Bab 3. debat terus

1323 Words
Ketegangan di bilik IGD itu mendadak naik berkali-kali lipat, mengalahkan bunyi konstan monitor jantung pasien yang makin lama makin cepat dan melemah. Elara mencengkram pinggiran brankar, menatap Keanu dengan mata yang menyala penuh amarah profesional. "Gue tahu lo dokter saraf nomor satu di sini, Keanu. Tapi pake logika lo!" sentak Elara, suaranya tertahan tapi penuh penekanan. "Tensi pasien ini cuma 80/50. Kalau rongga perutnya nggak gue buka sekarang buat nyari pembuluh darah yang pecah, otaknya nggak bakal dapet pasokan darah sama sekali. Mau lo apain otaknya kalau jantungnya berhenti mompa?!" Elara nggak peduli lagi jika semua orang melihatnya dan bagaimana caranya berbicara dengan Keanu. Keanu tidak berkedip. Dia justru maju selangkah, membuat jarak di antara mereka makin terkikis di atas tubuh pasien yang sedang sekarat. "Dan, kalau lo asal masukin dia ke anestesi umum tanpa nurunin tekanan intrakranialnya dulu, herniasi otak bakal terjadi dalam hitungan detik setelah obat bius masuk. Lo mau menyelamatkan perutnya tapi membiarkan otaknya mati batang otak, hah?" Para residen di sekitar mereka cuma bisa saling pandang dengan muka pucat. Nggak ada yang berani melerai. Berdebat dengan Dr. Elara yang terkenal galak dan tegas itu sudah bunuh diri, apalagi ditambah mendebat Dr. Keanu yang kalau ngomong suka pake teori mutakhir yang bikin otak mulas. "Dokter ... detak jantung pasien makin turun! Bradycardia!" seru perawat penanggung jawab dengan suara panik, memutus adegan saling tatap penuh kilat antara dua dokter itu. Elara dan Keanu menengok ke arah monitor bersamaan. Angka di sana terus merosot. Ego mereka yang setinggi langit mendadak luruh, digantikan oleh insting yang sama, nyawa manusia di atas segalanya. Keanu menghela napas pendek, lalu menatap Elara dengan ekspresi yang berubah total. Dinginnya hilang, digantikan keprofesionalan yang tajam. "Kolaborasi. Kita lakukan tindakan simultan di ruang operasi. Lo buka perutnya, gue pasang monitor tekanan intrakranial dan rilis tekanannya dari kepala. Bersamaan. Gimana?" Elara tertegun sesaat. Melakukan dua operasi besar di area tubuh berbeda dalam waktu yang sama itu resiko nya gede banget. Ruang operasi bakal penuh sesak, dan koordinasi mereka berdua harus benar-benar tanpa cela. Tapi, melihat kondisi pasien yang sudah di ujung tanduk, ini adalah satu-satunya kesempatan. "Oke," jawab Elara cepat tanpa ragu. Dia menoleh ke arah residennya. "Telepon OK (Ruang Operasi) utama sekarang! Siapkan dua tim, tim bedah umum dan tim bedah saraf. Bilang kita masuk dalam dua menit!" Suasana di dalam Ruang Operasi Nomor 3 terasa begitu intens. Aroma cairan antiseptik dan mesin sterilisasi menusuk hidung. Elara sudah berganti pakaian operasi lengkap dengan gaun hijau, masker, dan penutup kepala. Di seberang meja operasi, Keanu juga sudah siap dengan pakaian yang sama. Hanya mata mereka yang terlihat, saling mengunci di atas tubuh pasien yang sudah ditutup kain steril hijau, menyisakan area perut dan kepala yang siap disayat. "Pisau bedah," pinta Elara tegas kepada perawat instrumen. Begitu logam dingin itu berpindah ke tangannya, Elara menarik napas panjang. Begitu dia menyayat kulit perut pasien, semua kebenciannya pada Keanu menguap begitu saja. Di matanya saat ini hanya ada organ, darah, dan misi untuk menghentikan kematian. Tangannya bergerak dengan kecepatan luar biasa namun sangat presisi. Begitu rongga perut terbuka, darah segar langsung menyembur. "Suction! Cepat! Klem arteri di sana!" perintah Elara bertubi-tubi. Tangannya dengan lincah mengubek-ubek rongga abdomen, mencari sumber perdarahan di area limpa yang ternyata robek parah. Sementara itu, di sisi kepala pasien, Keanu bekerja dengan ketenangan yang hampir terasa magis. Menggunakan bor khusus medis, dia mulai melubangi tulang tengkorak pasien dengan sangat hati-hati untuk mengeluarkan darah yang menyumbat dan menekan otak. Bunyi dengung bor itu berpadu dengan suara perintah-perintah pendek Elara. Dari balik maskernya, Keanu sesekali melirik ke arah Elara. Ini pertama kalinya dia melihat Elara beraksi secara langsung dalam jarak sedekat ini di meja operasi. Selama ini mereka selalu sengaja menghindari kasus yang sama karena gengsi. Keanu agak tertegun. Elara yang biasanya cerewet, suka marah-marah kalau dituduh yang enggak-enggak, dan impulsif di luar, ternyata berubah total saat memegang pisau bedah. Perempuan itu terlihat sangat fokus, berani, dan setiap gerakannya efisien tanpa ada yang terbuang sia-sia. Ada binar penuh tekad di mata bulat itu yang membuat Keanu mendadak salah fokus selama satu detik, sebelum akhirnya dia menggelengkan kepala untuk kembali fokus pada mikroskop operasinya. "Perdarahan di limpa sudah terkontrol. Suture, sekarang," suara Elara terdengar agak terengah-engah tapi lega. Elara berhasil menjahit pembuluh darah utama yang robek tepat pada waktunya. "Tekanan intrakranial menurun, hemodinamik pasien mulai stabil," sahut Keanu dari balik mikroskopnya. Suaranya yang berat terdengar seperti hembusan angin segar di ruang operasi yang tegang itu. Elara mendongak, menatap Keanu yang juga sedang menatapnya. Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun penuh sindiran kasar dan makian, Elara merasakan ada sesuatu yang aneh menyelinap di hatinya. ‘Menyebalkan sih, tapi cowok robot ini emang harus diakui kehebatannya,’ batin Elara, sedikit tidak rela mengakui keunggulan musuhnya itu. Operasi maraton yang memakan waktu empat jam itu akhirnya selesai dengan sukses besar. Pasien dipindahkan ke ruang ICU dalam kondisi stabil. Elara berjalan gontai keluar dari area kamar operasi setelah membersihkan diri. Badannya rasanya mau rontok. Dia belum sarapan, dan jam sekarang sudah menunjukkan pukul satu siang. Dengan sisa-sisa tenaga yang ada, Elara berjalan menuju doctor's lounge yang sepi, berniat untuk tidur siang sebentar di sofa sebelum jadwal polikliniknya dimulai jam dua nanti. Begitu sampai di sofa panjang, Elara langsung merebahkan tubuhnya tanpa memedulikan penampilannya lagi. Kedua matanya terpejam erat, dan dalam hitungan menit, dia sudah terlelap karena kelelahan yang luar biasa. Elara tidak menyadari ketika pintu ruangan terbuka pelan beberapa saat kemudian. Keanu masuk dengan langkah tanpa suara. Ia sudah berganti pakaian dengan kemeja kasualnya lagi, jas putihnya disampirkan di lengan. Begitu melihat Elara yang mendengkur halus di atas sofa dengan posisi tidur yang agak berantakan, satu tangannya menggantung ke lantai, langkah Keanu terhenti. Keanu berjalan mendekat. Dia berdiri di samping sofa, menatap wajah polos Elara saat tidur. Tanpa kerutan amarah, tanpa tatapan judes, Elara terlihat sangat rapuh. Jauh berbeda dengan benteng pertahanan berduri yang selalu perempuan itu pasang setiap kali berhadapan dengannya. Keanu menghela napas pelan. Dia membungkuk sedikit, mengangkat tangan Elara yang menggantung lalu meletakkannya dengan hati-hati di atas perut perempuan itu. Setelah itu, dia melepas jas putih dokternya sendiri dan menyelimutkannya ke tubuh Elara sampai sebatas d**a. "Dasar dokter keras kepala," bisik Keanu pelan, sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman tipis yang sangat jarang dia perlihatkan pada dunia. Keanu lalu meletakkan satu cup kopi hangat dan sebungkus roti isi coklat yang tadi sempat dia beli di kantin ke atas meja di dekat sofa. Keanu mengambil selembar kertas resep kosong dari kantong kemejanya, menuliskan sesuatu di sana dengan pulpennya, lalu menempelkannya di atas cup kopi. Setelah memastikan semuanya rapi, Keanu berbalik dan keluar dari ruangan dengan pelan, mengunci pintu dari luar agar tidak ada residen yang mengganggu istirahat sang dokter bedah. Satu jam kemudian, Elara mengerjapkan matanya karena alarm ponselnya berbunyi nyaring. Elara menggeliat pelan, merasa tubuhnya agak hangat. Begitu dia sadar, dia terkejut melihat sebuah jas putih asing terpasang rapi di atas tubuhnya sebagai selimut. Elara bangun dengan dahi berkerut. Dia mengangkat jas itu dan melihat emblem nama yang terbordir di bagian d**a kiri, ‘dr. Keanu Veyron, Sp.N.’ "Hah?" Elara melongo. Jantungnya mendadak berdisko tanpa izin. "Sejak kapan si robot masuk ke sini?" Matanya kemudian beralih ke atas meja. Ada kopi dan roti. Elara mengambil cup kopi tersebut dan membaca tulisan tangan yang sangat rapi, khas tulisan dokter yang masih bisa dibaca, di atas kertas resep: Diagnosis: Hipoglikemia akut akibat terlalu keras kepala di ruang operasi. Therapi: Habiskan roti dan kopi ini dalam 10 menit, atau gue laporkan ke komite medik karena lo pingsan di fasilitas umum rumah sakit. Jangan lupa balikin jas gue, jangan sampai bau minyak angin lo nempel. Elara menatap kertas itu dengan perasaan campur aduk. Pipinya mendadak terasa panas, dan dia buru-buru meminum kopinya untuk menyembunyikan senyuman kecil yang tiba-tiba muncul di wajahnya. "Gengsi banget sih jadi orang, perhatian aja pake ngancem," gumam Elara pelan, mengetuk-ngetuk cup kopi itu ke bibirnya sambil menatap ke luar jendela koridor, di mana dia bisa melihat mobil Mazda hitam milik Keanu terparkir di bawah sana.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD