Waktu berjalan cepat setelah kabar kehamilan itu. Namun bersamaan dengan kebahagiaan yang memenuhi rumah, datang pula fase baru yang tak kalah melelahkan untuk Amira maupun Dimas. Pagi-pagi di rumah itu selalu dimulai dengan suara muntah. “Amira? Kamu nggak apa-apa?” Dimas berlari ke kamar mandi begitu mendengar suara istrinya tersedak lagi. Amira memeluk wastafel dengan lemas, wajahnya pucat, rambutnya berantakan. “Aku… benci ini,” keluhnya pelan, air mata mengumpul. Dimas menahan napas, mengusap punggungnya dengan lembut. “Nggak apa-apa. Itu normal… tapi kamu harus makan sedikit, ya?” Amira menggeleng cepat, nyaris kabur dari aroma tubuh suaminya. “Jangan dekat-dekat… wangimu bikin aku mual.” Dimas terdiam sepersekian detik, kaget juga. Tapi ia tersenyum meski hatinya sedikit tersa

