Bab 4. masalah parkir

678 Words
Langit mulai menggelap ketika Honda HR-V putih milik Elara memasuki kompleks perumahan. Ia baru saja menyelesaikan jadwal poliklinik yang padat. Bahunya pegal, lehernya kaku, dan kelopak matanya terasa berat karena sejak pagi belum benar-benar beristirahat. Namun, rasa lelah itu seketika menguap. "Astaga." Elara menginjak rem pelan. Di depan rumah sebelah, Mazda hitam milik Keanu kembali terparkir dengan posisi sedikit menyerong. Tak terlalu menghalangi, tetapi cukup membuat sudut masuk ke garasinya menjadi jauh lebih sempit. Elara memijat pelipis. "Ini orang memang nggak bisa hidup tanpa bikin gue emosi." Elara menekan klakson panjang. Tiiiidd. Suara klakson memecah kesunyian sore. Tak lama kemudian, pintu rumah sebelah terbuka. Keanu keluar mengenakan kaus putih polos dan celana pendek hitam. Rambutnya sedikit berantakan, sepertinya baru bangun tidur setelah jadwal jaga malam. Pria itu berjalan santai menuju pagar. "Ada apa, Dokter Elara?" tanyanya datar. Elara menunjuk mobilnya dengan kesal. "Ada apa, katanya? Lihat parkir mobil Anda." Keanu melirik sekilas ke arah Mazda miliknya. "Lurus." "Lurus dari mana?" "Dari mata saya," jawab Keanu. Elara menarik napas dalam.n"Sudut masuk garasi gue jadi sempit." "Masih bisa dilewati." "Bisa, tapi susah," ujar Elara berusaha menahan emosi. Keanu mengangguk pelan. "Kalau begitu, masuknya pelan-pelan." Elara menatapnya tak percaya. "Serius?" "Iya." "Dokter Keanu!" "Hm?" "Saya curiga Anda memang sengaja cari perkara." "Boleh curiga." "Karena memang begitu, kan?" Keanu menyandarkan bahu pada pagar besi. "Saya tidak menyangkal atau membenarkan." Elara mendecak pelan. "Nyebelin." "Terima kasih." "Bukan pujian." "Saya tahu." Elara akhirnya turun dari mobil sambil menutup pintu sedikit lebih keras dari biasanya. "Seharian saya berdiri di ruang operasi, lanjut poli sampai sore. Pulang-pulang masih harus adu strategi parkir gara-gara Anda." Keanu memperhatikan wajah Elara beberapa detik. Lingkaran hitam di bawah mata perempuan itu tampak lebih jelas dibanding pagi tadi. Ia juga sadar, sejak operasi selesai, Elara belum sempat benar-benar beristirahat. "Kunci mobil." Elara mengernyit. "Apa?" "Kunci mobilnya." "Buat apa?" "Saya parkirkan." Elara langsung memeluk tasnya. "Siapa tahu mobil saya malah Anda bawa kabur." Keanu menghela napas pendek. "Harga mobil saya lebih mahal." "Bukan itu maksud saya." "Lalu?" "Saya nggak percaya sama Anda." Keanu mengangkat sebelah alis. "Kalau begitu, silakan parkir sendiri." Pria itu berbalik hendak masuk rumah. "Eh... tunggu." Keanu menghentikan langkahnya tanpa menoleh. Elara menggigit bibir bawahnya sesaat. "Gimana kalau lecet?" "Itu risiko." "Huft..." Dengan wajah sebal, ia melempar gantungan kunci ke arah Keanu. "Nih." Keanu menangkapnya dengan satu tangan. "Terima kasih." Tanpa banyak bicara, ia masuk ke kursi pengemudi Honda HR-V milik Elara. Mesin menyala. Sekali mundur. Sekali maju. Putaran setir yang presisi membuat mobil itu masuk ke garasi dengan mulus seolah ruangnya jauh lebih lebar dari kenyataan. Elara yang berdiri di samping pagar hanya bisa memperhatikan. "Ish... memang jago." Beberapa detik kemudian, Keanu keluar sambil memutar kunci mobil di telunjuknya. Ia melemparkannya pelan. Elara menangkapnya tepat waktu. "Sudah." Elara melirik garasinya. Mobil itu terparkir rapi di tengah. Nyaris sempurna. "Puas?" tanya Keanu. Elara berdeham pelan. "...Lumayan." "Saya anggap itu pujian." "Jangan kepedean." Keanu terkekeh lirih. "Ternyata Dokter Bedah juga bisa bilang terima kasih." Elara mendengus. "Saya belum bilang." "Oh?" Elara menatap ke arah lain sebelum akhirnya bergumam sangat pelan, "...Makasih." "Hm?" "Nggak jadi." "Saya dengar." "Wah, pendengaran Anda tajam juga." "Alhamdulillah." Elara memutar bola matanya. "Jangan besar kepala." Keanu hanya tersenyum tipis. Senyum yang hampir tidak pernah muncul saat berada di rumah sakit. "Oh ya," katanya sebelum masuk ke halaman rumahnya. "Jas saya." Elara spontan menepuk dahinya. "Hampir lupa." "Besok." "Iya." "Kalau bisa..." Keanu sengaja menggantung kalimatnya. "Apa lagi?" "Sudah dicuci." Elara menyipitkan mata. "Memangnya jas Anda mahal?" "Bukan." "Lalu?" "Saya takut baunya berubah." "Berubah jadi apa?" "Minyak angin." Elara melotot. "Saya nggak bau minyak angin!" Keanu mengangkat kedua bahunya santai. "Saya cuma berjaga-jaga." "Dokter Keanu!" Pria itu sudah membuka pintu rumah. "Selamat istirahat, Dokter Elara." "Pulang malah bikin emosi!" "Katanya emosi membakar kalori." "Keluar lagi, saya lempar sandal!" Keanu terkekeh pelan. "Besok ketemu di rumah sakit." Pintu rumah pun tertutup. Elara berdiri beberapa saat sambil memandangi pintu itu. "Nyebelin..." Ia menggeleng pelan sambil masuk ke rumah. Aneh. Harusnya ia semakin kesal. Namun entah sejak kapan, setiap kali berdebat dengan Keanu, sudut bibirnya justru semakin sering nyaris ikut tersenyum.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD