Waktu berlalu dengan lambat, hari sudah tengah malam. Udara begitu dingin hingga sendi-sendi Amira terasa nyeri. Ia baru saja menyelesaikan selimut tebal terakhir yang ia cuci. Tangannya pegal, punggungnya berdenyut, dan perutnya seperti diremas dari dalam. Rasa lapar itu menusuk, membuat tenggorokannya terasa sangat kering.
Dengan langkah lunglai, Amira masuk ke dalam rumah. Ruang tengah sudah gelap lampu sudah dimatikan. Sepertinya Bella dan Pandu sudah tidur. Ia menelan ludah yang pahit, lalu berjalan perlahan menuju dapur.
Setiba di sana, kegelapan menyambut, tapi Amira bisa melihat siluet meja makan yang tertutup tudung saji. Ia membuka perlahan, berusaha tak menimbulkan suara.
Cahaya redup dari luar jendela memantul pada piring berisi ayam goreng, kue basah, dan sisa nasi yang masih utuh. Makanan itu banyak. Lebih dari cukup.
Perutnya mencengkeram lagi. Tangannya gemetar.
“Sedikit saja,” bisiknya pada diri sendiri.
Ia mengulurkan tangan, namun tiba-tiba terhenti. Ketakutan merayap ke dadanya.
Bella selalu menghitung apa pun yang masuk ke dapur. Bahkan sepotong kecil roti pun takkan luput dari perhatiannya. Jika besok ada yang berkurang… Amira pasti akan dimarahi. Atau lebih buruk, diusir dari rumah itu.
Amira menarik kembali tangannya dengan helaan napas gemetar. Tubuhnya lemas, tapi rasa takut lebih kuat dari rasa lapar.
Ia menutup perlahan tudung saji itu. Namun sebelum sempat berbalik, terdengar suara langkah pelan dari arah ruang tengah.
“Ngapain kamu di sini?” tanya Pandu cukup membuat lutut Amira hampir goyah.
Amira terpaku terkejut, ia menoleh dan melihat Pandu di sana. Matanya menatap liar, pakaian lusuh Amira yang sudah seharian tak diganti. Menempel lekat pada tubuhnya yang kurus dan kotor. Tapi itu tidak membuat Pandu tidak teransang melihatnya.
“A-ah maaf Pak, saya hanya ...” ucapan Amira terhenti saat Pandu berjalan pelan mendekatinya.
Pandu melihat tudung makan yang tertutup lalu membukanya dengan mudah.
“Kau lapar?” tanyanya sok perhatian. Padahal Pandu tahu jika Amira sangat kelaparan. Terlebih saat mata Amira langsung berbinar dengan menelan salivanya cukup sulit.
“Makanlah,” ucapnya lagi. Amira mengangkat wajahnya menatap Pandu seolah bertanya dari matanya.
Pandu hanya tersenyum sinis lalu berjalan melewati Amira, mengambil gelas dan menaruhnya di bawah mesin kopi. Suara mesin kopi yang berputar membuat Amira terpaku bingung.
“Apa yang kau lakukan? Makanlah, lagi pula besok juga akan dibuang,” ucap Pandu melihat Amira yang hanya berdiri tak bergerak sedikit pun.
Langkahnya kembali mendekat, ia menunduk mendekatkan wajahnya ke telinga Amira sambil berbisik, “Sayang ... kalau dibuang,” gumamnya setengah berbisik membuat tubuh Amira bergidik.
Namun, rasa lapar yang menggerototi perut Amira membuatnya hilang pikiran. Ia pun segera duduk dan mengambil piring, mengisinya dengan nasi lalu melahap sepotong ayam goreng yang sudah dingin.
Waktu berlalu hingga suapan terakhir tertelan masuk ke dalam perutnya. Amira hendak mengambil minum, namun tubuhnya membeku saat jemari Pandu menyentuh pipinya.
“Kau haus?” tanya Pandu. Suaranya begitu menjijikan hingga membuat Amira ingin memuntahkannya lagi. Tapi ia tak bisa menolak saat Pandu mendekatkan wajahnya, lalu mencium bibirnya dengan liar.
Namun, suara jeritan Bella yang muncul dari arah kamar membuat suasana membeku seketika.
“Pandu!! Apa yang kau lakukan?!”
Suara hak tinggi menghentak lantai, dan sebelum Amira sempat memahami apa yang terjadi, Bella sudah berdiri di belakang mereka, wajahnya merah padam dan mata membelalak histeris.
“PEREMPUAN GAK TAU DIRI!!” teriak Bella sambil menunjuk Amira dengan tangan gemetar. “Kau berani menggoda suamiku di belakangku?! Begitu rendahnya kau?!”
“Bu… b-bukan… saya—” suara Amira hanya pecahan retak. Ia segera berdiri merapihkan pakaiannya.
“DIAM!!” Bella meraung, suaranya pecah karena emosi. “Aku lihat sendiri! Kau pikir aku bodoh?! Kau pikir aku nggak tahu jenis gadis kayak kau?!”
Amira menggeleng keras, air matanya jatuh tanpa bisa ditahan. Ia ingin bicara, ingin menjelaskan, ingin menyelamatkan dirinya.
Tapi Pandu hanya berdiri diam. Tidak menyangkal. Tidak membela. Tidak mengatakan apa pun yang bisa menyelamatkan Amira.
Diam. Dan diamnya lebih kejam dari apa pun.
Bella mendekat, menampar Amira dengan keras. Memukul tubuh Amira yang langsung terjatuh tanpa bisa melawan.
“Dasar jalang! Berani sekali kau menggoda suamiku!” pekik Bella terus memukul, menendang dan menjambak rambut Amira.
“Nggak Bu, saya .... nggak pernah begitu,” ucap Amira mencoba membela diri. Tapi suaranya terlalu pelan.
“Jangan mengelak! Kau pantas mendapatkan hukuman!” Bella yang kehilangan kewarasannya mengambil tongkat golf yang memukul Amira.
Darah mengalir dari pelipis Amira, bibirnya robek. Tangannya terluka dari setiap pukulan yang ia terima dari Bella.
Dan itulah yang memecahkan kendali Amira. Ketakutannya pada Pandu, bentakan Bella, tubuhnya yang lemah, rasa malu, rasa sakit semuanya bergumpal menghancurkan pertahanannya. Ia mendorong Bella kuat, bangkit dan berlari dari rumah itu.
Lari tanpa melihat apa pun, tanpa alas kaki, tanpa membawa barang-barangnya. Lari dari ancaman, dari tuduhan, dari ketakutan yang menelan sisa hidupnya.
Ia berlari melewati gerbang, menembus malam, menembus udara dingin, menembus rasa sakit di tubuhnya yang memar.
Hujan mulai turun. Pertama rintik. Lalu deras. Air hujan memukul wajahnya, mencuci air matanya yang tak pernah berhenti. Jalanan gelap, lampu-lampu berpendar kabur di matanya yang basah.
Ia tidak tahu sudah sampai di mana. Tidak tahu seberapa jauh ia berlari. Hanya tahu bahwa seluruh tubuhnya sakit, nyeri, dan seolah pecah dari dalam.
Di pinggir jalan, ia berhenti. Napas tersengal. Tangannya memegang d**a yang terpukul rasa hancur.
“Kenapa… hidupku… begini?” bisiknya, suaranya patah oleh isak. “Apa salahku?”
Hujan mengguyur dirinya tanpa belas kasihan. Namun tak lebih kejam dari nasib yang menimpanya.
Amira menatap kosong ke depan. Kemudian melangkah menyusuri jalan raya, lunglai, tanpa arah.
Hingga dari kejauhan, suara klakson meraung keras. Lampu mobil menyorot tubuhnya. Terlalu dekat. Terlalu cepat.
Amira menoleh terlambat. Kakinya lemas. Kepalanya berputar. Dan sebelum mobil itu sempat berhenti sepenuhnya.
Tubuh Amira terjatuh ke samping, pingsan di jalan basah, rambutnya menempel di wajah pucatnya, sementara hujan terus turun tanpa henti.
Mobil itu berhasil berhenti tepat di depan tubuh Amira. Di balik kemudi, seorang pria terkejut besar.
“Ya Tuhan… apa dia sudah gila?”
Pria itu keluar dari mobil, berjalan dengan payung yang sudah terbuka. Ia berlutut dan menyentuh tubuh Amira. Wajah pria itu terkejut melihat betapa berantakannya Amira yang pucat seolah tak punya harapan hidup.