menarik untuk dilewatkan. Kucir kudanya yang tinggi memperlihatkan bahunya yang tegap. Dua tali kecil bertengger di bahu itu, dengan pita di setiap sisinya.
“Saya menerima tawaran Anda.” Wanita itu berjalan ke arahku dengan sedikit keraguan di matanya. Ia berhenti tepat di hadapanku.
“Maaf, Bu…” Aku mengangkat sebelah tangan, memintanya untuk berhenti. “Waktu itu saya hanya bercanda.”
Namun sepertinya ia tidak menghiraukan ucapanku. Dia berlutut di hadapanku, wajahnya persis berada di depan kakiku yang terbuka. Posisi kami sungguh tidak pantas dilakukan antara nasabah dan debt kolektor.
Aku hanya bisa menelan salivaku. Dengan posisi ini aku bisa melihat dengan jelas belahan dadanya da menilai seberapa besar buah dadanya. Pikiranku mulai berkecamuk. Antara tergoda dengan keindahan setiap jengkal tubuhnya atau profesionalisme yang seharusnya kujaga.
Tangan wanita itu menyentuh pahaku dengan gemetar. Ketakutan di matanya jelas terbaca olehku. Aku tertawa dalam hati, pikiran iseng justru muncul begitu saja di benakku.
“Baiklah. Satu sesi satu angsuran.” godaku.
Melihat keraguannya, sepertinya ini akan berjalan buruk. Cepat atau lambat dia akan menyerah karena malu. Dilihat dari tampangnya saja, aku bisa tahu kalau dia wanita baik-baik.
Satu menit berlalu tanpa ada kemajuan. Aku masih menunggu dengan sabar. Aku ingin tahu sejauh mana dia akan mencoba.
Dua menit berikutnya masih sama. Dia hanya diam dengan tangan gemetar yang masih bertengger di pahaku.
Aku mengambil napas panjang. Tidak seharusnya aku memperlakukannya seperti ini. Bagaimana pun dia sedang kesulitan dan ketakutan di bawah tekanan hutang.
“Bu Sekar-”
Lagi-lagi saat aku berusaha mengucapkan sesuatu, dia memotong kalimatku.
Wanita itu bangkit lalu mencium bibirku dengan grusak-grusuk. Ia memejamkan matanya rapat-rapat, kembali ketakutan.
Aku hendak mendorongnya menjauh dengan menarik punggungnya ke belakang. Sial! Saat tanganku menyentuh punggungnya, yang terjadi justru sebaliknya. Aku reflek mendorongnya ke arahku, membuat ciuman kami lebih dalam. Lebih intens.
Sekian detik berlalu denga cepat. Aku melepas pagutan bibir kami lalu menatapnya intens. Deru napas kami beradu. Dan tiba-tiba saja suhu di ruangan itu meningkat drastis.
Ada sesuatu darinya yang menarik perhatianku. Awalnya aku berniat menyudahi semua ini. Ini sama sekali tidak pantas untuk kami lakukan. Entah dari mana aku mendapatkan dorongan itu, aku justru memajukan tubuhku dan menciumnya. Bukan ciuman kasar dan kaku seperti yang dia berikan padaku. Tetapi sesuatu yang lebih lembut dan penuh perasaan. Aku memberinya contoh bagaimana sebuah ciuman itu seharusnya terjadi. Dan dia belajar dengan cepat.
Pertahananku runtuh saat aroma vanilla yang menguar dari tubuhnya menusuk indra penciumanku.
Lima menit kemudian dia sudah duduk di pangkuanku. Selama lima menit itu juga aku telah menandani hampir di semua permukaan kulitnya dengan sidik jariku. Tiba-tiba saja aku mengabaikan segala bentuk sopan santun dan kepantasan yang selama ini terpatri jelas di benakku. Hangat napasnya yang berembus di kulitku mengaburkan pandanganku. Membuatku melupakan segala jenis tata krama yang pernah aku pelajari sejak lama.
“Aku akan bertanya sekali lagi,” ucapku saat kami mengambil jeda untuk bernapas. “Kamu yakin dengan keputusanmu?”
Wanita itu mengangguk. Wajahnya memerah dan bibirnya sedikit bengkak. Ia mengalihkan pandangannya dariku, menunduk, menatap tubuhku yang masih terbalut pakaian lengkap. Sementara dirinya, lingerie itu sudah sejak tadi tanggal. Kini sebagian tubuhnya terekspose sempurna.
Menyadari pandanganku yang tak luput dari tubuhnya, ia buru-buru beringsut ke arahku. Mengikis jarak di antara kami. Membuat kami seolah tak terpisahkan.
“Aku harus melepas pakaianku,” bisikku di telinganya.
Ia mengangguk dan bergegas turun dari pangkuanku, berdirik kikuk di depanku.
“Haruskah kumatikan lampunya?” tanyaku sambil melepas jaket, kemeja, dan celana.
“Biar aku saja.” ia bergegas menyingkir dari hadapanku. Baru maju satu langkah, lingerienya merosot, menyisakan celana dalam berwarna senada dengan lingerie itu. Sekar buru-buru berjongkok, hendak mengambil pakaian dan memakainya. Tapi aku segera melarangnya.
“Jangan dipakai lagi! Aku sudah susah payah melepasnya.”
Ia kembali mengangguk patuh. Melanjutkan langkah menuju saklar, memadamkan lampu. Sementara itu, aku telah selesai melepas pakaianku dan duduk di sisi ranjang. Menunggunya. Dalam remang-remang kamar ini, aku bisa melihat Sekar mengambil sesuatu dari meja. Ia lalu duduk di sisiku, memberikan sebuah pengaman dan coklat.
“Makanlah” pintanya dengan suara lirih. “Aku membeli cukup banyak minggu ini. Aku akan membaginya denganmu.”
Aku menerima coklat yang sudah dia kupas untukku. “Apa ini beracun?”
Sekar menggeleng sambil memasukkan potongan coklat ke dalam mulutnya. “Aman.” Ia juga membuka bungkus pengaman itu. “Bisakah kita mulai sekarang? Mau aku pasangkan atau kamu bisa sendiri?”