Bab 57

1138 Words

Hari itu bermula dengan begitu tenang. Matahari yang hangat menembus tirai kamar, dan Dimas sedang bekerja dengan laptopnya di meja kecil dekat ranjang. Ia sudah memutuskan untuk bekerja dari rumah sejak usia kandungan Amira memasuki sembilan bulan. Namun ketenangan itu pecah dalam sekejap. “Mas!!” suara Amira mendadak meninggi, panik. “Mas, air… airnya keluar! Mas, ketubanku—” Dimas langsung terangkat dari kursinya, hampir menjatuhkan laptopnya sendiri. Ia melihat Amira berdiri kaku sambil memegang perut besarnya, air merembes turun membasahi lantai. “Oh Tuhan…” Dimas langsung mendekat, tangannya gemetar tapi bergerak cepat. “Amira, tenang, sayang. Kita harus ke rumah sakit sekarang!” Amira mengerang, wajahnya menegang menahan sakit yang mulai datang bergelombang. “Mas… sakit… aduh M

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD