Bab 5

1019 Words
Di dalam ruang VIP Amira kembali terbaring di ranjang. Infus menggantung di sampingnya, menetes pelan. Dimas duduk di kursi dekat kaki ranjang, tubuhnya sedikit membungkuk, kedua tangan saling menggenggam erat seolah menahan sesuatu yang masih membuatnya sesak. Matanya masih sembab, tapi pandangannya lembut saat mengarah pada Amira. “Maaf… kalau tadi aku membentak,” ucapnya pelan, suaranya serak. “Aku… cuma takut. Aku cuma nggak mau kehilangan lagi.” Amira menatapnya, bingung dan tak memahami maksudnya. Hingga Dimas menghela napas panjang dan mulai bercerita. “Aku punya teman waktu kecil,” katanya pelan, pandangannya menerawang ke lantai. “Dia ceria sekali… selalu ketawa, selalu lari-lari, selalu nyeret aku buat main. Aku pikir dia nggak akan pernah sakit.” Dimas tersenyum kecil, getir. “Sampai suatu hari… dia datang ke rumahku dalam keadaan luka parah. Badannya penuh memar, bajunya robek. Dia minta tolong… tapi aku masih kecil, aku nggak tahu harus apa. Dan besoknya…” Dimas menghentikan kata-katanya. Rahangnya mengeras, napasnya tertahan. “Besoknya dia meninggal,” lanjutnya dengan suara pecah. “Nggak ada pemakaman layak. Nggak ada yang peduli. Aku cuma bisa lihat… dan aku masih nyalain diri sendiri sampai sekarang.” Amira terdiam. Dulu ia pikir hanya dirinya yang hancur. Tapi melihat seorang pria dewasa bisa terluka sedalam itu… membuat hatinya bergetar. Dimas menatapnya lagi. “Aku benar-benar minta maaf. Aku cuma… takut terulang lagi.” Keheningan menyelimuti ruangan. Amira merasa tak harus mengecilkan diri. Tak merasa harus sembunyi. Ia mengambil napas perlahan, lalu berkata lirih namun jelas: “Namaku… Amira.” Dimas tersentak kecil, seolah nama itu berarti lebih dari sekadar identitas. “Aku kehilangan orang tuaku karena kebakaran,” lanjut Amira. “Setelah itu… " “Amira… cukup.” Amira menahan isak, menunduk. Dimas menggeleng pelan, suaranya lembut namun tegas. “Kamu nggak perlu ceritain hal yang bikin kamu sakit. Aku sudah bisa nebak… dan itu cukup untuk bikin aku marah setengah mati.” Ia mencondongkan tubuh, namun tetap menjaga jarak aman. Tatapannya jujur, penuh tekad. “lupakan semua yang menyakitkan itu… mulai sekarang.” Ia menunduk sedikit, suaranya turun lebih lembut, hampir seperti janji suci. “Mulai hari ini… aku yang akan melindungin kamu. Tugasku adalah bikin kamu aman, nyaman dan hidup tanpa takut lagi.” Perlahan, Dimas bangkit dari kursinya. Ia tidak mendekat terlalu jauh, sekitar satu langkah dari ranjang, cukup dekat untuk menawarkan, cukup jauh agar Amira tidak merasa terpojok. Kemudian ia mengulurkan tangannya. Telapak tangannya terbuka, tenang, tidak tergesa. “Amira… Kalau kamu mau… aku bisa bantu kamu mulai hidup yang baru.” Amira mengangkat wajahnya pelan, menatap tangan itu. Jemari Dimas panjang dan kokoh, tapi tidak ada ancaman di sana hanya kehangatan yang ragu-ragu ia jangkau. Dimas tersenyum kecil, samar, seolah ia sendiri takut merusak momen itu. “Aku nggak minta kamu percaya penuh sekarang. Aku cuma minta… izinkan aku berada di sisi kamu. Izinkan aku bantu kamu bangun lagi.” Amira menelan ludah. Hatinya berdegup cepat, bukan karena takut tapi karena sesuatu yang asing, rasa aman. Rasa yang sudah bertahun-tahun tak ia rasakan. Tangannya gemetar ketika ia menatap telapak tangan Dimas yang masih terulur. Perlahan Amira akhirnya mengangkat tangannya. Jemarinya mendekat, ragu di ujung gerakan, seolah tubuhnya masih menunggu sesuatu yang buruk terjadi. Namun Dimas hanya menatapnya lembut. Menunggu. Dan ketika ujung jari Amira menyentuh telapak tangan Dimas… ia tidak ditolak. Ia tidak ditarik paksa. Ia hanya disambut hangat, hati-hati, seolah dirinya sesuatu yang rapuh tapi berharga. Dimas menggenggam tangan itu sangat perlahan, sangat lembut. Seolah takut Amira pecah hanya dengan sentuhannya. “Mulai dari sini,” bisik Dimas. “Kita mulai lagi, Amira.” *** Sebuah mobil hitam berhenti perlahan di depan gerbang besar sebuah rumah megah. Lampu taman menyinari halaman luas yang tertata rapi, membuat semuanya tampak seperti dunia yang sama sekali berbeda dari kehidupan Amira sebelumnya. Dimas turun lebih dulu, lalu membukakan pintu untuk Amira. “Turun pelan-pelan,” ucapnya lembut. Amira menjejakkan kaki di jalanan berbatu halus, matanya membelalak melihat rumah besar itu atap tinggi, jendela kaca besar, dan pintu utama yang elegan. Seperti rumah dari mimpi yang tak pernah ia bayangkan dapat disentuhnya. “Ini… rumahmu?” Amira bertanya dengan suara kecil. Dimas mengangguk. “Mulai sekarang, juga rumahmu.” Jantung Amira berdebar kencang, antara tidak percaya dan takut semuanya hanya ilusi. Namun langkah Dimas yang tenang membuatnya mengikuti tanpa ragu. Begitu pintu utama dibuka, kepala pelayan perempuan paruh baya langsung membungkuk sopan. “Selamat datang, Tuan Dimas. Dan selamat datang… Nona.” Amira tersentak, tidak terbiasa dipanggil begitu. Wina, begitulah Dimas memperkenalkannya tersenyum hangat lalu berkata, “Silakan ikut saya. Kamar Nona sudah disiapkan.” Dimas menatap Amira sejenak, memberi anggukan kecil yang meyakinkan. Amira pun mengikuti Wina menaiki tangga besar menuju lantai dua. Kamar itu… jauh lebih besar dari ruangan manapun yang pernah Amira tinggali. Tempat tidurnya besar, seprai putih bersih, karpet lembut, bahkan ada meja kecil dengan vas bunga segar. Semua tampak seperti dunia milik orang lain. Namun Wina berkata, “Semua untuk Nona. Jika butuh apa pun, panggil saya.” Saat Wina pergi, keheningan itu berubah menjadi ruang aman pertama yang pernah Amira rasakan. Perlahan ia mendekati ranjang. Ia menyentuh seprai lembut itu dengan dua ujung jari lalu dengan telapak tangannya dan akhirnya ia duduk. Empuknya luar biasa, membuat tubuhnya tenggelam sedikit. Amira menutup mulutnya, menahan tawa kecil yang tak bisa ia sembunyikan. Lama ia hidup dengan tanah, lantai kayu dingin, matras tipis lusuh rasanya ranjang ini seperti awan. Tanpa sadar, Amira bangkit dan melompat sedikit di atasnya. Sekali. Dua kali. Tiga kali. Kebahagiaan polos yang lama hilang dari hidupnya akhirnya kembali muncul. Senyum lebar terukir di wajahnya. Hingga pintu kamar terbuka. “Amira, kamu—” Dimas baru masuk, dan Amira yang sedang melompat terkejut luar biasa. Tubuhnya kehilangan keseimbangan dan melayang ke depan. “A-ah!” Belum sempat Amira jatuh, kedua lengan kuat langsung menangkap tubuhnya. Dimas menariknya ke dalam dekapan, menahan punggung dan pinggangnya agar tidak terbentur. Tubuh Amira membeku di d**a Dimas. Napasnya memburu. Sedangkan Dimas memandangnya dengan tatapan panik bercampur lega. Wajah keduanya cukup dekat, hingga mereka bisa saling merasakan hembusan napas masing-masing. Jantung Amira berdegup kencang, saat wajah Dimas mulai mendekat mata Amira perlahan terpejam.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD