09. Jealousy

1583 Words
Ketemu anak SMA dulu deh.. Hepi reading. Komen yg rame ya. Moodku lg drop banget. . . Alhamdulillah, akhirnya gue selamat sampai tujuan," ucap Aysha sambil turun dari boncengan. Byantara membuka helm dan menyantelkannya di kaca spion. Mengacak rambutnya sesaat, agar tak lepek tertekan helmnya tadi. Ia tak menanggapi sindiran Aysha. Ia masih menikmati sisa-sisa euforia dipeluk Aysha. Aysha menyaksikan itu semua sambil berusaha membuka tali pengikat helmnya. Bohong, kalau bilang Byantara gak cakep dengan rambut acaknya begitu. 'Ganteng doang, kelakuan minta ditendang.' Dumelnya dalam hati. "Bukain, susah." Aysha menyerah dengan kancing helmnya yang entah kenapa menjadi susah dibuka. Mau tak mau ia mendekati Byantara. "Lu masukinnya miring sih, nyangkut nih." Byantara menekan lebih kuat, agar pin pengait kancing helm itu masuk sempurna sehingga bisa lebih mudah ditarik membuka. Namun untuk melakukan hal tersebut, Byantara harus menunduk dan Aysha harus mendongak. Posisi yang sangat awkward tapi cukup mendebarkan jantung keduanya. Tak salah lagi, keduanya merona merah, salah tingkah. Ara terkikik menyaksikan kedua remaja yang tengah terpaku itu. Pura-pura tak tau situasi, Ara berjalan mendekat sambil berseru memanggil Aysha, "Kakak sudah sampai? Kok, suara motornya gak kedengeran? Untung ibu lihat ke depan." Tepat kancing helm Aysha pun terbuka. Keduanya tergagap. "Baru nyampe kok, Buk." Aysha segera melepas helm dan memberikannya pada Byantara. Segera mendekati ibunya untuk salam. Byantara yang baru kali ini bertemu kembali dengan Ara pun, merasa sedikit gugup. Apa lagi ditambah dengan kejadian barusan yang pasti masih menyisakan panas di wajahnya. "Siang Tante, apa kabar?" ucapnya cepat sambil mencium tangan Ara seperti yang Aysha lakukan. "Byan, alhamdulillah sehat, Sayang. Maaf, Tante tiba-tiba ngerepotin kamu, ya." Ara mengelus pelan lengan anak sulung Damar itu. "Tinggi banget sih kamu," imbuhnya lagi sambil memperhatikan tubuh Byantara. Byantara tersenyum malu. Aysha memutar matanya jengah melihat kelakuan ibunya yang kini menggandeng lengan Byantara mengajaknya masuk ke dalam rumah. "Kak Byan mau sholat jumat, Buk." "Eh iya, ya udah, gih. Nanti telat, gak sempat dengar khutbah Jumat. Makasi banyak ya Byan, gak kapok kan, tante repotin?" "Gak apa-apa, Tan. Telpon Byan aja kalau mendadak Aysha gak ada yang antar-jemput," ucapnya terkekeh sambil menoleh ke arah Aysha yang tampak mencebik kesal. Ara ikut menoleh pada Aysha yang segera saja mengganti ekspresi wajahnya dengan tersenyum manis. "Kamu udah bilang terima kasih, udah diantarin pulang?" "Makasi banyak Kak Byan," ucap Aysha pura-pura manis. Byantara yang tau akting Aysha mengulum senyum sambil mengangguk. "Aku jalan ya, Tan." "Iya, Hati-hati naik motornya. Salam untuk papa dan mama ya. Kapan-kapan main ke sini lagi." "Siap, Tan!" "Kamu antar Byan keluar, terus tutup lagi pagernya ya. Pak Min udah ke masjid kayaknya deh," perintah Ara pada Aysha sebelum beranjak masuk ke dalam rumah. Aysha mengangguk pelan. Byantara mendorong motornya ke arah pintu pagar dengan diam, begitu juga Aysha yang mengikuti dari belakang. Aysha mendorong sedikit pintu pagar agar terbuka hingga bisa dilewati Byantara dan motornya. "Besok ke ekskulnya gue jemput," ucap Byantra tiba-tiba sesaat ia akan menaiki motornya. "Eh, gak usah. Sopir gue, kan, udah ada kalau besok." Byantara tak membantah, kemudian menyalakan mesin motornya. "Gue jalan dulu." "Iya, makasi ya. Hati-hati." Byantara menoleh sesaat setelah mendengar ucapan Aysha. Menatap tepat di manik mata Aysha. Aysha memasang wajah datar dan mengalihkan pandangannya ke arah lain. Sungguh, bertatapan dengan Byantara selalu saja membuat wajahnya memanas dan perutnya bergejolak aneh. Tanpa sepatah kata lagi, akhirnya Byantara meninggalkan Aysha di pintu pagar rumahnya. --- "Siapa Kak?" "Kakel, Buk." "Kakak kelas?" Aysha mengangguk pelan sambil menghabiskan sarapannya. "Kan ada supir yang bisa antar. Kenapa kamu minta jemput sama dia? Pacar kamu?" goda Ara penasaran. Baru pertama kali ini Ara kedatangan teman laki-laki untuk menjemputnya ke sekolah. "Apaan sih, Bu. Dia tinggalnya di kompleks sebelah, jadi dia nawarin diri untuk pergi bareng." "Kamu tau kan, Ayah belum tentu kasih izin kalau kamu pergi dengan teman laki-laki seperti ini. Apa lagi yang ayah dan ibu gak kenal. Kenapa kamu perbolehkan dia jemput kamu?" Aysha menunduk, ia sadar telah salah mengambil keputusan. "Maafin Aya, ya, Buk. Aysha memang izinin Kak Radhit jemput, salah satunya karena gak ada ayah. Selain itu karena ... dari kemarin dia udah ngajakin berangkat ekskul bareng, sebelum Aya diantar pulang Kak Byan. Nanti kalau ajakannya Aya tolak, dia pasti mikirnya, Aya pilih-pilih teman. Di sekolah, kan, gak ada yang tau kalau Aya ama Kak Byan udah kenal lama. Aya gak mau ada salah paham. Aysha janji, ini yang pertama dan terakhir, Buk." Aysha takut-takut menoleh ke arah Ara. "Kamu tau, kenapa ibu berani minta izin ke ayah untuk meminta Byantara antar kamu pulang, padahal pake sepeda motor lagi. Tau sendiri, kan, ayah paling anti dengan boncengan motor." "Karena keluarga kita udah kenal dengan keluarganya dari dulu banget," jawab Aysha tak bersemangat. "Seratus untuk anak ibuk. Jadi Byantara bakal tanggung jawab ama kelakuannya gak mungkin berani nakal dan sembarangan bawa motornya kalau sama kamu." Aysha menyembunyikan ringisannya dari Ara. Ibuk belom tahu aja, gimana nyebelinnya tu orang kalau di sekolah. Gumamnya dalam hati. "Ya udah, Aysha jalan ya, Buk. Kasihan juga Kak Radhit, ntar kelamaan nunggu," ucapnya sambil mencium tangan Ara. "Ibuk antar ke depan, sekalian kenalan." Ara mengerling Aysha jahil. "Maaf ya Kak, gue lama selesainya." Aysha menyapa Radhitya yang tengah duduk di kursi teras sambil bermain ponsel. "Kenalin, Kak, ini Ibuk gue." Assalamualaikum, Tante. Saya Radhitya, teman sekolahnya Andara. Rumah saya di Amarilis, jadi tadi malam saya ajakin Andara pergi ekskul bareng, boleh kan, Tante?" Radhitya menjelaskan sambil menyalami tangan Ara. "Waalaikumsalam Radhit. Boleh, gak apa-apa. Di Amarilis, di blok apa? Tante punya kenalan juga tinggal di situ. Di blok D." "Oo, blok D tuh di depan, Tante. Amarilis tahap pertama. Saya di blok Q, Amarilis tahap dua, di belakang-belakang," cengir Radhitya. "Tapi tahap dua rumahnya lebih bagus-bagus kan? Design dan kontraktornya dari perusahaannya Ayah Andara lho!" ucap Ara bangga. "Oh ya? Wah, hebat si Om!" seru Radhitya sambil tersenyum senang menghadapi keramahan Ara. Sementara Aysha mendengus melihat tingkah Ibunya yang sudah seumur ini masih saja menunjukkan kebucinannya pada sang suami. "Udah ya, Buk, kami jalan dulu," potong Ara cepat. "Eh, iya. Berangkat, gih. Hati-hati nyetir motornya ya Radhit. Oh ya Ay, nanti kamu pulang jam berapanya kabari ibuk. Nanti ibuk yang jemput, sekalian mau ke rumah Oma Ai," perintah Ara sebelum Radhitya kembali menyalaminya. --- "Eh, si bangke! Jadi juga dia nyamperin si Andara ternyata," seru Kenan agak kencang sehingga didengar oleh beberapa siswa yang tengah bersantai di pinggir lapangan basket outdoor. Byantara yang juga mendengar seruan Kenan, menoleh ke arah pandangan Kenan. Tampak Aysha dan Radhitya berjalan beriringan melewati ruang tunggu sekolah. Axelle terkekeh melihat roman muka Byantara yang berubah masam. "Biasa aja mukanya, gue aja ikhlas," ucapnya berbisik sambil menyenggolkan bahunya pada Byantara. "Masalahnya, kemarin waktu gue tawarin mau jemput ekskul, katanya bakal berangkat ama sopir. Nyatanya apa?" Byantara mendengkus kasar. "Ciee, yang cemburu. Jangan nyerah dong, pepet lagi. Jangan sia-siakan pengorbanan gue berhenti ngejar Andara demi elu." Axelle menepuk bahu Byantara memberi semangat. "Lagipula, lu udah beberapa langkah di depan, keluarga lu ama keluarganya udah bestfriend an dari jaman dahulu. Nyokapnya udah percayain anaknya ke elu buat diantar pulang, jadi jangan pesimis brother. "Haalah, gue mah, pantang ngemis ama perempuan. Kayak gak ada cewe lain aja. Ya udah lah, kalau dia gak mau sama gue. Cewe yang nge chat gue rame, tinggal pilih." Byantara beranjak dari duduknya tepat saat Radhitya sampai di lokasi lapangan basket. Ia memang tidak mengambil ekskul basket karena lebih memilih ekskul seni dan musik karena ingin memperdalam ilmu gitar akustiknya. "Gue ke ruang seni dulu," ucapnya pada Axelle, sebelum menjauh. --- Byantara memasuki ruang ekskul seni yang sudah mulai tampak ramai diisi belasan siswa. Ia menyapa beberapa teman tingkatnya yang ia kenal dan duduk bergabung bersama mereka. Beberapa siswa tampak berkelompok-kelompok. Ada yang mengobrol, ada juga yang memainkan gitar mengiringi yang lain bernyanyi. Aysha dan Nina juga sedang mengobrol dengan beberapa teman sesama tingkatnya saat seseorang terdengar memekik girang dengan volume suara yang sengaja dipelankan. "Waaa ... demi apa gaes? Kak Abi ikutan ekskul seni dong. Gak salah pilih ekskul gue!" girangnya lagi, diikuti seruan senang beberapa siswi lainnya yang tampaknya merupakan penggemar seorang Byantara juga. Aysha mencari sosok laki-laki yang tengah diperbincangkan teman-temannya itu. Benar saja, Byantara tampak sedang menyapa beberapa temannya di sudut ruangan. Sedang asyik memperhatikan, tiba-tiba Byantara menoleh ke arah Aysha. Terciduk sedang memandangi, Aysha segera berpura-pura mengajak Nina bicara. Untung saja Nina menanggapi tepat waktu. Byantara memandang datar pada Aysha, masih ada kesal di hatinya. Biarpun dia bukan siapa-siapa bagi Aysha, tak seharusnya ia berbohong kalau gak mau di jemput. Dan seandainya memang sudah memutuskan untuk berangkat bersama Radhitya pun, Aysha bisa bilang terus terang saja. Guru pembimbing untuk ekskul seni, musik dan tari telah memasuki ruangan. Siswa-siswi yang telah hadir, mulai mengambil tempat untuk duduk di kursi-kursi yang tersedia. Susunan kursi tersebut membentuk huruf U dan pembina berdiri di tengahnya untuk memberi bimbingan dan informasi lengkap seputar kegiatan seni yang akan mereka jalani selama setahun ke depan. Disengaja atau tidak, posisi duduk Byantara dan Aysha berseberangan, namun nyaris berhadap-hadapan, sehingga tiap kali memandang ke depan, ke arah pembina , mereka akan saling lirik, bahkan adu pandang. Aysha merasa ada yang berbeda dengan Byantara hari ini. Wajah yang biasanya selalu menyematkan senyum jahil itu, sepertinya hari ini berubah datar. Namun Aysha tak mau ambil pusing, toh kemarin mereka baik-baik saja, tak ada masalah. Jadi mungkin saja perubahan ini tidak ada hubungan dengan dirinya. Namun tetap saja, mata Aysha selalu mencuri pandang ke arah wajah datar itu, yang tampak selalu menghindari kontak mata dengan dirinya. Dan anehnya Aysha menjadi kesal sendiri karena merasa di acuhkan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD