Amira mengusap lengannya begitu mereka memasuki lobi hotel yang hangat. Lobi itu luas, dengan lampu gantung kristal yang memantulkan cahaya keemasan. Para staf mengenakan seragam rapi dan langsung menyambut mereka dengan senyum sopan. “Eoso Osipsio,” kata resepsionis sembari menunduk. Dimas menunjukkan reservasi yang sudah ia pesan jauh hari. Setelah beberapa menit proses check-in, seorang bellboy mengantar mereka ke lift menuju lantai atas. Begitu pintu kamar terbuka, Amira terdiam. “Mas… ini mewah banget,” suaranya hampir berbisik. Kamar itu luas, dengan king size bed berlapis seprai putih bersih dan selimut tebal yang tampak sangat nyaman. Ada sofa panjang, TV layar besar menempel di dinding, serta mini bar kecil dengan deretan minuman yang tertata rapi. Namun yang paling memukau a

