BAB-2. YANG PERTAMA.

1239 Words
BAB-2. YANG PERTAMA. “Aku bisa sendiri.” Aku meraih benda itu lalu memasangnya di bagian intimku. Sekar hanya melirik sekilas. Ia lalu naik ke ranjang, duduk dengan tenang seolah sedang memosisikan dirinya. Hati kecilku berbisik agar aku menyudahi semua ini. Namun sisi terliar dari diriku terus merayuku untuk melanjutkannya. Sekar memiliki aura yang tidak bisa ditolak oleh pria mana pun. Wajahnya memang polos tapi lingerie, coklat, dan pengaman itu justru berbicara sebaliknya. Wanita ini sudah menyiapkan semuanya. Bukan salahku kalau aku melanjutkannya. Tidak apa melakukan dosa sekali seumur hidup. Dulu, Adam pun pernah melakukan dosa ini juga. Meski batinku terus bergejolak, aku tetap naik ke ranjang, menyambut ciuman itu kemudian kembali meninggalkan sidik jariku di hampir seluruh bagian kulitnya yang lembut itu. Kurang dari lima menit, aku telah berada di atas tubuhnya. Aku membuka kakinya dengan lututku. Sambil terus memagut bibir ranumnya, aku menyatukan tubuh kami. Bagian paling intim dari diriku merengsek masuk ke dalam celah hangatnya. Sesaat aku terperanjat lalu spontan menarik tubuhku, menatapnya intens. Sekar berpaling dariku. Ada banyak sekali ekspresi di sana. Takut, malu, gelisah, kaget, dan kesakitan. Bibirnya yang makin bengkak terbuka, “Lanjutkan saja!” “Aku melakukan kesalahan.” Ucapku sambil menarik diri. Tidak. Ini sama sekali tidak benar. “Tidak!” Sekar kembali menarikku ke dalam pelukannya. Ia bersembunyi di balik leherku demi bisa menutupi rasa malunya. “Lanjutkan. Sesuai perjanjian kita. Satu sesi satu angsuran.” “Kita tidak perlu melakukannya. Aku bisa membantumu-” Kami masih dalam posisi canggung. Bagian tubuhku paling intim masih terbenam di dalam diri Sekar. Jantungku terus berdegup keras. Aku ingin sekali menyudahi semua ini tetapi entah kenapa semakin tubuhku menolak, semakin aku ingin melanjutkan hubungan ini. “Lanjutkan saja! Kalau kamu benar-benar ingin membantuku, lakukan dengan baik dan selesaikan secepat mungkin.” Aku mengangguk lalu menggerakkan tubuhku dengan hati-hati. “Katakan padaku kalau kamu kesakitan,” Demi menghindari tatapan penuh penyesalan itu, aku membenamkan wajahku di atas bantal sambil terus memompa. Seluruh tubuhku terasa panas, seolah aku memang menginginkan wanita ini untukku. “Sakit?” tanyaku beberapa saat kemudian. Sekar mengangguk polos, membuat rasa bersalahku semakin membesar. “Maaf,” ujarku sambil terus bergerak. Aku meletakkan kedua tangan di bawah punggungnya. Berharap dengan begitu dia merasa jauh lebih baik. “Tunggu sebentar lagi. Akan kulakukan dengan cepat.” “Aku minta maaf.” Kata-kata itu berhasil membuatku tertegun. Reflek aku memeluknya semakin erat dan bergerak semakin cepat demi bisa mencapai puncak. Sekar ketakutan, aku bisa merasakan itu. Di sisi lain dia juga merasa bersalah karena telah membuatku terpaksa melakukan ini. Kami berdua tahu, hubungan ini sejak awal adalah ideku. Lima belas menit kemudian tubuhku ambruk di atas tubuhnya. Napasku tersengal, peluh membanjiri pelipisku. Badanku gemetar hebat setelah mencapai klimaks. Ini adalah pelepasan pertamaku setelah sekian lama. Seharusnya ini juga menjadi yang terhebat sepanjang hidupku. Namun rasa bersalah yang sangat besar itu membuatku kehilangan kenikmatan itu sendiri. “Sudah?” tanya Sekar setelah beberapa saat. “Ya.” Aku segera menyingkir dari tubuhnya. “Kamu baik-baik saja?” tanyaku sambil menarik selimut untuk menutup tubuh kami. Ada beberapa hal yang perlu kutanyakan padanya. Aku berharap kami masih sempat berbincang meski sebentar. Namun Sekar justru sebaliknya. Bergegas turun dari ranjang dan buru-buru masuk ke kamar mandi. Sebelum menutup pintu, ia sempat berkata, “Terima kasih, Pak. Anda bisa pergi sekarang. Tutup saja pintunya setelah Anda keluar.” Aku mengembuskan napas pelan. Detik itu juga aku langsung tahu, dia tidak sedang ingin diganggu. Tidak akan ada pembicaraan hari ini. Tapi tidak masalah. Aku akan menunggu besok. Atau besoknya lagi. Tidak ingin membuang waktu, aku pun beranjak turun dari tempat tidur sambil memunguti pakaianku satu per satu. Aku merapikan seprai dan selimut setelah berhasil memakai semua pakaianku. Di atas seprai itu, aku bisa melihat dengan jelas jejak darah milik Sekar. Sejak awal aku tahu, ini pertama kalinya Sekar berhubungan intim. Berdiri di depan cermin, aku melihat pantulan diriku di sana. Sejenak aku lupa siapa diriku sebenarnya. Bagaimana pun aku baru saja melakukan hal yang sangat bodoh. Saking bodohnya, aku tega melukai seseorang yang tidak berdosa. Buru-buru aku mengenyahkan rasa bersalah itu. Aku harus segera menyingkir dari sini. Kuambil tasku yang tergeletak di lantai lalu bergegas keluar dari sana. ** Beberapa hari sebelumnya. Selamat pagi, Bu Sekar. Untuk angsuran bulan ini dan bulan lalu jangan lupa, ya. Paling lambat besok, Bu. Aku menguap lebar setelah mengetik pesan itu. Sekar, sudah dua bulan dia tidak membayar angsuran. Sudah menjadi tugasku mengingatkannya. Kalau awal minggu ini dia juga tidak transfer, itu artinya akhir minggu ini aku harus mendatangi kediamannya. Sekali lagi aku menguap lebar. Sungguh, ini adalah hari yang membosankan. Salah satu staff melintas tak jauh dari tempatku berbaring, ia melirik sambil tersenyum manis. Sesuatu yang sering dilakukan oleh kebanyakan staff cewek di kantor ini. “Permisi, Mas.” Katanya. “Lewat aja, Mbak. Anggap saya nggak di sini.” ucapku ketus. “Eh,” bukannya lanjut jalan, dia justru sengaja berhenti di dekat sofa. “Nama saya Alika, Mas. Kali aja Mas Rama lupa. Mana mungkin saya nganggep Mas nggak ada di sini.” ia lalu memandangku dari ujung kaki hingga ke ujung kepala. “Dengan postur sebesar ini, mustahil mengabaikan Mas Rama.” Aku cukup tahu maksudnya. Enggan memperpanjang percakapan, aku memilih untuk membalas senyumnya dan berbalik. Kini wajahku sempurna menghadap sandaran sofa. Aku kembali menguap, bersiap tidur. Dua jam kemudian aku terbangun karena seseorang mengguncang bahuku. “Ram… Rama…” “Hmmmm…” Aku menggoyangkan punggung, enggan diganggu. “Bangun, Ram. Ada yang mau gue omongin!” “Apa sih!” Mataku masih terpejam rapat, tapi aku segera tahu siapa yang sedang berbicaraa. “Gue ngantuk!” “Bokap lo nyariin. Nomornya masih lo blokir?” Dante akhirnya menyerah mengguncang bahuku. “Gue capek harus berhubungan dengan keluarga lo.” “Abaika aja, Dan. Ntar juga capek sendiri.” sahutku malas. Aku kembali menguap. Astaga, kenapa hari ini rasanya melelahkan sekali? “Jam berapa sekarang?” “Jam enam sore. Mau nginep di sini apa pulang?” “Pulang kemana?” tanyaku sambil berbalik. Aku membuka mata perlahan sambil meregangkan kedua tangan ke atas. “Gue mau nginep di sini aja.” “Rumah. Keluarga lo nyariin.” “Bawa makanan nggak, Dan? Gue laper.” tanyaku sambil beranjak duduk. “Staff lain udah pulang, ya?” aku melongok ke sana kemari. Ternyata kantor sudah sepi. Dante membuka bungkusan plastik lalu mengambil sebuah kotak makanan dan memberikannya padaku. “Nasi Padang. Eh, nasabah yang kemarin nunggak gimana? Udah ada kabarnya?” “Udah aku hubungi. Nanti deh kapan-kapan gue samperin.” “Wah…” aku menerimanya dengan senyum lebar. “Inilah yang aku butuhkan selama ini.” ucapku sambil membuka kotak itu lalu mengambil sendok di dalamnya. “Gajian masih lama, ya?” Ujung mata Dante melirikku sekilas. “Kenapa? Nggak punya duit lo? Makanya pulang!” ia lalu menyendok nasi beserta rendang daging. “Gajian masih seminggu lagi.” Aku menggaruk kepalaku yang tidak gatal sambil terus mengunyah. “Lama juga ternyata.” “Gue udah lihat laporan kerja lo. Nasabah yang lo pegang bayar angsuran tepat waktu. Sebelumnya mereka nggak kayak gitu deh. Kayaknya tampang lo cukup menarik sampai-sampai mereka mau bayar.” Kurasa itu pujian. Aku terus mengunyah sambil mengangguk-anggukan kepala. “Kecuali Sekar. Dia belum bayar angsuran juga? Bulan depan udah tunggakan ketiga.” “Belum. Gue akan ke rumahnya akhir minggu ini kalau dia tidak bayar juga.” “Oke. Semoga beruntung.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD