“Kenapa aku seperti ini…” gumamnya pelan sambil tersenyum malu. Ia menaruh beberapa mawar ke dalam vas pertama, merapikannya sedikit hingga terlihat simetris. Tangannya bergerak pelan, seolah merangkai kenangan yang ingin ia simpan baik-baik. Dan setiap vas yang ia isi, hatinya terasa lebih ringan, lebih hangat, seolah kegiatan sederhana ini benar-benar membantu melupakan bayangan kecelakaan kemarin yang sempat menghantuinya. “Dimas benar…” bisiknya. “Ngisi waktu memang bisa bikin aku lupa hal-hal buruk.” Ia berdiri sebentar untuk mengambil vas kaca terakhir. Saat kembali duduk, ia menatap rangkaian bunga yang telah ia selesaikan. Warnanya lembut, padu, dan terasa hangat, lebih cantik dari yang ia bayangkan. “Cantik banget…” katanya lirih. Amira meletakkan vas terakhir di atas meja,

