Angin sore di tepi Sungai Han berhembus lembut, membawa aroma air dan dedaunan yang basah. Amira duduk di bangku kayu sambil menatap kosong ke permukaan sungai yang berkilau memantulkan cahaya lampu dari seberang. Matanya masih merah, bekas air mata yang belum sepenuhnya kering. Dimas kembali dari kios kecil tak jauh dari mereka, membawa dua es krim dalam genggamannya. “Amira,” panggilnya lembut sambil menyodorkan es krim vanilla. “Coba makan ini dulu.” Amira menatap es krim itu sekilas, lalu mengambilnya dengan tangan gemetar. “Terima kasih,” suaranya hampir tak terdengar. Dimas duduk di sampingnya, jaraknya begitu dekat, seolah ingin memastikan Amira merasa aman. Untuk beberapa saat, hanya suara aliran sungai dan langkah orang-orang yang lewat yang terdengar. Amira menggigit sedikit e

