1. Gagal Masuk Perangkap
Napas wanita itu terengah dengan keringat yang membasahi seluruh tubuh dan wajah. Ia berlari tergesa di tengah gelapnya jalan malam, berharap selamat dari kejaran 2 pria yang menginginkannya.
Tiba-tiba sebuah cahaya dari kejauhan mengarah padanya membuat langkahnya terhenti sejenak dengan tangan terangkat menghalau silaunya. Melihat cahaya itu berasal dari sebuah mobil yang melaju sedang ke arahnya, secercah harapan terpatri di wajah ayunya.
Ckit!
Mobil itu berhenti di hadapan wanita itu tepat sebelum menabrak tubuh lelahnya. Tanpa berpikir panjang, wanita tersebut berupaya meminta pertolongan.
“To- tolong,” ucap wanita itu dengan napas terputus-putus. Ia lalu mengambil langkah lebar, berdiri di samping pintu kemudi mobil tersebut dan menggebrak kaca, seakan meminta pintu mobil terbuka untuknya.
“Tolong, tolong selamatkan aku,” ucap wanita itu penuh putus asa disertai air mata yang bercampur keringat. Ia sudah lelah bersembunyi dan berlari dan kehadiran mobil itu menjadi harapan terakhir.
Pengemudi di dalam mobil tersebut meremas setir. Wajahnya tampak panik, tapi berusaha tetap tenang sambil melirik seorang pria yang duduk di kursi penumpang lewat spion tengah.
“Tuan,” ucap pria di depan setir tersebut seakan tak sabar menunggu perintah. Ia hanya seorang sopir yang tak berhak mengizinkan siapapun memasuki mobil tuannya walau dalam keadaan apapun.
Pria yang duduk di kursi penumpang itu hanya diam, cukup lama, mengabaikan gebrakan dari tangan lemah wanita itu pada kaca mobilnya.
“Jalan.”
Satu kata terucap, lolos dari mulut pria itu. Suaranya begitu jelas, singkat, dan terdengar begitu dingin.
Tepat di saat itu kelakar tawa 2 pria terdengar samar dari kejauhan, perlahan mendekat.
“Hahaha! Mau lari ke mana kau, Manis!”
Gebrakan pada kaca mobil itu semakin keras. Teriakan meminta tolong pun kian pilu terdengar. Akan tetapi, tetap tak mengubah keputusan pemilik mobil itu memberi perintah pada sopirnya untuk melaju.
Perlahan roda mobil mulai bergerak. Pelan, seakan enggan. Namun, pada akhirnya mobil pun melaju seakan kehadiran wanita menyedihkan itu hanya ilusi bahkan tak ada sama sekali. Sopir itu tak ingin kehilangan pekerjaannya mengingat begitu sulitnya mendapatkan pekerjaan.
“Tolong! Tolong!” teriak wanita itu sambil berlari mengejar mobil tersebut. Namun, pada akhirnya langkahnya terhenti saat mobil berwarna hitam itu semakin jauh hingga akhirnya tak terlihat.
“Haha! Kena kau!”
“Mau lari ke mana, Manis? Ayo kita bersenang-senang! Hahahaha!”
Tepat saat wanita itu berhenti berlari, 2 pria yang mengejarnya muncul, berdiri di sisi kanan dan kiri dengan tangan masing-masing memegangi tangan wanita itu.
Wanita itu hanya diam tertunduk, cukup lama, membuat 2 pria itu saling melempar tatapan lalu melepas tangan wanita itu perlahan.
Perlahan wajah wanita itu terangkat setelah kedua tangannya menyapu jejak keringat dan air mata di wajah. Tatapan mengiba dan putus asa serta tangis yang sebelumnya tampak menyayat bagi siapapun yang melihat, kini lenyap entah ke mana.
“Sial,” ucap wanita itu dengan tatapan tajam, mengarah pada mobil incarannya yang seperti tertelan gelapnya malam. Suaranya pelan, tapi mampu membuat bulu kuduk 2 pria di sampingnya berdiri.
“Ja- jadi … bagaimana sekarang, Nona?” tanya pria di sisi kanan wanita itu sambil menundukkan kepala.
Wanita itu hanya diam dengan sorot mata sulit diartikan. Namun, tersirat kekecewaan sekaligus kekesalan yang begitu jelas.
Setelah merasa bahwa permainan malam ini berakhir dengan kekalahan seperti sebelumnya, ia berbalik lalu melangkah bak seorang model profesional penuh ambisi menuju mobil yang sudah menunggunya.
Tap!
Tiba-tiba langkah wanita itu terhenti, menghentikan langkah 2 pria di belakangnya yang mengikuti. Rasa takut dan cemas pun membuat sebulir keringat dingin menetes dari pelipis keduanya. Samar-samar sudut bibir wanita itu terangkat menciptakan smirk tipis saat sebuah rencana baru terbesit dalam kepala. Ini baru percobaan kedua, ia tak akan menyerah, masih ada segudang rencana demi meraih tujuan yakni, menaklukkan raja dalam mobil yang mengabaikannya barusan.
“Xendra Davidson, aku bersumpah akan membuatmu bertekuk lutut bahkan candu padaku. Lihat saja nanti.”
***
“Sudahlah, Jean, mending lo nyerah. Udah gue bilang, Xendra Davidson itu seorang gay.”
Vivian Jeanne melirik wanita yang berbaring di sampingnya, menasehatinya untuk berhenti melanjutkan rencana.
“Gue nyesel ngasih tahu lo,” kata wanita yang lebih kerap dipanggil Jeanne tersebut. Sebagai teman dekat satu-satunya, ia memberitahu Cindy tentang apa yang terjadi semalam di mana ia berpura-pura menjadi calon korban pemerkosaan demi menarik simpati Xendra.
Cindy membalikkan tubuhnya, membuatnya tengkurap lalu merangkul bahu Jeanne yang berada dalam posisi serupa.
“Sorry, gue cuma ngingetin. Yang gue dengar, selain Xendra ini gay, dia juga kejam nggak berperasaan. Gue nggak mau lo kena batunya, Jean. Kan lo ngejar dia cuma buat balas dendam sama Rico.”
Jeanne melotot dan segera membuka suara. “Udah gue bilang, jangan pernah sebut nama b******k itu lagi.”
Cindy melepas rangkulannya sambil nyengir kuda. “Hehe, sorry,” katanya sambil mengatupkan kedua tangan.
Wajah Jeanne tampak lebih kusut dari sebelumnya. Ucapan Cindy membuatnya kembali teringat mantan pacarnya yang sialan. Bagaimana tidak? Rico Jerico mengkhianatinya setelah semua yang ia lakukan. Di saat ia siap melangkah ke jenjang pernikahan, Rico justru mengakhiri hubungan dan memilih selingkuhannya.
“Setelah ini, apa rencana lo? Rencana pertama gagal, padahal lo udah korbanin kemaluan lo. Terus rencana kedua gagal padahal lo udah kek main sinetron.”
Jeanne melirik sinis Cindy dengan wajah masamnya. Ucapan Cindy mengingatkannya pada rencana pertama bulan lalu.
Satu bulan yang lalu, dengan nekat dan persiapan kurang matang, Jeanne memulai rencana pertama. Ia mendatangi sebuah bar di mana Xendra berada di sana. Mencontek alur pada novel-novel pasaran yang ia baca, ia berpura-pura mabuk di samping Xendra yang duduk tenang menikmati minumannya. Awalnya ia meracau seperti wanita putus asa setelah putus cinta kemudian pura-pura pingsan di samping Xendra. Ia kira Xendra akan mengambil kesempatan, membawanya ke hotel atau mungkin kamar rahasia di bar tersebut. Tapi ternyata, tidak. Xendra justru pergi begitu saja, tak peduli padanya. Ia kemudian justru didekati pria asing yang membuatnya segera mengakhiri akting mabuknya dan pergi mengabaikan orang-orang di bar yang menertawakannya. Mereka mungkin tahu bahwa dirinya gagal menggoda Xendra. Harusnya Jeanne malu, tapi berpikir tak ada seorang pun di bar yang mengenalnya, ia mengabaikan rasa malunya dan bersikap seperti tak terjadi apa-apa.
“Eh, gue punya ide,” ucap Cindy tiba-tiba. “gimana kalau lo nyamar jadi cowok aja? Xendra kan gay, pasti bakal lebih mudah naklukin dia kalau lo cowok.”
“Cin, please. Selama gue nggak lihat dengan mata kepala gue sendiri, gue nggak percaya dia itu gay. Lagian, lo yakin banget.”
“Ya abisnya, dia udah kepala tiga tapi nggak pernah ada berita satu pun yang nunjukin dia pernah kencan. Selain itu, cuma cowok gay yang nggak tertarik sama lo bahkan ninggalin lo gitu aja saat dia bisa boyong lo ke ranjang. Wajah lo sebelas dua belas sama Dilbaraba, d**a lo juga nggak rata-rata amat,” kata Cindy sambil menunjuk wajah Jeanne lalu turun dan berakhir di tengah belahan dadanya yang sedikit terlihat. “kalau gue cowok, gue udah ngiler mau gagahin lo.”
Jeanne seketika mendelik. Menegakkan punggungnya, kedua tangannya menyilang di depan d**a.
“Cin, jangan bilang lo belok. Gue masih normal!” ucap Jeanne dengan mata melotot tajam.
Cindy memutar bola mata, mengikuti Jeanne yang kini dalam posisi duduk.
“Ish, gue cuma kasih perumpamaan. Gue masih normal, ya, masih suka kejantanan berurat dua puluh centimet–”
Belum selesai Cindy bicara, sebuah bantal mendarat di wajahnya. Jeanne melemparnya bantal sebelum wanita itu selesai bicara hal yang menjijikan.
“Hei!” pekik Cindy tak terima.
“Makanya jaga mulut kotor lo, Babi!”
“Gue ngomong apa adanya Jini oh Jini!”
“Oi, oi!”
Tiba-tiba sebuah suara terdengar, berasal dari seorang pria yang berdiri di ambang pintu kamar Jeanne. Pria itu menatap Jeanne dan Cindy sejenak sebelum melangkah memasuki kamar sang adik tercinta. Jonathan namanya, kakak Jeanne, berusia 28 tahun.
Cindy merapikan rambutnya yang sedikit berantakan dan tampak malu-malu saat Jonathan kian mendekati ranjang tempatnya dan Jeanne berada. Melihat itu, Jeanne mendengus samar. Ia tahu Cindy naksir kakaknya, tapi tak akan sudi mereka bersama. Cindy termasuk playgirl selain itu, kakaknya juga sudah punya tunangan.
“Besok kakak ke Jogja. Mau ikut?” tawar Jonathan pada Jeanne.
“Tumben kakak nawarin ikut. Ada apa?” tanya Jeanne penuh selidik.
Jonathan melirik Cindy sekilas sebelum perhatiannya kembali pada Jeanne.
“Kak Jo nggak mau aku ikut juga?” tanya Cindy dan segera mendapat sikutan serta delikan tajam oleh Jeanne.
Senyum Jonathan merekah hingga matanya menyipit. “Sorry, Cin, kakak nggak mau Nabila salah paham nanti,” ucapnya sambil menunjukkan cincin di jari manisnya.
Awan hitam seolah muncul di atas kepala Cindy. Jawaban Jonathan begitu menohok ulu hati. Sementara Jeanne, ia tertawa penuh kepuasan.
“Nggak papa. Kakak cuma lagi baik hati. Mungkin kamu butuh healing,” ucap Jonathan kemudian berbalik dan melangkah meninggalkan kamar Jeanne. Sebenarnya, ada tujuan lain, tapi ia tak mau membuat Jeanne curiga.
“Ah, udah, ah. Gue pulang,” kata Cindy tak lama setelah Jonathan pergi.
Jeanne menahan tawanya, ia tahu alasan Cindy pulang karena badmood mendapat jawaban menohok dari kakaknya.
“Terserah lo, deh. Bilang aja lo malu udah ditolak Kak Jo mentah-mentah. Lagian, siapa suruh mau jadi pelakor?” ejek Jeanne.
Cindy melengos membuang muka lalu pergi meninggalkan kamar Jeanne. Setelah Cindy pergi, suasana kamar Jeanne menjadi hening. Turun dari ranjang, Jeanne berjalan menuju meja rias. Ia lalu duduk menatap pantulan wajahnya di cermin.
Jeanne menatap pantulan dirinya cukup lama, tenggelam dalam pikirannya sendiri. Ia pikir ia cantik, sama seperti yang Cindy katakan, wajahnya 11 12 dengan aktris terkenal negara tirai bambu. Dadanya juga cukup berisi dan kencang, belum pernah disentuh hingga dimainkan tangan pria manapun. Kulitnya juga bagus dan sehat. Tingginya 166 cm, tidak terlalu gemuk atau kurus, sangat ideal. Tapi, kenapa di kesempatan pertama Xendra mengabaikannya?
“Hah ….” Jeanne menghela napas panjang kemudian bangkit dari duduknya dan menjatuhkan tubuhnya kembali ke ranjang. Hingga tanpa sadar, perlahan ia mulai terlelap.
3 bulan yang lalu, Jeanne mendatangi rumah Rico, berniat memberinya kejutan karena Rico berhasil meraih gelar sebagai dokter muda yakni di usia 26 tahun dan diterima bekerja di sebuah rumah sakit ternama. Namun, sesampainya di sana ia justru terkejut menemukan Rico b******u dengan wanita lain. Bukannya merasa bersalah, Rico justru memutuskan hubungan mereka dan memilih wanita itu padahal, selama ini Jeanne sudah melakukan banyak hal demi Rico.
Rico sudah tak memiliki keluarga, satu-satunya keluarganya adalah Xendra. Pria itu adalah, omnya. Namun, hubungan mereka tidak baik-baik saja. Sejauh ini, hanya itu yang Jeanne tahu. Rico mengatakan, meski Xendra kaya dan satu-satunya keluarganya, tapi pria itu tak mau membantunya meraih cita. Selama ini Rico pun berusaha membiayai kuliah dan hidupnya sendiri. Mengetahui malangnya kisah pria yang Jeanne cintai, ia membantu Rico. Ia membantu lebih dari separuh biaya kuliah Rico hingga hidupnya. Dibutakan cinta, Jeanne percaya semua yang Rico katakan dan percaya kelak mereka akan bahagia bersama. Sayangnya, semua hanya mimpi belaka. Tak mau Rico bersenang-senang di atas rasa sakitnya, Jeanne berniat balas dendam dengan menjadikan Xendra kekasihnya. Rico sangat membenci Xendra, pria itu pasti kebakaran jenggot jika dirinya justru menjadi kekasih orang yang paling ia benci.
“Terima kasih sudah membantuku begitu banyak, Jean. Dengan bantuanmu, aku akan tunjukkan pada om-ku bahwa aku bisa sukses tanpa campur tangannya. Setelah aku lulus dan berhasil menjadi dokter terkenal, aku akan menikahimu dan mengganti semua yang sudah kamu berikan.”
Jeanne membuka mata saat kilatan ingatan janji manis Rico muncul. Meski sudah berusaha melupakannya, tapi kadang kali kejadian itu muncul dalam mimpinya.
Jeanne menegakkan punggungnya segera, tak mau mimpi singkat tadi mengganggu pikirannya. Meraih ponselnya, dihubunginya seseorang yang akan membantunya melakukan rencana selanjutnya.