Ketemu anak SMA yuuk...
ada yg kangen gak?
jgn lupa baca cerita Papa-Mama mereka di Maaf, Aku Memilih Dia! ya.. tap love nya jgn lupa. hepi reading ^_^
Bel pulang sekolah telah berdering sepuluh menit yang lalu. Koridor lantai tiga dan lantai dua sudah sepi dari siswa. Aysha sengaja melambatkan langkah kakinya menuju gerbang sekolah, rasa kesal karena harus pulang diantar Byantara membuatnya ingin menghilang saja. Ia yakin Byantara akan meledeknya habis-habisan.
"Mama lo, kok bisa kenal ama Kak Byan sih, tau nomor ponselnya lagi?" Demikian pertanyaan Tika tadi saat mereka telah jauh dari Byantara.
"Orang tua kita temenan udah lama. Tapi waktu kita masih pada kecil-kecil, keluarga Kak Byan pindah ke Surabaya. Terus gak pernah ketemu lagi deh. Jadi kemungkinan, ibu gue taunya dari mamanya Kak Byan," jelas Aysha pelan.
Aysha melirik ke arah parkiran, tampak Byantara, Axelle dan Kenan sedang ngobrol sambil duduk di atas jok sepeda motor masing-masing. Aysha benar-benar gugup saat ini, ingin melangkah mendekat, namun kakinya seperti digantungi besi 100kg.
Mendengus pelan, memantapkan diri, tiba-tiba pundaknya ditepuk pelan dari belakang.
"Belum pulang?"
Aysha yang terkejut nyaris terlonjak dari tempatnya berdiri.
"Eh, maaf. Kaget ya?" tanya laki-laki itu lagi sambil meringis.
"Ah, i-iya, Kak. Maaf gue tadi ngelamun," jawab Aysha terbata.
"Kok belom pulang? Jemputannya telat? Mau aku antar?"
"Mmm ...," Aysha bingung mau menjawab bagaimana. Matanya berpindah-pindah dari Byantara di parkiran kemudian pada Radhitya di sampingnya.
"Gue diantar Kak Byan, Kak."
"Oh?" Radhitya menoleh ke arah parkiran sepeda motor. "Ya udah. Besok jadi bareng aku kan, ekskulnya? Atau kamu bareng ama Byantara lagi?
Aysha membulatkan matanya. "Ya enggak lah!" jawabnya cepat. "Nanti malam aku chat Kakak, ya."
Radhitya tampak tersenyum lega. "Oke. Aku tunggu ya. Ya udah gih, jalan. Bentar lagi pada mau sholat jumat nih." Radhitya menyentuh puncak kepala Aysha, mengambil sesuatu yang mengotori rambut Aysha. Aysha terkesiap namun berusaha tampak tenang.
"Ada benang," ucap Radhitya santai.
Aysha mengangguk saja, tak berani bersuara, takut gugupnya terbaca melalui suaranya.
Dari kejauhan Byantara baru menyadari kehadiran Aysha dan melihat interaksi mereka tadi. Ia pamit pada kedua temannya dan segera menyalakan mesin NMax milik Kenan yang ia pinjam untuk mengantar Aysha. Sedangkan motor Ninjanya dikendarai oleh Kenan. Ia sengaja bertukar motor sementara dengan Kenan, khawatir Aysha akan kesulitan dibonceng jika harus memanjat menaiki ninjanya dengan rok sekolah seperti itu.
"Ditungguin dari tadi. Gak taunya malah ngobrol di sini," gerutu Byantara berbisik sambil memasangkan helm di kepala Aysha.
Aysha mencebik. Ia bisa memakai sendiri helmnya, namun Byantara tiba-tiba saja langsung menyarungkan helm itu ke kepalanya. "Gue bisa sendiri!" Aysha menghindar saat Byantara ingin mengetatkan tali pengunci helmnya. Wajah Byantara yang terlalu dekat dengan wajahnya membuat Aysha bertambah gugup.
"Tukeran motor?" Radhitya bertanya pada Byantara.
"Iya, biar ni anak gak susah manjat." Byantara tak melepaskan pandangannya dari Aysha yang masih mengatur tali pengikat helm nya.
"Kalian ikut ngantar Andara?" tanya Radhitya pada dua orang temannya yang lain, yang sedang ikut menunggu di sekitar motor Byantara.
"Enggak, kita langsung ke masjid aja, nunggu Jumatan," jawab Kenan. "Lu bareng kita, kan?"
"Iya, lah. Tunggu gue ambil motor dulu. Jalannya bareng aja." Radhitya sudah bergerak selangkah, kemudian kembali berbalik. "Hati-hati By, bawa anak orang," ucapnya sambil menepuk pelan bahu Byantara. Tak menunggu jawaban, ia langsung berlari menuju tempat motornya terparkir.
Byantara mendengus pelan. "Naik!"
Aysha ingin naik dari tadi, namun ragu-ragu untuk berpegangan pada bahu Byantara, bagaimanapun sebelum ini, ia bahkan jarang berbicara dengan Byantara. Jangankan bicara, pandang-pandangan saja bawaannya emosi.
"Nunggu apalagi? Mau gue gendong?"
'Tuh kan, ngegas mulu! Pengen nampol rasanya.'
"Gue gak bisa boncengan duduk miring," Aysha berkata pelan menahan emosi.
"Ya terserah, senyamannya elu aja," Byantara melengos mengalihkan pandangannya kepada kedua temannya yang lain. "Kalian duluan aja deh, nih princess lama geraknya."
'Gak peka banget, sumpah! Masa bodoh lah.'
Dengan berat hati Aysha mendekat untuk naik dan menjadikan bahu Byantara sebagai penopang.
Jujur saja, Byantara baru sekali ini memboncengi perempuan. Walau dia terlihat jahil dan easy going dengan cewek-cewek di kelasnya, tapi lain halnya jika berhadapan dengan Aysha, reaksi tubuhnya akan berbeda.
Tak sengaja bertatapan saja, jantungnya bisa ketar-ketir. Dan satu lagi, walau kadang sengaja mengambil tempat duduk bersebelahan setiap ada kesempatan, di kantin atau di mana saja, pasti akan berakhir dengan Byantara yang caper hingga membuat Aysha kesal.
"Tunggu, Kak!" Baru saja ia mencecahkan bokongnya pada jok motor, Aysha bangkit lagi dan kembali turun dari motor.
"Kenapa lagi?"
"Roknya naik ... paha gue kelihatan, gue pakai taxi online aja deh."
"Ribet amat sih!" rutuknya kesal, namuh tak urung melepas ranselnya dan membuka hoodienya. "Nih, tutupin pake ini. Lain kali pake bicycle pants, biar kalau dibonceng pahanya gak kemana-mana."
"Siapa juga yang mau lain kali!"
Aysha menyahut galak sambil meraih jaket yang diberikan Byantara. "Gue pake kok bicycle pants, tapi yang pendek." Imbuhnya lagi sambil memanjat naik ke boncengan. Saat kembali bertopang pada bahu Byantara, Aysha sengaja menancapkan kukunya pada bahu Byantara.
"Sakit, Ay!"
"Biarin, nyebelin!"
"Pegangan!"
"Ogah!"
"Terserah!"
"Gue duluan!" sapa Radhitya saat melewati mereka.
Keduanya tak menjawab. Byantara memasang helm nya dan segera menjalankan motornya dengan pelan hingga keluar dari lahan parkiran sekolah.
Namun, begitu keluar dari gerbang sekolah, kejahilannya kembali. Byantara sengaja melajukan motornya sedikit lebih kencang, hingga Aysha yang tak pegangan, sedikit terhuyung kebelakang. Untung ia sigap meraih kemeja Byantara sebagai pegangan.
"Kak Byan! Iseng banget sih!" Aysha mencubit pinggang Byantara gemas. "Kalau tadi gue jatuh terjungkal, gimana?"
"Ish, sakit Ay! Nyiksa gue gak kira-kira banget."
"Elo tuh, yang udah membahayakan nyawa gue."
Byantara meraih sebelah tangan Aysha yang masih menggenggam kemeja seragamnya. "Makanya pegangan yang bener," ucapnya sambil menarik lengan Aysha lebih ke depan.
Aysha tergugu. Mau tak mau tubuhnya merapat pada punggung Byantara. Ia malu dan bingung, harus kah tangan satunya ikut melingkari pinggang Byantara?
'Gue meluk dia dong berarti. Enak di dia, gak enak di gue itu sih namanya, ish! '
"Jangan ge-er, gue mau cepat. Waktu sholat jumat udah dekat," ucap Byantara sedikit berteriak mengalahkan deru angin, seolah ia paham kegalauan Aysha.
"Siapa juga yang ge-er. Elo kali, Kak, yang ambil kesempatan dalam kesempitan," ketus Aysha tak mau kalah. Namun tak urung tangan yang satunya ikut melingkari pinggang Byantara.
Byantara membulatkan matanya tak percaya saat dirasanya Aysha benar-benar memeluknya dari belakang. Jantungnya berderu lebih cepat. Senyum tak bisa lepas dari bibirnya, untung saja dia menggunakan full face helmet. Kalau tidak, bisa-bisa ia disangka kemasukan jin happy.
'Besok-besok kalau disuruh ngantar pulang lagi, tetap pakai ninja aja deh, biar meluknya lebih nempel.'
Dasar bocah otak m***m.
.
.
.
makasi udh sabar nunggu, mau dong di kasi komentar, hehe..