2. Jadi Ani-ani

1041 Words
“Pura-pura putus asa dan memberinya kesempatan dalam kesempatan tidak mempan. Pura-pura lemah juga dia tidak peduli, jadi sepertinya aku harus jadi ani-ani,” gumam Jeanne setelah mengoles lipstik merah merona di bibir. Seperti yang sudah ia rencanakan, ia akan kembali menarik perhatian Xendra. Tak terasa sudah hampir sebulan berlalu sejak cara kedua ia lakukan dan sekarang lah waktunya. Ia sengaja memberi jeda agar Xendra tak mengingat wajahnya. “Lo yakin cara ini bakal berhasil?” Jeanne melirik Cindy yang duduk di tepi ranjangnya. “Kalau gagal, tinggal coba lagi,” kata Jeanne seraya bangkit dari kursi riasnya. Ia lalu memutar tubuhnya, melihat berapa sempurnanya penampilannya malam ini. Ia memakai long dress punggung terbuka dan sempurna membentuk lekuk tubuhnya. Rambut pendeknya tertata rapi di mana bagian kanan terselip ke belakang telinga dengan sebuah jepit rambut warna perak menjadi pemanis. “Ya ampun, Jean. Gue heran, lo itu niat mau balas dendam atau beneran naksir sama omnya Rico itu. Padahal kalau mau balas dendam, lo tinggal bunuh Rico atau kalau engga, buat kasus di tempat Rico kerja biar dia dipecat,” ujar Cindy lalu bangkit berdiri menghampiri Jeanne. “Cin, harus berapa kali gue ngomong. Orang itu adalah satu-satunya manusia yang paling Rico benci. Kalau gue berhasil buat omnya naksir gue, gue yakin Rico pasti kebakaran jenggot,” jelas Jeanne. “dan gue nggak mungkin bunuh orang. Gue masih waras. Dan kalau gue bikin kasus di rumah sakit itu, entar Kak Jo mungkin bakal tahu semuanya dan dia yang bakal bunuh Rico. Gue nggak mau calon kakak ipar gue gila karena kakak dipenjara.” “Jadi, lo berharap Rico rebut lo dari orang yang paling dia benci? Dan lo bisa balikan lagi sama Rico gitu?” Jeanne memutar bola mata malas sambil menghela napas. “Lo kira gue sudi? Gue cuma pengen lihat dia menganga karena terkejut mantan kekasih yang dia buang, malah jadi calon tantenya. Meski hubungan mereka nggak baik-baik saja, tetep aja Xendra omnya.” “Eh? Calon Tante? Emang lo mau nikah ama Xendra?” Jeanne berdecak. “Terserah lo. Udah, gue mau pergi,” ucapnya kemudian melangkah meninggalkan kamar dan Cindy yang komat-kamit tak jelas. Singkat waktu, Jeanne telah berada di sebuah pesta. Dengan bantuan anak buahnya, ia bisa menjadi tamu di pesta tersebut di mana akan ada Xendra di sana. Jeanne berdiri di sisi ruangan dengan segelas minuman di tangan. Pemandangannya pun mengedar menyisir setiap sudut mencari keberadaan Xendra. Menjadi wanita lemah gagal, jadi kali ini ia akan menjadi sebaliknya. Tiba-tiba perhatian Jeanne terhenti pada seorang wanita yang berjalan di samping Xendra. Padahal, Xendra lah yang ia cari, tapi melihat wanita asing berjalan bersamanya, ia tak bisa mengabaikannya. “Siapa?” batin Jeanne. Ia sudah memata-matai Xendra selama ini dan tak menemukan informasi bahwa Xendra dekat dengan wanita manapun. “Sial,” gumam Jeanne sambil meremas gelas di tangan. Padahal ia berniat menjadi wanita nakal, menggoda Xendra terang-terangan. Tapi keberadaan wanita itu pasti mengganggu. Jeanne tak melepas perhatian sedikitpun dari wanita yang berdiri di samping Xendra. Wanita itu cukup cantik dan anggun dan dari wajahnya, tampak lemah lembut apalagi saat tersenyum. “Cih, kemarin aku pura-pura lemah dia nggak peduli, tapi sekarang dia bersama wanita yang tampaknya penyakitan?” gumam Jeanne sebelum menghabiskan minuman di tangan dalam sekali tenggak. Ia lalu mengambil langkah, memulai rencana yang sudah ia susun. “Maaf, Xendra, gara-gara kita datang bersama, mereka pikir kita ada hubungan,” ucap wanita berparas ayu di samping Xendra. Nadia namanya dan merupakan putri dari kolega Xendra. Beberapa saat sebelumnya beberapa orang yang mereka kenal menyapa, dan mengira mereka memiliki hubungan karena menghadiri acara bersama. Xendra hanya diam di mana sedari tadi netra kelamnya mengedar mencari seseorang. Sebelumnya tanpa sengaja ia menangkap sosok yang terasa familiar sebelum akhirnya sosok itu menghilang di tengah banyaknya tamu undangan. “Ah!” “Ya Tuhan! Sorry!” Perhatian Xendra seketika mengarah pada wanita yang tiba-tiba muncul di depan Nadia. Dia adalah, Jeanne. Ia datang dari belakang Nadia dan dengan sengaja menumpahkan minuman di tangan. “Ya ampun, maaf, aku benar-benar tidak sengaja,” ucap Jeanne sambil mengelap dengan sapu tangan gaun Nadia yang basah karena ulahnya. Nadia yang sebelumnya terkejut, terlihat tenang. “I- iya, tidak apa-apa. Lain kali, tolong lebih berhati-hati,” ucap Nadia. Perhatiannya lalu beralih pada Xendra. “Xendra, aku ke toilet dulu.” Xendra mengangguk pelan dan melirik Jeanne yang tampak menyunggingkan senyum tipis. “Oh, ya ampun. Aku benar-benar tidak sengaja,” ucap Jeanne dengan wajah penuh rasa bersalah. Namun, setelah Nadia pergi, raut wajahnya berubah. “Akhirnya pergi juga,” gumam Jeanne lalu berdiri di hadapan Xendra. “Tuan, aku benar-benar tidak sengaja mengotori gaun pacarmu, apakah kamu akan menghukumku?” Xendra hanya diam di mana pandangannya tak lepas sedikitpun dari Jeanne. Sosok familiar yang sebelumnya ia lihat adalah, Jeanne. Dan sekarang, wanita itu berdiri di hadapannya. “Tapi sepertinya, sebaliknya,” kata Xendra. Tubuh Jeanne meremang sesaaat mendengar suara Xendra. Ini kali pertama ia mendengar dengan jelas suara Xendra dengan posisi mereka saling bertatap muka. Suaranya begitu khas lelaki dewasa dan sorot matanya, Jeanne nyaris tak berani melawan tatapan mata itu. Jeanne berusaha meraih kesadaran dan kewarasan. Ia lalu tersenyum samar kemudian hendak menyentuh jas Xendra. “Wah, ketahuan, ya,” ucap Jeanne nyaris seperti bisikan. Xendra menepis tangan Jeanne sebelum tangan itu mendarat pada jas harga jutaan miliknya. “Apa tujuanmu.” Dahi Jeanne tampak sedikit berkerut. Namun, ia sedikit senang karena berhasil menarik perhatian Xendra. Padahal ia pikir, pria itu mungkin akan mengabaikannya lagi. “Tujuanku? Bukankah sudah jelas?” Xendra hanya diam. Ia tidak tahu apa tujuan Jeanne sebenarnya sampai wanita itu muncul ketiga kalinya. Meski usianya hampir 31 tahun, tapi ia memiliki ingatan yang cemerlang. Ia ingat bahwa Jeanne adalah wanita yang sama yang muncul di bar dan juga wanita yang sama yang menghadang mobilnya malam itu. Xendra mendengus samar saat berpikir Jeanne mungkin memiliki tujuan sama seperti wanita yang pernah mendekatinya. Jika bukan untuk uang, apa lagi? Xendra mencondongkan tubuhnya ke depan dengan kepala setengah tertunduk. Dan saat wajahnya berada dekat dengan telinga Jeanne, wanita itu tak bisa menahan degup jantungnya apalagi setelah Xander membisikkan satu kalimat. Waktu seakan berhenti begitu juga degup jantung Jeanne. Matanya melebar, mulutnya terkatup rapat. Bisikan Xendra berhasil membuatnya seperti kehilangan nyawa sesaat.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD