"Hati-hati, Ay!" seru Byantara. Aysha kini balik berpegangan pada lengan Byantara untuk bangkit, karena kursi plastik yang ia duduki tadi sudah terpental sedikit jauh.
Berkat Radhitya yang menyangga tubuhnya, Aysha tak sampai terduduk di lantai kantin. "Makanya jangan ngagetin!" balasnya mengomel pada Byantara.
"Sorry," sesalnya sambil meringis. Aysha berdecak pelan menanggapi.
"Makasi ya, Kak," alihnya pada Radhitya, yang dibalas Radhitya dengan anggukan dan senyum.
"Hati-hati makanya, gak ada yang sakit kan?" tanya Radhitya kemudian. Aysha balas tersenyum dan menggeleng.
Tika dan Nina yang menyaksikan semuanya terkikik sambil saling menyikut. Sementara Axelle dan Kenan hanya memperhatikan tingkah kedua temannya itu sambil terus menikmati makanannya.
"Axelle! Gue duduk di situ. Lo cari meja lain dong." Grace telah tiba dengan seorang pelayan kantin yang membawa makanan. Pelayan itu meletakkan pesanan di atas meja tempat Byantara duduk.
Axelle yang diminta Grace untuk pindah, bergeming melanjutkan makannya. Byantara pun sama, ia memulai makannya tanpa memperdulikan Grace yang terus merecoki Axelle.
"Berisik banget sih lu, Grace. Sumpah!" Axelle mau tak mau bangkit dari tempat duduknya karena harus membeli minuman, minuman pertamanya telah habis, sementara lidahnya masih terasa pedas.
"Dari tadi kek!" ketus Grace pada Axelle. Segera ia meletakkan piring pesanannya di meja Byantara dan duduk. Terdengar Grace mendengus saat menyadari Tika dan Nina berada di sebelahnya.
"Jadi milih ekskul apa besok, Ra?" Radhitya memecah kesunyian.
"Seni deh keknya, Kak."
Radhitya menganggukkan kepalanya. "Nari, nyanyi atau teater?"
"Gue suara dan musik, Nina ambil tari, Tika ... lo jadi ambil apa, Tik?" tanya Aysha pada Tika, karena tadi Tika belum sempat menjawab tentang pilihannya.
Tika menggaruk pelipisnya yang tak gatal. "Gue gak punya bakat seni, sumpah. Pengennya basket, tapi nanti gak ada temennya. Galau gue."
"Kan ada kita, ya gak, Ken?"
Kenan yang juga mengikuti alur pembicaraan mengangguk setuju. "Banyak kok, cewek-ceweknya," Kenan menjeda ucapannya kemudian beralih pada Byantara, "Lo jadi ambil musik, Bi?"
"Dari jaman SMP basketan mulu, bosen gue. Gak boleh ambil dua ya?" tanyanya serius.
"Gak boleh, tapi lu bisa bantu kemana aja kalau dibutuhin," Radhitya menimpali. "Emang kalau boleh dua, lu mau ambil apa?"
"Musik ama renang."
"Yee ... bukan basket juga, ogeb!" Kenan melempar Byantara dengan tisu bekasnya, namun karena kertas tisu yang ringan, lemparannya hanya sampai separuh jalan dan jatuh ke mangkuk mie ayam Aysha.
"Yah, sorry, Ra, gak sengaja. Niat gue mau lempar si kupret, malah jatuh di mangkuk elu. Lu udah selesai makan, 'kan, Ra?" Kenan menyesali perbuatannya.
"Hati-hati lain kali, Ken. Untung dah selesai," tegur Radhitya.
"Siap salah Pak Ketua! Maaf ya, Ra," mohonnya sekali lagi pada Aysha.
"Santai, Kak. Udah selesai kok."
Aysha terkekeh melihat wajah Kenan yang benar-benar menyesal.
"Besok ekskul mulai jam delapan, kamu pergi bareng aku aja, Ra," ucap Radhitya tiba-tiba.
Aysha yang sedang mengunyah keripik, menghentikan kunyahannya. Kemudian perlahan menoleh ke arah Radhitya.
Demikian juga dengan Kenan, Tika, Nina dan tak ketinggalan Byantara, ia bahkan sampai menghentikan suapannya menggantung di depan mulutnya.
Radhitya dengan wajah memerah menoleh ke arah tiga orang di depannya. "Kalian kenapa? Gue kan, nanya Andara."
"Gercep Pak Ketua?" kekeh Kenan menghalau keterkejutannya.
Tika dan Nina beralih menatap Aysha, menunggu jawaban.
"Kalah cepat, lu!" bisik Axelle tiba-tiba dari belakang tubuh Byantara. Byantara terkejut hingga sedikit tersedak.
"Lu ngomong apa sih, Sat?" Byantara berakting acuh namun tak menampik rasa kesal yang seketika menjalar di hatinya. Ia melanjutkan makannya.
"Cepetan makannya, lima menit lagi bel, nih." Axelle menarik kursi kosong dari salah satu meja, kemudian duduk di dekat Byantara yang tampak bergegas menyelesaikan makannya.
"Gak usah bacot! Gue udah tau Aysha yang lu cari itu yang mana," bisik Axelle pelan.
Byantara menghela napas pelan. "Diem aja kalau udah tahu." Byantara menyudahi makannya, selera makannya tiba-tiba lenyap.
Aysha belum menjawab Radhitya, matanya mengerjab bingung harus menjawab apa. "Mmm ... nanti malam aku kabari ya, Kak," putusnya.
"Oke, chat WA aja, kamu simpan, 'kan, nomor kemarin?"
Aysha mengangguk sambil mengulas senyum.
"Ya udah, aku balik ke kelas duluan ya. Yuk, Ken!" Radhitya beranjak dari kursinya dan menepuk pelan bahu Byantara saat melewatinya. "Duluan, Bro!" serunya sekalian pada Axelle.
"Lo, punya nomornya Kak Radhit?" cecar Tika berbisik, begitu Radhitya dirasa sudah cukup jauh. Ucapan Tika tak luput dari pendengaran Byantara.
"Dia DM gue di IG kemarin, terus dia kasi nomornya ke gue."
"Wah, terniat sekali dia." Tika terkekeh pelan. Aysha mendengus pelan, kemudian bangkit.
Byantara yang telah menyelesaikan makannya juga bersamaan bangkit. Sekilas matanya bertatapan dengan Aysha, namun keduanya acuh dan berlalu.
Byantara bahkan tak mengindahkan panggilan Grace yang protes karena Byantara meninggalkannya.
---
"Ya, Buk. Assalamualaikum." Aysha menjawab panggilan di ponselnya.
"...."
"Ya udah nanti aku pulang pake ojek online aja, aku bisa."
"...."
"Aku berani, Buk. Ibuk jangan bilang Ayah_" suara gusar Aysha terpotong di tengah jalan.
"...."
"No! Aku gak sedekat itu sama dia, Buk, please!" rengeknya kali ini, ia menghentikan langkahnya.
"...."
"Buk, jangan. Aku bahkan gak punya nomornya," ucap Aysha pasrah.
Byantara yang sedari tadi berjalan di belakang Aysha bersama Axelle bahkan ikut berhenti dan penasaran karena jawaban-jawaban Aysha di ponselnya. Dari percakapan sepotong-sepotong yang didengarnya, tampaknya ia mengerti apa yang tengah dipermasalahkan oleh Aysha dan Ibunya. Siang ini Aysha tidak ada yang menjemputnya pulang sekolah.
"Buk, aku telpon Bang_ " Aysha menatap nanar ponselnya yang diputus sepihak oleh sang ibu.
"Hiiss...." lirihnya kesal, kemudian berbalik arah menghadap Byantara yang memang tengah berada di belakangnya.
Byantara yang tengah berdiri sambil merangkul leher Axelle, menatap Aysha dengan sebelah alis yang terangkat karena wajah Aysha yang tampak seperti tengah meredam marah.
Baru saja hendak meledek wajah merah Aysha, tiba-tiba ponsel di sakunya bergetar.
"Halo?"
"...."
"Iya, saya."
"...."
"Oh! Iya Tante." Byantara menegakkan badannya, bersikap serius. Matanya melirik ke arah Aysha sesekali saat mendengar suara di seberang telponnya.
Wajah Aysha yang awalnya memerah, kini tampak pias. Tak percaya ternyata Ibunya benar-benar menghubungi Byantara untuk minta tolong mengantarkannya pulang.
Siang ini supir tidak bisa menjemput Aysha karena mobil mereka kecelakaan terserempet taxi, sehingga bamper belakang penyok parah dan supir taxi yang mengaku bertanggung jawab membawa mereka ke bengkel resmi milik perusahaan taxi tersebut. Jarak yang jauh membuat sang supir tak akan bisa tiba tepat waktu untuk menjemput Aysha.
Sementara Samudra dan supirnya sedang kunjungan proyek ke Bandung sehingga tak bisa dimintai tolong.
"Iya, Tante. Nanti Aysha pulangnya bareng aku." Byantara mengulas senyum jahil pada Aysha sambil mengucapkan kata-kata tersebut.
Aysha memicingkan matanya menatap Byantara tajam, lalu berbalik arah meninggalkan Byantara yang masih berbicara dengan ibunya.
"Mm ... Tan, saya minta nomor telpon Aysha nya dong?" Byantara mengeraskan suaranya.
Masih terdengar di telinga Aysha kalimat permintaan Byantara pada Ibunya itu. Aysha kembali berhenti dan menoleh pada Byantara. Kekesalannya semakin memuncak saat bertatapan dengan Byantara, laki-laki itu dengan wajah tak berdosa mengedipkan sebelah matanya pada Aysha.