Bab 33

1081 Words

Di halaman, mobil hitam sudah menunggu. Raka berdiri di sampingnya, siap membuka pintu untuk Dimas. Begitu Dimas duduk, Raka masuk ke kursi pengemudi dan menyalakan mesin. “Pagi, Pak,” sapanya singkat. “Pagi.” Dimas bersandar, menatap jalanan yang mulai ramai. Beberapa menit mereka hanya terdiam, mobil melaju dengan ritme stabil. Namun pikiran Dimas jelas tak tenang. Ia akhirnya memecah kesunyian itu. “Raka, bagaimana perkembangan Chintya?” Nada suaranya datar, namun ada ketegangan di baliknya. Raka melirik sekilas melalui kaca spion. “Sejauh yang saya cek tadi pagi, Chintya masih bersikeras kalau dia nggak melakukan penabrakan itu dengan sengaja.” Dimas mendengus pendek. “Masih dengan alasan itu?” “Iya, Pak,” jawab Raka. “Katanya dia kehilangan kendali mobil. Tapi polisi sudah mela

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD