4. Teman Laknat

1004 Words
Brak! Mata Xendra melebar saat suara benturan keras terdengar di saat ia tengah mengambil pistol dari bawah jok yang ia duduki. Benda berpeluru itu selalu tersimpan di tempat rahasia tersebut sebagai antisipasi jika terjadi sesuatu yang tidak diinginkan seperti sekarang ini. “Selidiki pemilik mobil itu,” perintah Xendra pada sopir pribadinya. Meski dirinya bisa menyelamatkan diri sendiri, tapi ia tak mau punya hutang budi. Ia tahu mobil yang kini sudah tak terlihat itu sengaja untuk menolongnya. “Siap, Tuan.” Beberapa waktu sebelumnya, Xendra pulang dari pertemuan dengan rekan bisnis. Karena masih memiliki jadwal pertemuan lagi setelah ini, dirinya sengaja melewati jalan memotong yang lebih dekat menuju lokasi. “Jemput aku dan selesaikan masalah di sini,” ucap Xendra pada seseorang yang ia hubungi. Ban mobilnya kempes disebabkan pembegal yang kini terkapar membuatnya tak bisa melanjutkan perjalanan. Selain itu 2 pembegal itu harus diberi pelajaran tak peduli mereka sekarat. Di lain sisi, Jeanne akhirnya tiba di rumah Cindy. Tanpa babibu bahkan seolah tak peduli mobilnya yang penyok, ia bergegas memasuki rumah. “Babi! Babi!” teriak Jeanne. Cindy tinggal sendiri sementara orang tuanya di luar negeri membuat Jeanne leluasa keluar masuk seperti rumahnya sendiri. “Babi! Keluar lo!” teriak Jeanne seraya berjalan cepat menaiki setiap anak tangga menuju kamar Cindy. Brak! Tanpa permisi Jeanne menendang pintu kamar Cindy. Pintu bercat coklat itu pun terbuka lebar. “Lo gi–” Belum selesai Jeanne berucap, suaranya terhenti. Mulutnya menganga, matanya melebar. Bagaimana tidak? Di sana, di atas ranjang, Cindy dan entah pacar atau gigolo sewaannya tengah memadu cinta dan kehadiran Jeanne menghentikan aktivitas menyenangkan keduanya. Singkat waktu, Jeanne dan Cindy telah berada di ruang tengah sekarang sementara pria yang menyenangkan Cindy masih berada di kamarnya. “Dasar, ganggu aja lo,” keluh Cindy sambil mengambil sekaleng minuman dari dalam kulkas. “Diem lo. Lo harus jelasin kenapa lo ngasih tahu kak Jo soal Rico!” sentak Jeanne sambil menggebrak meja. Ia kesal, datang ingin memakan Cindy hidup-hidup tapi wanita itu justru memakinya. Alis Cindy berkerut samar. “Maksud lo?” tanyanya seraya duduk di kursi makan berhadapan dengan Jeanne. “Lo nggak usah pura-pura bego, Babi! Kalau bukan lo yang ngomong sama kak Jo, siapa lagi? Kak Jo udah tahu semua tentang Rico dan gara-gara itu dia mau ngenalin gue sama cowok yang nggak gue kenal!” jelas Jeanne menggebu-gebu. Cindy meletakkan kaleng minumnya cukup kasar setelah menenggak isinya separuh. “Hei, denger ya, gue nggak pernah ngasih tahu kak Jo. Lagian, apa untungnya buat gue?” “Lalu kak Jo tahu dari mana sialan!” “Ya mana gue tahu. Mungkin aja dia nyewa mata-mata buat mata-matain lo. Lagian, siapa yang nggak curiga? Lo punya usaha, bisa dibilang usaha lo berkembang cepat tapi lo masih keliatan kek gembel.” “Apa lo bilang? Gembel?!” bentak Jeanne ram terima. “Ah udah deh. Intinya gue nggak ngasih tahu kak Jo apa-apa soal Rico, terserah lo percaya apa enggak. Selain itu, Lo buruan pergi, gue mau lanjut sama pacar gue.” Cindy bangkit dari duduknya setelah berkata demikian seakan ia benar-benar kesal dengan kehadiran Jeanne. Tentu saja, dirinya hampir saja mengalami pelepasan yang luar biasa tapi kehadiran Jeanne menghancur leburkan kenikmatan yang sudah di ujung. Jeanne hanya diam, tapi sorot matanya menunjukkan kilatan kemarahan. “Awas lo, Babi,” gumam Jeanne. Beberapa hari kemudian, Jeanne tengah bersantai di pantai, berbaring di atas kursi pantai beratap payung besar yang melindunginya dari sengatan matahari langsung. Berbeda dari sebelumnya di mana Cindy kerap kali menemaninya saat menghabiskan liburan akhir pekan, kali ini dirinya sendirian. Jeanne membuka kaca mata hitamnya saat ponselnya di meja lipat dekatnya berdering. Namun, mengetahui itu pasti Cindy, ia mengabaikannya. Dirinya justru menyunggingkan senyum licik. Ia tahu apa tujuan Cindy sedari tadi terus meneleponnya seperti pacar kurang kerjaan. “Hah … rasain,” ucap Jeanne sebelum kembali memakai kacamata hitamnya. Sesekali siulan dan senandung kecil lolos dari mulutnya seakan dirinya tengah begitu senang akan sesuatu. Di tempat Cindy, dirinya tak berhenti misuh-misuh, mengucap sumpah serapah untuk Jeanne. Ia yakin, sangat yakin bahwa Jeanne telah memberitahu orang tuanya tentang kejadian hari itu di mana dirinya berbuat asusila dengan pacarnya. Jika tidak, kedua orang tuanya tak akan pulang tiba-tiba dan memarahinya hingga menyuruhnya menikah. “Jeanne! Awas lo!” teriak Cindy. Ia mendatangi rumah Jeanne tapi tak ada siapapun di rumah, hanya ada asisten rumah tangga yang memberitahu bahwa Jeanne liburan ke Bali dan Jonathan juga pergi. Di tempat lain, Xendra terlihat begitu berkeringat. Seperti biasa di akhir pekan, ia akan menghabiskan waktu di rumah untuk membentuk otot tubuhnya sekaligus menjaga kebugaran jika tidak memiliki jadwal. Dirinya memiliki ruangan khusus di rumahnya berisi beberapa macam alat kebugaran. Baru saja turun dari treadmill yang membantu Xendra membakar kalori, ponselnya di atas meja di sudut ruangan berdering. Sambil mengelap keringat dengan handuk yang tersampir di leher, Xendra berjalan mengambil ponselnya itu dan mengangkat panggilan. “Lo di rumah?” Xendra melirik ponselnya sekilas sebelum akhirnya menjawab, “Di luar.” Ia sengaja berbohong menduga Nando berniat datang ke rumahnya. “Wah, tepat sekali. Gue bawa Cleo mam–” “Rumah ini bukan hotel.” Setelah mengatakan itu, Xendra mengakhiri panggilan. Tak akan ia biarkan Nando membawa wanita ke rumahnya apalagi hanya untuk ena-ena. Nando adalah teman karibnya. Mereka berteman sejak bangku SMA. Pertemanan yang sudah bertahun-tahun itu membuatnya tak bisa memutuskan hubungan pertemanan mereka meski Xendra ingin. Bukan tanpa sebab, melainkan ia geram dengan kelakuan Nando yang hobi selingkuh. Nando adalah playboy kelas kakap, entah sudah berapa banyak wanita yang ia cicipi k*********a. Sudah berulang kali Xendra menasehati Nando mengingat Nando sudah menikah bahkan sebentar lagi punya anak. Namun, pria itu seolah tak menggubrisnya sama sekali. Tiba-tiba suara mobil terdengar memasuki halaman membuat decakan kasar lolos dari mulut Xendra. Tepat di saat itu, ponsel Xendra kembali berdering. Namun, bukan Nando yang menghubunginya melainkan seseorang yang memberinya informasi penting. Entah apa yang Xendra dengar dari orang di seberang sana, tapi rahangnya terlihat mengeras dan setelah panggilan berakhir, Xendra segera menghubungi seseorang. “Pergi ke Bali. Sekarang.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD