Sehari setelah persalinan, Amira akhirnya diperbolehkan pulang. Udara rumah sakit terasa dingin pagi itu, tetapi hati Amira hangat. Ia masih lemah, namun wajahnya berseri-seri setiap kali melihat bayinya. Dimas membantu memakaikan jaket tipis untuk Amira. “Pelan-pelan ya, sayang. Kalau sakit bilang.” Amira tersenyum kecil. “Aku bisa, Mas… cuma masih agak gemetar.” Dimas mendekat, mencium keningnya. “Ya sudah, aku bantu semuanya.” Di samping mereka, Agus sudah siap menggendong Adrian yang terbungkus bedong biru. Pria itu tampak bahagia bukan main, wajahnya tak berhenti tersenyum sejak semalam. “Wah cucu Om ini anteng banget. Bener-bener nurun Amira, ya kalem,” seloroh Agus sambil mengayun pelan. Dimas melirik geli. “Om, hati-hati. Itu hasil saya juga, tahu.” Agus tertawa. “Iya-iya, k
Download by scanning the QR code to get countless free stories and daily updated books


