Bab 48

1187 Words

Langit Seoul tampak pucat, sejuk, dan bersih ketika Dimas dan Amira melangkah menuju Namsan Tower. Udara dingin menggigit kulit, tapi bagi Amira semuanya tetap terasa menyenangkan, hingga jalanan mulai menanjak curam. Nafasnya terdengar lebih berat, langkahnya melambat. “Amira, kamu yakin masih kuat?” tanya Dimas sambil menoleh, melihat wajah istrinya yang mulai memerah karena lelah. “Masih jauh, lho.” Amira menghela napas panjang. “Aku nggak nyangka… sejauh ini,” keluhnya sambil tertawa kecil, tangannya bertumpu di lutut. Dimas tertawa, suaranya ringan dan hangat. “Padahal tadi Mas udah tawarin naik kereta gantung. Tapi seseorang bilang mau menikmati jalanan Seoul.” Amira memanyunkan bibir. “Aku kira cuma nanjak dikit. Ternyata…” Ia melambaikan tangan lemah, seolah menyerah pada medan

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD