"Sial! Sial! Sial!”
Jeanne berteriak meluapkan kekesalannya. Ia berada di toilet sekarang, berdiri di depan wastafel dan menatap pantulan dirinya di cermin dengan napas terengah.
“Kamu pikir, p*****r sepertimu pantas?” Adalah bisikan maut yang Xendra berikan sebelumnya. Dan yang membuat Jeanne makin kesal adalah, tatapan mengejek pria itu setelahnya seakan dirinya adalah seonggok sampah tak berguna, tak ada artinya.
Jeanne meremas pinggiran wastafel hingga tangannya memerah. Ia tidak tahu wanita seperti apa yang sebenarnya Xendra inginkan. Apakah ia harus jadi seperti Nadia? Wanita anggun yang tampak lemah dan lembut. Tapi, saat ia pura-pura teraniaya, Xendra juga tak peduli padanya.
Drt ….
Tiba-tiba ponsel Jeanne dalam clutchnya berbunyi. Mengambil ponselnya, diangkatnya panggilan tanpa melihat nomor siapa yang tertera pada layar.
“Halo, gimana? Berhasil?”
Jeanne berdecak dan tanpa menjawab segera mengakhiri panggilan yang tak lain dari Cindy. Ia lalu memasukkan ponselnya kembali dengan kasar dan mengumpat.
Di lain sisi, Xendra tak bisa berhenti memikirkan Jeanne. Bukan ia tertarik, hanya saja, ia penasaran kenapa Jeanne mendekatinya dengan cara ekstrem padahal mereka tak mengenal sebelumnya. Jika Jeanne ingin mendekatinya, wanita itu bisa berkenalan baik-baik, bukan?
“Xendra, kamu kenal wanita tadi?”
Xendra melirik Nadia dan menggeleng.
“Oh, aku pikir dia mungkin mengenalmu dan sengaja menumpahkan minumannya agar kalian bisa bicara.”
Xendra menatap Nadia dalam diam. Ia kira Nadia bodoh, percaya bahwa Jeanne benar-benar tak sengaja.
“Oh, ya, bukankah bulan depan ulang tahunmu? Apa kamu akan merayakannya? Ah, tapi … sepertinya tidak, ya, seperti tahun-tahun sebelumnya.”
Xendra hanya diam. Ia memang tak akan merayakannya, dirinya bukan seseorang yang senang mendapat ucapan selamat ulang tahun dari banyak orang juga mendapat hadiah.
“Ya ampun, Xendra, kamu sama sekali nggak berubah. Diam dan diam. Kalau begini terus, kapan kamu bisa punya pacar,” kata Nadia disertai kekehan ringan sambil menyikut lengan Xendra. “kamu sudah kepala tiga, loh,” imbuhnya.
“Bagaimana denganmu?” balas Xendra. Usia Nadia juga sebentar lagi menginjak 30 tahun.
“Aku? Meski usia kita hampir sama, tapi wajahku masih seperti usia dua puluh, jadi masih mudah bagiku mendapatkan pendamping. Tapi kalau kamu?”
“Apakah aku terlihat tua?”
Nadia diam dan memperhatikan Xendra lamat-lamat.
“Hm, nggak juga. Kamu masih kelihatan usia dua puluh lima, kok. Hanya saja, kalau kita nggak kenal, aku mungkin takut dekat-dekat. Auramu dingin banget. Brrr.”
Xendra terdiam dan entah kenapa, ucapan Nadia justru mengingatkannya pada wanita tak dikenal yang mencoba mendekatinya.
“Benarkah begitu?” gumam Xendra tanpa sadar. Harusnya memang begitu kecuali wanita itu gila, nekat, atau punya tujuan lain. Dan yang ada di kepala Xendra, tujuan paling meyakinkan hanyalah uangnya. Atau, apa mungkin tidak?
Keesokan harinya saat hari hampir sore, Jeanne tampak serius menatap layar laptopnya, memeriksa laporan keuangan bulan ini. Ia merupakan owner sekaligus desainer Jeansku, merek celana pria dan wanita yang semakin hari semakin dikenal sejak memulainya 3 tahun lalu. Meski begitu, ia belum sepenuhnya menikmati hasil usahanya itu karena selama ini digunakan membiayai mokondo Rico.
Tak!
Jeanne menutup laptopnya dan memijit pangkal hidung. Laba bulan ini lebih rendah dibandingkan bulan lalu.
“Sepertinya aku harus melakukan sesuatu,” gumam Jeanne. Sejak putus dari Rico, ia tidak terlalu fokus pada pekerjaannya. Ambisinya membalas dendam membuatnya hampir lupa.
Suara ketukan pintu terdengar saat Jeanne hendak membuka kembali layar laptopnya. Perhatiannya pun mengarah pada Jonathan yang berjalan mendekat.
“Apa kakak mengganggu?” tanya Jonathan setelah berdiri di sisi meja kerja Jeanne.
“Sedikit,” jawab Jeanne.
Jonathan menghela napas kemudian bersedekap d**a.
“Ada yang mau kakak kenalkan.”
Perhatian Jeanne pada laptopnya seketika beralih pada sang kakak.
“Apa kakak sekarang beralih jadi biro jodoh?”
Jonathan berdecak samar dan mengatakan, “Setidaknya bukan pria b******k yang mau kakak kenalkan.”
Tengkuk Jeanne tiba-tiba terasa tebal. Entah kenapa ucapan dan cara Jonathan menatapnya seperti menyiratkan satu hal. Apa mungkin kakaknya itu tahu tentang Rico?
Jeanne menelan ludah susah payah dan mengalihkan perhatiannya, kembali pada layar laptop di hadapan.
“Te- tentu saja. Mana ada kakak yang mau adiknya dengan pria b******k,” ucap Jeanne pelan.
Jonathan menarik napas dalam dan mengembuskannya dari mulut perlahan.
“Jean, sudah lama kakak menunggu, tapi kamu tetap nggak mau bicara. Sampai kapan kamu mau menyembunyikannya dari kakak?”
Tubuh Jeanne menegang, tangannya mulai basah oleh keringat dingin.
“Usiamu sudah seperempat abad, kakak nggak mau kamu lakuin hal bodoh lagi seperti kemarin. Kamu kira, kakak tidak tahu? Selama ini kakak tahu tapi memilih diam.”
“Ka- kakak ngomong apa, sih?”
“Nggak usah pura-pura bodoh. Kakak nunggu kamu minta kakak bunuh dia, tapi kamu milih diam. Setelah yang dia lakukan, kamu nggak berpikir kembali lagi, kan? Kalau kamu masih berpikir mau bersamanya lagi, jangan anggap kakak sebagai kakakmu. Yang kemarin kesempatan pertama, kalau kamu bodoh lagi, nggak akan ada kesempatan kedua.”
Sekujur tubuh Jeanne serasa diselimuti es. Dirinya sudah seperti pencuri yang tak bisa kabur lagi.
“Kakak kasih kamu kesempatan, kamu mau kakak lakuin apa pada mantanmu itu?”
Jeanne hanya diam, cukup lama, tapi Jonathan seperti setia menunggu jawabannya.
Jeanne memejamkan mata sejenak di mana kedua tangannya meremas roknya hingga kusut.
“Kak, ini urusanku. Aku akan menyelesaikannya sendiri. Dan kakak tenang saja, aku tidak akan jatuh ke lubang yang sama dua kali.”
Ruangan terasa begitu hening setelah Jeanne mengatakan itu. Sampai akhirnya, hela napas Jonathan terdengar pelan. Ia sudah bisa menebak, ini lah jawaban yang akan ia dapat. Sebenarnya ia begitu geram saat tahu kebodohan yang Jeanne lakukan, tapi ia tak mau ikut campur kecuali Jeanne memberitahunya. Selain itu, ia ingin Jeanne belajar dari kesalahannya meski ia juga sangat ingin memberi Rico perhitungan.
“Baiklah,” kata Jonathan kemudian mengambil langkah. Namun, langkahnya terhenti sejenak.
“Tapi kakak tetap akan mengenalkanmu dengan seseorang.”
Jonathan melanjutkan langkahnya meski tak mendengar jawaban dari Jeanne.
Jeanne mengembuskan napas berat setelah mendengar pintu kamarnya tertutup.
“Sialan. Ini pasti ulah Babi genit itu!” geram Jeanne berpikir Cindy yang memberitahu kakaknya. Ia pun bangkit dari duduknya dengan kasar, lalu meninggalkan rumah berniat menemui Cindy untuk meminta penjelasan kenapa wanita itu memberitahu rahasia yang coba ia sembunyikan dari sang kakak.
Jeanne berkendara cukup kencang menuju rumah Cindy sampai tiba-tiba laju mobilnya terhenti menemukan aksi pembegalan di depan matanya. Jalanan yang sepi dan hari yang mulai gelap menjadi waktu yang tepat bagi begal melakukan aksi.
Jeanne meremas setir. Ia sedang dalam keadaan yang tidak baik-baik saja, alih-alih merasa takut melihat tindakan kriminal di depan mata dirinya justru makin kesal. Pembegalan itu menghambat waktunya menemui Cindy untuk memberinya pelajaran.
Jeanne menarik napas panjang sebelum akhirnya mengambil sebuah keputusan besar. Alih-alih mundur menyelamatkan diri dan tak mau ikut campur, ia justru menginjak gas dalam, menabrak motor pembegal yang berada tepat di samping mobil berwarna hitam.
Brak!
Suara tabrakan keras terdengar saat mobil Jeanne menghantam motor hingga 2 pengendara di atasnya terlempar. Namun, bukannya berteriak ketakutan atau menyesal karena body mobilnya lecet hingga rusak, Jeanne justru berteriak penuh kepuasan.
“Yei! Huhu! Lo luar biasa, Jeanne!” seru Jeanne sambil mengangkat satu tangan ke udara. Ia sudah seperti pemain sepak bola yang berhasil memasukkan gol ke gawang, sudah seperti menang telak karena membayangkan pembegal itu adalah Rico dan selingkuhannya.