“Nona, permisi.”
Samar-samar Jeanne mendengar suara seseorang di tengah tidur ayamnya. Ia masih di tempat yang sama, tak membiarkan sinar UV menyengat langsung kulit sehatnya. Menaikkan kacamata hitamnya, Jeanne menemukan seorang pria berdiri di depan kursi yang dijadikannya tempat berbaring.
Jeanne menajamkan penglihatannya setelah menguap. Ia khawatir jika pria tampan yang hanya memakai celana pendek untuk melindungi tubuhnya itu hanyalah ilusi atau mimpi. Pria itu tinggi dengan kulit eksotis. Bahu lebar dan roti sobek yang menghiasi perut menyempurnakan ketampanannya.
“Ya?” tanya Jeanne sambil menjelajahi keindahan ciptaan Tuhan di hadapannya itu dari kepala hingga kaki.
Pria itu tersenyum kaku sambil menggaruk belakang kepalanya.
“Maaf, sepertinya aku sudah mengganggu. Sebenarnya aku ingin bertanya apa Nona melihat wanita bertubuh tinggi dengan rambut panjang lewat sini? Tadi kulihat dia berjalan ke arah sini,” ujar pria tersebut.
Jeanne menegakkan punggungnya dan mengedarkan pandangannya ke kanan dan ke kiri.
“Maaf, tadi aku tidur jadi tidak melihat siapapun,” kata Jeanne.
“Ah, jadi aku sudah mengganggu Nona, ya. Aku benar-benar minta maaf. Kukira Nona hanya bersantai. Oh ya, kenalkan namaku Nando.”
Jeanne menatap tangan Nando yang terulur, menggantung di depannya. Meski sedikit ragu, ia pun menerima jabat tangan pria itu.
“Jean,” kata Jeanne.
“Jean? Nama yang bagus. Oh, ya, sebenarnya aku mencari wanita tadi karena dia kabur setelah menerima jasaku.”
Alis Jeanne berkerut tajam. “Jasa?” gumamnya. Ucapan Nando terdengar ambigu di telinga.
Kekehan samar lolos dari mulut Nando.
“Ah, maaf, maksudku, jasa pijat. Aku biasa berkeliling menawarkan jasaku untuk pria juga wanita. Jika Nona Jean mau, aku bisa memijatmu dan itu gratis sebagai permintaan maaf karena sudah mengganggu waktumu.”
Nando tersenyum sangat manis setelah mengatakan itu, dan itu semakin membuat ketampanannya kian terpancar seakan-akan cahaya terang menguar dari balik tubuhnya.
Jeanne terdiam sejenak, tengah berpikir hingga pada akhirnya ia menjawab, “Terima kasih, tapi tidak.”
Nando terdiam seperti ada sesuatu yang ia pikirkan. Ia kira Jeanne akan senang hati membiarkannya menjamah tubuhnya karena ia yakin Jeanne terpesona. Tapi, siapa kira wanita itu menolak tawarannya.
“Kamu yakin, Nona? Jangan khawatir, aku benar-benar ahli memijat bahkan punya sertifikat.”
Jeanne mengangguk tanpa ragu kemudian bangkit berdiri lalu mengambil tas kecil dan ponselnya.
“Terima kasih atas tawarannya, tapi mungkin lain kali. Permisi,” kata Jeanne sebelum akhirnya melangkah pergi seakan dirinya tak mau bicara lebih banyak dengan Nando.
Nando hanya diam meski tangannya terasa gatal ingin menahan langkah Jeanne. Namun, ia tak mau membuat wanita itu curiga.
Sebelumnya saat ia ke rumah Xendra, pria itu tiba-tiba menyuruhnya melakukan sesuatu yaitu, menggoda Jeanne. Hal yang cukup aneh mengingat selama ini Xendra terus menasehatinya agar berhenti bermain wanita apalagi mengajaknya ke rumahnya. Tapi kali ini, Xendra memaksanya hingga membawanya ke Bali menggunakan pesawat pribadinya. Ia pun terpaksa meninggalkan wanitanya, tapi setelah menemui Jeanne, ia pikir ia tidak rugi. Jeanne cukup menarik, bisa dijadikannya salah satu wanitanya.
Drt ….
Nando merogoh saku celana saat tiba-tiba ponsel di dalamnya berdering.
“Halo.”
“Aku tidak menyuruhmu untuk membiarkannya pergi.”
“Aish, dasar tak sabaran. Ini baru permulaan. Tapi, gue penasaran kenapa lo nyuruh gue deketin dia. Lo ada masalah apa?” tanya Nando penuh rasa penasaran. Namun, bukannya menjawab, Xendra justru mengakhiri panggilan sepihak.
“He- hei! Jawab aku, sialan!”
Di tempat Xendra, ia menatap ponselnya dalam diam. Saat ini ia berada tak jauh dari Nando tapi sengaja menyembunyikan diri. Sebelumnya ia telah mendapat informasi tentang siapa yang sudah menolongnya hari itu dan pemilik mobil hari itu adalah, Jeanne. Mengetahui itu, ia kira Jeanne telah merencanakan semuanya. Pembegal itu adalah orang suruhan Jeanne lalu dia akan muncul sebagai pahlawan. Trik murahan dan mudah ditebak, hanya saja yang tidak Xendra ketahui, kenapa Jeanne langsung pergi. Harusnya wanita itu turun menemuinya dan menyombongkan diri bahkan mungkin meminta imbalan atau bayaran yang menguntungkan baginya , tapi wanita itu tidak melakukannya.
Xendra memasukkan ponselnya ke saku celana sambil menatap ke arah Jeanne yang mulai tak terlihat. Dia kembali ke hotel tempatnya menginap.
Xendra tak mengerti apa yang sebenarnya Jeanne inginkan darinya, tapi tanpa ia sadari dirinya mulai memikirkan Jeanne.
Singkat waktu, hari telah gelap dan Jeanne tengah mencari makan malam tak jauh dari hotel. Meski hotel telah menyediakan menu makan malam lezat, tapi Jeanne sengaja keluar sambil mencari udara segar.
“Ya, Kak, ada apa,” kata Jeanne pada Jonathan lewat sambungan telepon.
“Kamu sendiri? Kakak kira dengan Cindy.”
“Bukannya aku sudah bilang?”
“Meski di rumah sendiri, tetap hati-hati. Angka kejahatan di sana sedang meningkat.”
Jeanne menghentikan langkahnya sejenak dan mengembuskan napas berat.
“Kak, aku sudah dewasa dan ini cuma di Bali. Kalau aku di Antartika, kakak baru boleh khawatir jika aku dimakan beruang.”
“Justru karena kamu sudah dewasa–”
“Ah, sudahlah, Kak. Besok aku pulang. Aku lapar, sedang cari makan. Sudah dulu. Bye.”
Jeanne mengakhiri panggilan tanpa menunggu balasan dari Jonathan. Ia merasa akhir-akhir ini kakaknya terlalu berlebihan. Mungkin karena kakaknya tahu tentang hubungan percintaannya yang mengecewakan dan khawatir dirinya akan melakukan sesuatu yang buruk sebagai pelarian dari masalahnya.
Tak!
Baru saja hendak melangkah, ponsel di tangan Jeanne jatuh saat seseorang menabrak bahunya dari belakang.
“Ya Tuhan,sorry!” seru tersangka yang menabrak Jeanne sambil segera mengambil ponsel itu dan memberikannya padanya. “loh, Nona? Nona yang tadi siang? Siapa– ah, ya, Jean.”
Jeanne menatap Nando dengan pandangan tak terbaca seraya mengambil ponselnya dari tangannya.
“Terima kasih,” ucap Jeanne.
“Ini salahku. Jadi, apa yang Nona lakukan di sini?”
“Panggil saja Jean,” kata Jeanne. Telinganya sedikit gatal mendengar Nando terus memanggilnya Nona.
“Ah, ya, Jean. Maaf. Aku pikir kamu tidak senang jika aku memanggil namamu karena membuatku jadi sok akrab. Hehe.”
Jeanne mengukir senyum tipis sekilas dan berniat pergi karena dirinya benar-benar sudah lapar. Setelah kembali ke hotel siang tadi, ia bermain ponsel hingga tak sadar waktu cepat berlalu.
Baru saja Jeanne hendak membuka mulutnya, ingin mengatakan jika dirinya harusnya pergi, perutnya berbunyi sangat kencang seakan cacing dalam perutnya itu tengah bernyanyi seriosa. Sontak hal itu menciptakan kelakar tawa Nando terdengar.
“Ma- maaf, ya ampun, maaf,” kata Nando di sela tawanya. “aku juga sedang cari makan malam, gimana kalau aku traktir? Sebagai ucapan maaf karena sudah mengganggu waktumu siang tadi juga menjatuhkan ponselmu.”
“Makasih, tapi aku sudah ada janji dengan temanku,” kata Jeanne. “kalau begitu, aku duluan,” sambungnya seraya berbalik dan melangkah sedikit terburu-buru.
“He- hei! Tunggu, Jean!” panggil Nando. Ia berniat mengejar Jeanne tapi melihat Jeanne setengah berlari seperti buru-buru pergi darinya, ia mengurungkan niat. “sial, apa dia curiga?” batinnya. Selama ini ia hampir tak pernah gagal mendekati wanita tapi kali ini berbeda. “tsk, padahal aku sangat yakin dia terpesona padaku siang tadi.”
Nando merogoh saku celananya dan menghubungi Xendra.
“Halo, lo yakin wanita itu w**************n?”
“Gagal?”
“Dia seperti sengaja menghindariku. Apa mungkin dia tahu lo yang nyuruh–”
Belum selesai Nando bicara, Xendra sudah mengakhiri panggilan.
“He- hei! Sialan, lo Xen! Lo nggak bisa berhenti sok keren dengan mutusin telfon gitu aja?!” teriak Nando di depan layar ponselnya.
Di tempat Xendra, ia tengah berada di sebuah kafe yang cukup sepi. Duduk di dekat dinding kaca kafe sambil memangku rahang menggunakan kepalan tangan, menatap keluar kaca pada pengunjung kafe yang duduk di luar serta jalan di mana banyak bule berlalu lalang. Selama ini ia percaya Nando bisa mendekati wanita manapun yang dia mau, tapi kenapa kali ini seperti sangat sulit?
“Wah-wah, wah. Tak kusangka kita akan bertemu di sini. Dunia ini sangat sempit, ya.”
Tiba-tiba suara nyaring seorang wanita terdengar membuat Xendra menegang sesaat.