Sejak menemukan fakta bahwa kakak kelas yang biasa mereka panggil Abi itu adalah Byantara, Aysha selalu uring-uringan. Ia kesal karena ternyata orang yang dia taksir adalah orang yang namanya selalu hadir di mimpi buruknya saat dia di Sekolah Dasar dulu, sampai sekarang sih sebenarnya, namun sudah sangat jarang.
"Arrghhh!" teriak Aysha di dalam bantal tidurnya, ia meredam suaranya, tak ingin sampai terdengar oleh ibu atau ayahnya.
Sesungguhnya Aysha sendiri tak begitu ingat mengapa ia bisa begitu kesal pada Byantara. Karena sebagian memorinya justru menggambarkan, Byantara sebagai pelindungnya dari gangguan anak-anak nakal di kelasnya.
Daripada pusing memikirkannya, Aysha memilih menenangkan pikirannya dengan bermain ponsel, diraihnya ponsel yang tengah diisi daya itu melepas kabelnya dan mulai mengaktifkan layarnya. Aplikasi i********: adalah yang tujuannya.
Aysha mengambil poto selfie dirinya yang sedang tiduran sambil memeluk boneka bunny kesayangannya. Mengeditnya di sana sini, kemudian mengunggahnya di aplikasi tersebut.
Tak lama, bunyi notifikasi dari akun instagramnya mulai bersahutan. Banyak like dan komen dari teman-teman SMP nya dahulu dan beberapa teman sekelasnya saat ini.
Salah satu yang menarik perhatian Aysha adalah permintaan pertemanan dari sebuah akun yang bernama Gue_radhit. Aysha yang memang mengunci akun Instagramnya segera membuka akun itu untuk memastikan siapa pemilik akun tersebut.
Aysha tersenyum saat mengetahui si pemilik akun adalah Ketua OSIS di SMA nya, segera saja ia menerima dan membalas mengikuti akun itu.
Ting...
Suara notifikasi Direct Message dari Instagramnya berbunyi.
Gue_radhit
'Terima kasih sudah menerima pertemanan. Follow back ya.'
Aaysha
Sama-sama Kak. Udah saya follow balik :)
Gue_radhit
'Thanks kalau begitu.
Btw, kamu tinggal di mana sih, Ra?'
Aaysha
Di Flamboyan Asri, Kak.
Gue_radhit
'Lho? Kita tetanggaan dong. Aku di Amarilis.'
Aaysha
Iya kah? Waah, siapa sangka, hehe.
Gue_radhit
'Save nomorku ya, 08132******
Kali aja sewaktu-waktu butuh bantuan, telpon aja.
Dah dulu ya, Ra. Sampai ketemu besok.'
Aaysha
Hehe, oke Kak, aku save.
Bye, Kak.
Aysha kembali membalasi komen dan like teman-temannya sebelum akhirnya memutuskan untuk beranjak tidur.
---
"Hei ..., baru sampai juga?"
"Iya, Kak." Aysha mengangguk sambil memperbaiki letak ranselnya di bahu.
"Lu tinggal di mana, sih?" Axelle mengeluarkan s**u kotak rasa taro dari kantung samping tasnya. Menawarkan pada Aysha sebagai basa-basi yang ditolak Aysha karena dia sudah minum s**u juga sebagai sarapannya tadi.
"Di Flamboyan, Kak."
Axelle menggumam sambil mengangguk beberapa kali menanggapi jawaban Aysha, ia sedang menyedot habis susunya.
"Gue naik dulu, Kak," ujar Aysha pada Axelle saat ia telah sampai pada tangga yang akan menuju ke kelasnya. Axelle menyengir lebar dan mengacungkan jempolnya pada Aysha.
Sebelum menginjakkan kakinya di tangga, Aysha melihat ke arah kelas XII MIPA 1 dan melambai sekali pada Radhitya yang juga tengah menoleh padanya sambil duduk di kursi panjang di depan kelasnya.
---
"Udah tau, mau ambil ekskul apa besok?" tanya Tika pada Aysha saat mereka sedang menikmati jam istirahat di kantin.
"Hmm." Aysha mengangguk sebagai jawaban, mulutnya tengah mengunyah mie ayam.
"Elo, Nin?" tanya Tika lagi, namun kali ini ditujukan pada Nina.
"Gue pengen ikut ekskul seni," jawab Nina yakin sambil menuang saos sambal pada baksonya.
"Ekskul seni yang mana, kan ada teater, suara dan musik sama tari. Lo masuk yang mana?"
"Nari, deh," jawab Nina santai sambil melahap baksonya.
"Lo, Ra?"
"Seni suara dan musik. Lo sendiri?" Aysha dan Nina menoleh pada Tika menunggu jawabannya.
"Hai, boleh duduk disini? Gak ada orang, kan?"
Ketiga siswi yang tengah menikmati makan menjelang siang itu menoleh ke arah suara, tampak Radhitya bersama Kenan tengah menunggu izin mereka untuk duduk. Kedua anak laki-laki itu tengah memegang piring makan dan minuman mereka masing-masing.
"Eh, duduk aja, Kak, kosong kok!" Tika bergegas merapikan meja yang awalnya sedikit berantakan dengan bungkus kosong kerupuk, botol minuman dan tutup saos yang belum diletakkan pada tempatnya.
Meja tempat Aysha dan sahabatnya duduk memang panjang, cukup untuk enam orang, jadi tak masalah jika siapapun ingin duduk semeja dengan mereka.
Radhitya mengambil posisi di samping Aysha yang duduk sendiri menghadap jendela lebar kantin yang terbuka. Sementara Kenan duduk bertiga dengan Nina dan Tika di seberangnya, tepat di depan jendela agar bisa menikmati angin sepoi-sepoi.
Aysha menyadari, ternyata Radhitya bila bertemu langsung begini, berubah menjadi remaja yang irit bicara. Untung saja Kenan si tukang banyol seperti tak pernah kehabisan bahan untuk mengobrol, sehingga Radhitya mau tak mau ikut terpancing tawa dan berkomentar walau seadanya.
Aysha mengalihkan pandangannya saat tak sengaja bertatapan dengan Byantara yang tengah berjalan memasuki gedung kantin bersama Axelle dan seorang siswi yang Aysha tahu merupakan teman sekelas Byantara. Siswi itu tengah merangkul lengan kanan Byantara, tampaknya seperti tengah membujuk Byantara akan sesuatu.
Byantara tahu Aysha tadi tengah memperhatikannya, namun ia juga melihat sendiri Aysha yang kemudian mengalihkan pandangannya. Dengan senyum terkulum ia mendekati tempat di mana Aysha dan teman-temannya duduk.
"Kita duduk di situ aja, Bi," Suara manja cewek yang tengah merangkul lengan Byantara. Ia menunjuk meja kosong kecil yang berada sedikit jauh dari posisi meja Aysha. Aysha memutar matanya jengah.
"Di sini aja deh, rame-rame." Byantara menarik meja kecil kosong untuk dua orang yang ada di dekatnya, kemudian merapatkannya pada meja Aysha, demikian juga dengan kursinya.
Aysha memandangi aksi Byantara itu dan menoleh padanya dengan mata yang membulat. "Mesti banget dirapatkan sampai nempel," dumelnya pelan namun bisa di dengar Byantara.
Byantara terkekeh pelan. Ia kemudian menoleh ke arah perempuan yang tengah bergelayut di lengannya. "Lo udah bisa duduk sendiri, kan, Grace? Dodi juga udah gak ada, gak usah drama lagi, lo berat gelendotan mulu, tau gak?" Byantara mencoba melepaskan rangkulan ketat perempuan yang dipanggilnya Grace itu. Perempuan itu menuruti perintah Byantara dengan wajah menekuk kesal.
"Pesan makanannya dong! Lo bilang mau traktir gue kalau gue bantuin lo bikin cemburu si Dodi. Buruan, udah mau bel masuk ini," perintah Byantara lagi pada Grace yang baru saja hendak mencecahkan bokongnya pada kursi kantin.
"Ish ... mau pesan apa?" tanya Grace ketus. Ia memang menjanjikan Byantara traktiran makan siang jika Byantara mau membantunya membuat Dodi cemburu. Namun itu semua adalah siasatnya saja agar bisa dekat-dekat dengan Byantara. Sementara urusannya dengan Dodi, sebenarnya sudah berakhir dua minggu lalu. Kini Grace telah menargetkan Byantara untuk menjadi pacarnya dalam waktu dekat.
"Gue pesan ... mie ayam pake bakso tambah telur, minumnya cappuccino dingin," ucapnya cepat sambil menjentikkan jarinya beberapa kali. Ia sebenarnya tak begitu lapar, namun ia ingin membayar kekesalannya pada Grace karena telah mengambil kesempatan dalam kesempitan. Saat drama mereka tadi berlangsung, berkali-kali Grace dengan sengaja memeluknya, merangkulnya, tak mempedulikan Byantara yang sudah berkali-kali juga mengingatkan agar Grace tak bertingkah berlebihan.
Aysha pura-pura tak peduli dengan sikap tengil Byantara pada Grace. Ia menyelesaikan makannya yang tersisa beberapa suapan lagi. Hatinya bertambah kesal saat Byantara menarik kursinya untuk lebih dekat pada Aysha.
Axelle telah kembali dengan makanannya, semangkuk bubur ayam dan sebotol minuman teh dingin.
Ia mengambil tempat duduk di seberang Byantara kemudian meletakkan makanan dan minumannya di atas meja.
"Kirain lu beneran main gila ama si Grace," ucap Kenan sambil tertawa geli.
"Weiss... jangan gagal paham, Boss. Gue juga ogah ama cewek berisik begitu," jawab Byantara sambil menunjukkan wajah malas.
"Gue yakin, itu cuma akal-akalan si Grace aja, modus! Palingan dia mau deketin elu," ucap Axelle sambil mengunyah makanannya.
"Terserah dia, yang penting makan siang gue gratis," balas Byantara acuh sambil menoleh ke arah Aysha yang tengah mencebik diam-diam. "Kenapa, lu?" tanyanya pada Aysha.
"Jadi cowo bayaran aja bangga," jawab Aysha tanpa menoleh pada Byantara. Tika dan Nina yang mendengar kalimat yang baru saja diucapkan Aysa menahan tawa mereka. Mereka tak menyangka Aysha sudah seberani itu berargumen dengan Byantara.
"Kalau sama lu, gue ikhlas gak dibayar," bisiknya pelan tepat di telinga Aysha.
Aysha terkesiap saat hembusan napas Byantara terasa begitu dekat di telinganya. Refleks Aysha menggeser kursinya menjauh yang ternyata malah membuat kursi duduknya yang terbuat dari plastik itu malah terjungkal. Namun beruntungnya, ia tak jadi jatuh karena lengan kirinya ditahan Byantara dan badannya yang oleng ke kanan ditahan oleh Radhitya.