“Ini yang mana lengkuas yang mana jahe?” Luna bertanya kepada dirinya sendiri dengan keheranan. Di tangannya kini terdapat kedua jenis rempah yang terlihat mirip di matanya.
Satu-satunya penyesalan yang kini terlihat begitu menyiksanya adalah dirinya tak menaruh minat pada kegiatan masak-memasak, padahal ibunya sudah kerap kali menyuruhnya untuk belajar memasak.
“Apa telepon Mama aja ya?” gumamnya pelan. Keningnya berkerut dalam tampak berpikir dalam.
Ah, tidak. Tidak. Bisa-bisa aku diceramahin sama Mama, batin Luna seraya menggeleng keras.
Tak ingin ambil pusing, Luna pun menaruh kedua bumbu dapur itu ke dalam keranjang belanjaan. Tangannya pun merogoh sebuah kertas kecil yang berisi tulisan tangan dari Mbok Marni, yang ia dapatkan setengah memaksa.
Wanita setengah baya itu menuliskan beberapa daftar apa saja yang perlu dibeli, yang sebagian besar bisa didapatkan di Supermarket.
“Ada yang harus dibeli di Pasar Modern, tapi itu biar saya aja, Bu.” Mbok Marni berkata sesaat setelah menyerahkan daftar belanjaan beberapa saat yang lalu.
Luna pun setuju dan tak menunjukkan keberatan, karena ia sebenarnya juga tak pernah menginjakkan kaki di pasar modern, apalagi pasar tradisional. Membayangkannya pun tak bisa.
Jadilah ia pergi ke supermarket yang kebetulan letaknya tak jauh dari rumah. Luna mendorong trolley belanjaan dengan santai, menyusuri setiap koridor per kategori sambil sesekali melihat catatan kecil dari Mbok Marni.
Surprisingly, ia cukup menyukai kegiatan ini. Dimana ia bisa bersantai tanpa perlu memikirkan hal lain yang kadang kala masih mengganggu pikirannya. Luna bahkan menambahkan beberapa item di luar daftar belanjaan.
Hingga sampailah ia pada sebuah kategori berbagai aneka daging. Luna tahu bahwa Mbok Marni tidak menuliskan daging ke dalam list belanjaan, tapi langkah kaki Luna tiba-tiba berhenti dan matanya tertuju pada susunan daging yang sudah dikemas rapi dan dibeli label harga.
Seumur-umur, ia tak pernah melihat daging dengan mata berbinar seperti ini.
“Dagingnya masih fresh banget, Bu.” Seorang pramusaji berkata padanya.
Luna mendongak lalu membalas senyum ramah pria yang mengenakan seragam abu-abu, lengkap dengan celemek yang melilit tubuhnya.
“Ada daging apa aja ini, Bang?” tanyanya.
“Ada daging buat bikin sop, potongannya sudah disesuaikan dengan segala jenis hidangan yang dicari. Ada Slice Beef juga kalau ibu mau bikin yakiniku atau teriyaki, ada wagyu versi premium lokal kalau Ibu mau bikin steak ala-ala di rumah.”
Di tempatnya berdiri, Luna hanya manggut-manggut dan menatap takjub berbagai potongan daging sapi beserta jenisnya.
Tapi aku kan belum bisa bikin rendang, dan kata Mbok Marni, untuk daging biar dia yang belanja di pasar. Luna membantin.
Namun, karena dirinya sudah berdiri terlalu lama di etalase daging, ia putuskan mengambil satu kotak berisi 500 gram daging slice karena hanya itu yang bisa ia buat berkat terus makan di sebuah restoran all you can eat.
“Luna?”
Seseorang memanggilnya, Luna sontak berbalik dan terkejut begitu melihat ibu mertuanya tengah berdiri di hadapannya.
“Mama? Ada disini juga?”
“Justru Mama yang nyamperin kamu kesini,” ujarnya seraya mendekat.
“Mama tahu dari mana?”
“Tadi Mama ke rumah, kata Mbok Marni kamu lagi ke supermarket buat belanja bulanan gantiin si Mbok.”
“Oh, iya, Ma. Aku tadi minta Mbok buat bikinin daftar belanjaan yang bisa aku cari di supermarket soalnya aku juga lagi nggak ada kerjaan kan,” jelas Luna tak sepenuhnya jujur.
“Begitu? Kirain karena kamu lagi pengen belajar masak makanan kesukaan suamimu.”
Luna sontak menoleh dan mendapati ibu mertuanya kini tengah mengulum senyum dan memicingkan matanya dengan sorot mata penuh arti.
“Mama kok tahu sih?” Pipi Luna perlahan berubah menjadi merah.
Ambar tertawa renyah. “Mbok Marni tadi cerita. Nggak usah malu begitu lah, kamu kan istrinya. Kalau bukan kamu, siapa lagi?”
Bener juga sih! Luna membenarkan dalam hati dan ia pun terkekeh pelan menanggapinya.
“Ya udah, belanja bareng Mama aja yuk!”
Tanpa menunggu jawaban Luna, wanita setengah baya itu sudah lebih dulu menggamit lengan Luna dan mengajaknya berjalan beriringan.
“Eh, nggak apa-apa Ma? Takutnya Mama sibuk di rumah.”
“Alah memangnya Mama sibuk apa sih di rumah. Lagian kasian kamu belanja sendirian. Seharusnya Yudha yang nemenin.”
Mendengar itu Luna meringis pelan.
“Mama tahu.”
“Tahu apa, Ma?” Luna memandang heran.
“Yudha nggak ada di rumah. Lagi ada bisnis trip ke Hong Kong.”
“Kok Mama tahu?”
“Dari Papa. Dia yang mengutus Yudha untuk terbang ke Hong Kong karena ada masalah urgent. Yudha berangkat tadi pagi kan?”
Luna menggeleng pelan. “Tadi malam, Ma.”
“Tadi malam? Kata Papa flight-nya itu pagi kok.” Ambar menghentikan langkahnya dan menatap Luna dengan keheranan.
Mendengar itu air muka Luna seketika berubah. Jika apa yang dikatakan oleh mertuanya benar, lalu kenapa Yudha buru-buru pergi padahal masih ada waktu beberapa jam sampai waktu keberangkatan?
“Oh mungkin sekretarisnya udah nemuin flight yang paling pagi makanya dia harus berangkat ke bandara malam itu juga,” kata Ambar cepat-cepat.
Namun agaknya hal itu tidak terlalu membuatnya berhenti berpikir keras.
“Sudah, jangan dipikirkan. Yudha memang begitu orangnya. Sulit kalau diajak komunikasi. Sama seperti papanya.” Ambar kembali mengajaknya melangkah.
Selagi berjalan. Sayup-sayup ia mendengar Ambar terus berceloteh namun semua itu tertutup karena kebisingan dari kepalanya sendiri.
“Lun? Luna? Jangan jalan terus nanti nabrak.”
Tepat sebelum ia menabrak section milk and vegetables, Luna menghentikan trolley-nya. Ia pun segera menoleh dan mendapati mereka sudah melewati barisan section per-kopi-an dan dan sudah berada di ujung.
“Kamu ngelamunin apa, Lun? Sini cerita sama Mama.” Ambar berkata lembut
Luna mengerjapkan matanya pelan. “Oh, nggak kok, Ma. Maaf tadi Luna nggak ngeliat kalau kita udah di ujung.”
“Kenapa minta maaf? Santai saja. Sini gantian, biar Mama aja yang bawa trolley-nya.”
Dalam sekejap pun trolley belanjaan yang sudah hampir penuh itu berpindah tempat.
“Sebenarnya aku kepikiran sesuatu sih,” ujar Luna kemudian seraya menoleh ke arah ibu mertuanya. “Kita menikah sudah beberapa bulan tapi kok Mas Yudha belum luwes sama aku. Seperti ada sesuatu yang membentang diantara kita.”
Ambar menatap Luna lekat. “Luna, waktu bulan madu kemarin, kalian sudah berhasil tidur berdua?”
“A-apa, Ma?” tanya Luna terbatuk-batuk. Tak menyangka dengan pertanyaan balik dari ibu mertuanya.
“Itu loh. Tidur berdua. Gitu-gituan.” Wanita setengah baya itu bahkan memeragakan kedua tangannya yang saling beradu.
“Mama ….” Semburat merah pun tak kuasa muncul di kedua pipi Luna.
“Itu artinya sudah ya?”
Luna mengangguk malu dan tanpa menatap ibu mertuanya yang kini sudah mengembangkan senyumannya.
“Kalau begitu, tinggal tunggu waktunya aja.”
“Maksudnya, Ma?”
“Seperti yang sudah Mama bilang kalau Yudha itu agak susah komunikasinya. Dan kalau sampai kalian sudah tidur berdua. Seharusnya nggak lama lagi akan membuka jalan kalian. Apalagi kalau sudah punya anak.”
Sejurus kemudian, semburat di pipinya memudar dan digantikan dengan raut wajah kecemasan.
“Tapi, aku belum hamil juga, Ma.”
“Itu kan nanti, Lun. Sekarang Mama juga nggak minta buru-buru kok. Nikmati aja waktu kalian berdua, Sayang. Sekarang Mama mau bantu kamu buat masakin Yudha makanan kesukaannya.” Ambar menatap Luna dengan pandangan penuh arti.
Perkataan ibu mertuanya itu cukup membuat kecemasannya menghilang. Sungguh benar apa yang dikatakan oleh sahabatnya, bahwa jika masalahnya bukan di mertua atau pun di finansial, maka masalahnya adalah pada suaminya sendiri.
Namun, jika ia mendapati support system seperti ibu mertuanya saat ini. Maka angin badai yang datangnya dari suaminya pun akan ia hadapi!
“Makasih ya, Ma. Semoga Mama dikaruniai cucu paling ganteng dan cantik serta lucu sedunia.”
Ambar pun tertawa lalu mengaminkan paling keras.
***