Suara denting sendok yang beradu dengan piring porselen terdengar begitu nyaring di ruang makan kediaman keluarga Pramesti.
Padahal, ada tiga orang yang sedang duduk mengelilingi meja makan berukuran enam kursi itu.
Namun, suasana di sana terasa begitu sunyi, dingin, dan kosong.
Seolah-olah suara kunyahan pelan pun bisa memantul di dinding-dinding rumah.
Semenjak kematian tragis Erika—kakak kandung Elara—belasan tahun lalu, rumah ini memang seperti kehilangan nyawanya.
Dulu, meja makan ini adalah tempat paling berisik.
Erika yang ceria selalu punya cerita tentang kampusnya, sementara Elara kecil bakal menyahut dengan gosip-gosip sekolahnya yang tidak penting.
Rumah mereka selalu wangi kue panggang, penuh tawa, dan terasa hangat.
Tapi sekarang? Rumah besar ini tak ubahnya seperti sebuah museum penuh kenangan yang membeku.
Hadi—sang Papa—duduk di ujung meja, matanya menatap lurus ke arah koran digital di tabletnya, sementara tangannya menyuap nasi goreng tanpa selera.
Winda—sang Mama—sendiri duduk di sebelah Elara, wajahnya yang cantik kini terlihat jauh lebih tua dari usia aslinya, dengan guratan kesedihan yang sudah permanen tercetak di sudut-sudut matanya.
Winda hanya mengaduk-aduk bubur ayamnya, memakan satu sendok, lalu melamun selama beberapa menit.
Elara menghela napas pendek. Pemandangan ini selalu berhasil meremas hatinya setiap pagi.
Elara sengaja mengunyah kerupuknya agak kencang, mencoba memecah keheningan yang mencekik itu.
"Pa, Ma, kemarin Elara abis pegang kasus kecelakaan berat di RS," buka Elara, mencoba memancing obrolan santai agar suasana agak mencair. "Pasiennya trauma tumpul perut sama ada perdarahan di otak. Untung bisa slamet setelah operasi empat jam."
Hadi menurunkan tabletnya sedikit, menatap Elara dengan senyum tipis yang dipaksakan. "Bagus kalau begitu, Ra. Kamu harus selalu fokus kalau di ruang operasi. Nyawa orang ada di tangan kamu."
"Iya, Pa. Kemarin itu bener-bener critical banget jalurnya," lanjut Elara, berniat menceritakan bagaimana dia harus berkolaborasi di meja operasi, tapi dia langsung mengerem lidahnya begitu ingat siapa rekan operasinya kemarin.
Menyebut nama 'Keanu' di rumah ini adalah sebuah pantangan besar.
Namun, sepertinya radar Winda terlalu sensitif pagi ini. Winda menaruh sendoknya ke atas piring, membuat bunyi ting yang agak keras.
"Kemarin ... kamu operasi bareng anaknya keluarga sebelah, kan?" tanya Winda dengan suara yang mendadak dingin.
Tatapan matanya yang tadi kosong, kini berubah menjadi tajam dan penuh luka yang mendalam.
Elara langsung membeku. Suapannya tertahan di udara.
Elara melirik Papanya yang juga langsung terdiam, meletakkan tabletnya sepenuhnya ke atas meja.
Suasana ruang makan yang tadinya dingin, kini mendadak terasa mencekam.
"Cuma tuntutan profesi kok, Ma. Pasiennya darurat banget, dan dia dokter spesialis saraf yang lagi on call kemarin," jawab Elara pelan, mencoba membela diri agar Mamanya tidak berpikiran macam-macam.
Winda mendengus pedih, matanya mulai berkaca-kaca saat emosi lama itu kembali naik ke permukaan. "Mama sudah bilang berapa kali sama kamu, Elara? Jangan pernah dekat-dekat dengan anak itu. Kalau bisa, jangan pernah bicara sama dia!"
"Ma, Elara cuma kerja—"
"Kerja atau bukan, Mama nggak peduli!" potong Winda dengan suara yang mulai bergetar karena menahan tangis. "Setiap kali Mama liat muka anak itu, atau denger suara mobilnya, d**a Mama rasanya mau pecah, Ra. Kamu lupa apa yang dilakukan orang tuanya kepada kakak kamu?!"
Elara menunduk dalam-dalam. Cengkramannya pada sendok mengencang.
Elara tentu tidak akan pernah lupa. Kejadian malam j*****m itu selalu menghantuinya.
Kakak perempuannya yang sangat dia sayangi pulang dalam keadaan hancur setelah dilecehkan oleh orang tak dikenal di gang dekat kompleks lama mereka.
Yang paling menyakitkan, orang tua Keanu—yang malam itu merupakan saksi mata satu-satunya—memilih untuk bungkam di pengadilan.
Mereka mengaku baru datang setelah kejadian selesai dan tidak melihat wajah pelaku, padahal ada tetangga lain yang bersumpah melihat mobil orang tua Keanu sudah terparkir di sana sejak awal kejadian itu berlangsung.
Kebohongan dan sikap pengecut orang tua Keanu membuat pelaku melenggang bebas tanpa hukuman, sementara Erika depresi berat hingga akhirnya memilih mengakhiri hidupnya sendiri setahun kemudian.
"Orang tua Keanu itu penjahat, Ra," suara Winda kini melemah, berubah menjadi isakan kecil yang menyayat hati. "Mereka membiarkan pembunuh kakakmu bebas. Mereka membiarkan keluarga kita hancur seperti ini. Dan, sekarang, anaknya dengan nggak tahu malu tetap tinggal di sebelah rumah kita, menolak pindah seolah-olah mereka tidak pernah punya dosa!"
Hadi langsung menggeser kursinya, mendekat ke arah Winda dan merangkul pundak wanita itu yang mulai terguncang karena tangis.
Hadi menatap Elara dengan pandangan yang sarat akan beban berat.
"Ra, Papa tahu kamu profesional di rumah sakit. Tapi tolong, hargai perasaan Mamamu," ucap Hadi dengan suara berat yang terdengar sangat lelah. "Papa juga sudah coba bicara sama orang tua Keanu dulu untuk menyuruh anak mereka pindah rumah. Tapi, Keanu-nya sendiri yang keras kepala menolak pindah dari sini. Papa nggak tahu apa mau anak itu sebenarnya. Jadi, satu-satunya cara adalah kamu yang harus jaga jarak."
Elara menelan ludah yang rasanya sesak di tenggorokan.
Rasa bersalah langsung menghantam dadanya dengan telak.
Elara teringat kejadian kemarin sore saat Keanu dengan santainya memarkirkan mobilnya, juga kejadian di ruang operasi saat pria itu membantunya menyelamatkan pasien, bahkan secangkir kopi hangat yang ditinggalkan Keanu di ruang istirahat dokter.
Untuk sesaat, Elara merasa mengkhianati keluarganya sendiri karena sempat merasakan debaran aneh di dekat Keanu.
‘Gue nggak boleh lupa,’ batin Elara, mencoba mempertegas kembali dinding kebencian yang sempat agak goyah di dalam hatinya. ‘Keanu itu anaknya orang yang udah ngehancurin hidup kakak gue. Mau dia sekeren apa pun di RS, dia tetep bagian dari masa lalu yang berdarah ini.’
"Iya, Pa. Ma," jawab Elara akhirnya, suaranya terdengar serak. "Elara janji bakal profesional aja di RS. Di luar itu, Elara nggak bakal sudi berhubungan sama dia lagi."
Winda menghapus air matanya dengan tisu, lalu mengangguk pelan sembari mencoba menenangkan diri.
Namun, nasi goreng dan bubur di atas meja kini sudah benar-benar mendingin.
Selera makan mereka bertiga sudah lenyap, menguap bersama bayang-bayang masa lalu yang lagi-lagi berhasil merenggut kebahagiaan sejenak di rumah itu.
Elara bangkit dari kursinya, membawa piringnya yang masih tersisa setengah ke wastafel.
Elara buru-buru berpamitan untuk berangkat ke rumah sakit, karena kalau dia berlama-lama di rumah ini, rasa sesak di dadanya rasanya bisa membuat dia kehabisan napas sebelum sampai di tempat kerja.