Bab 4

1066 Words
Amira terbangun perlahan, kelopak matanya terasa berat seolah dunia menahannya untuk tetap terpejam. Ia berbaring di sebuah ranjang putih, selimut rumah sakit menutupi tubuhnya yang masih sakit di banyak bagian. Lampu redup di langit-langit menyorot wajahnya, membuat pandangannya sedikit berkunang. “Di mana aku?” pikirnya panik. Ketika ia mencoba bangun, pintu kamar terbuka perlahan. Seorang pria muda, sekitar usia tiga puluhan masuk dengan langkah hati-hati. Wajahnya tampan, bersih, dengan sorot mata yang tenang dan serba hati-hati. Ia membawa kartu pasien di tangan. “Syukurlah kamu sudah sadar,” ucapnya lembut. “Namaku Dimas. Aku yang menemukanmu di jalan semalam.” Namun sebelum Dimas melangkah lebih dekat, Amira langsung membelalak ketakutan. “J-jangan… jangan dekat-dekat!!” serunya dengan suara pecah. Nafas Amira memburu. Tubuhnya bergetar hebat. Air matanya langsung jatuh tanpa ia sadari. Trauma yang mengurungnya semalaman langsung bangkit begitu ia melihat sosok laki-laki mendekat. “Tenang, tenang… aku nggak akan menyentuhmu,” kata Dimas cepat sambil mengangkat kedua tangannya sebagai tanda menyerah. Tapi Amira sudah terlanjur panik. Ia memeluk dirinya sendiri, merebahkan tubuh ke sudut ranjang seolah setiap inci tubuhnya meronta untuk melindungi diri. “Tolong… jangan sakiti aku… aku nggak mau… aku—” suaranya patah, terputus oleh tangisan keras yang mengguncang dadanya. Dimas langsung berhenti melangkah. Ia berdiri di tempat, memastikan jarak di antara mereka tetap aman. “Hey… hey, lihat aku sebentar.” Nada suaranya lembut, penuh empati tanpa tekanan. “Aku nggak akan menyentuhmu. Aku cuma mau memastikan kamu aman. Itu saja.” Amira menggeleng sambil tersedu, masih menatapnya dengan mata penuh ketakutan, seolah bayangan Pandu masih menempel di pelupuk mata. Dimas perlahan mundur satu langkah. Lalu satu langkah lagi. Ia menempatkan dirinya lebih jauh dari ranjang, membiarkan jarak yang cukup agar gadis itu merasa tidak terancam. “Kamu nggak perlu takut padaku,” katanya perlahan. “Aku cuma manusia biasa yang kebetulan lewat dan melihat kamu hampir tertabrak mobilku. Aku bawa kamu ke rumah sakit karena aku… nggak tega lihat kondisi kamu.” Amira masih menangis, tapi tangisannya perlahan mereda menjadi isak kecil. Getaran di bahunya masih terlihat, tapi setidaknya ia bisa bernapas sedikit lebih tenang. Dimas berbicara lagi, suaranya tetap lembut, tak sekalipun meninggi. “Kamu aman di sini. Dokter sudah periksa tubuhmu. Nggak ada yang bakal menyakitimu.” Ia menyandarkan punggung ke dinding, menjaga jarak aman. “Aku nggak akan mendekat… kecuali kamu yang minta. Aku cuma mau menolong, itu saja.” Amira menatapnya dari balik air mata. Masih takut. Masih terjebak dalam bayang-bayang malam kelam itu. Tapi gerak-gerik Dimas begitu hati-hati, begitu jauh berbeda dari Pandu hingga Amira merasakan sedikit… sedikit saja… udara untuk bernapas. Namun trauma masih mencengkeram begitu kuat, seolah dunia terus memburu dirinya. Dimas menunduk sedikit. “Kalau kamu butuh waktu, ambillah. Aku nggak akan memaksa kamu bicara.” Hening memenuhi ruangan, hanya napas Amira yang tersengal-sengal. Amira duduk memeluk lutut di atas ranjang, wajahnya masih pucat. Beberapa menit berlalu dalam hening. Dimas menarik napas pelan. “Aku panggil suster dulu, ya? Biar kamu nggak sendirian.” Amira langsung panik. “Jangan!” serunya spontan. Dimas berhenti, menatapnya. “Baik… nggak apa. Aku tetap di sini.” Reaksi itu cukup membuat Dimas menyadari satu hal penting, Amira takut sendirian… tapi juga takut didekati. Dia butuh seseorang. Tapi tidak boleh terlalu dekat. Tidak boleh terlalu cepat. Jadi Dimas memilih jalan tengah. Perlahan ia bergerak ke kursi kecil di pojok ruangan, duduk di sana tanpa suara. Masih jauh dari ranjang, tapi tidak meninggalkan. Tidak menambah tekanan. “Kalau kamu haus,” katanya tanpa menatap langsung, “air minum ada di meja sebelahmu. Kamu bisa ambil sendiri, nggak usah bilang ke aku.” Tiba-tiba, suara Amira terdengar kecil. “Kenapa… kamu nolong aku?” Dimas menoleh perlahan, memastikan gerakannya tidak mengejutkan. “Karena… kamu butuh bantuan. Nggak ada alasan lain.” “Orang-orang biasanya…” Suara Amira pecah. “Biasanya cuma marah… atau… menyakiti.” Dimas mengerut pelan, namun tidak mendekat. “Aku bukan orang-orang itu.” Amira menunduk, jari-jarinya memeluk selimut. “Aku… takut.” “Aku tahu.” Dimas membalas lirih. “Kamu nggak harus percaya padaku sekarang. Aku cuma… di sini kalau kamu butuh sesuatu.” Ia berdiri perlahan sengaja memperlihatkan setiap gerakan agar Amira tidak terkejut. “Aku keluar sebentar. Aku bakal duduk di kursi depan pintu. Jadi kalau kamu butuh sesuatu… tinggal panggil. Aku nggak akan masuk tanpa izinmu.” Amira terkesiap. “K-kamu… nggak pergi?” “Nggak,” Dimas tersenyum tipis. “Aku janji.” Lalu ia melangkah keluar, menutup pintu tanpa suara. Dimas teringat ucapan dokter saat memberitahunya tentang kondisi Amira. “Pasien mengalami gizi buruk, tubuhnya dipenuhi memar, beberapa masih biru segar, sebagian lain sudah menguning tanda siksaan yang lama. Dan pelipisnya, luka itu terlalu dalam hingga harus dijahit. Dan ...” dokter terhenti seolah ragu untuk mengatakan. “Sepertinya dia juga mengalami kekerasan seksual. Kami memeriksanya dan luka pada bagian tubuhnya terlihat masih sangat baru.” *** Pagi menjelang, lorong rumah sakit masih sepi, hanya suara roda troli perawat dari kejauhan yang sesekali lewat. Dimas tertidur sambil duduk bersandar di dinding, kepalanya miring, napasnya berat karena kelelahan setelah semalaman berjaga. Ia baru tersentak ketika sesuatu yang dingin dan ringan menyentuh pipinya, ujung jari seseorang. Dimas membuka mata cepat, tubuhnya menegang. Dan di hadapannya, membungkuk dengan tubuh rapuh serta membawa tiang infus yang hampir setara tinggi tubuhnya, Amira. Rambutnya acak-acakan, wajah pucatnya menunduk. “Kau?” suara Dimas parau karena baru bangun. Amira menelan ludah, ragu-ragu, lalu berkata lirih, “Aku… aku ingin pergi dari sini.” Dimas langsung bangkit berdiri. “Kembali masuk. Kamu belum boleh jalan, kondisi kamu—” “Biaya rumah sakit pasti mahal,” potong Amira cepat, suaranya gemetar. “Aku nggak punya uang. Aku… aku nggak bisa di sini.” Dimas hendak menyentuh bahunya, tapi Amira mundur setengah langkah, ketakutan jelas terlihat di matanya. Itu membuat d**a Dimas nyeri. Amira seperti hewan kecil yang disakiti terlalu sering. “Aku bilang masuk!” Nada suaranya terlalu keras. Amira membeku. Bibirnya bergetar, matanya melebar seolah baru disambar petir. Begitu melihat ketakutan itu, Dimas langsung tersadar. “Maaf,” ucapnya cepat, suaranya pecah. Ia menunduk, bahunya turun, seolah ia sedang memohon. Ia mengusap wajahnya dengan telapak tangan, tapi gerakannya justru memperlihatkan air mata yang mulai jatuh tanpa bisa ia tahan. Tanpa berpikir, Amira mengulurkan tangan gemetar, ujung jarinya menyentuh pipi Dimas. Perlahan, ia mengusap air mata itu gerakan kecil, ragu, seolah ia takut Dimas menolaknya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD