10. Jealousy (2)

1624 Words
"Jajan dulu, haus gue," ajak Tika pada Aysha dan Nina. Aysha menurut saja. Ia benar-benar kehilangan mood hari ini. "Temen lo, kenapa?" tanya Tika pada Nina. "Gak tau gue, dari tadi di kelas juga gitu, banyakan melamunnya," jawab Nina sambil berbisik. "Bukannya dia tadi dijemput Kak Radhit, ya. Harusnya lagi berbunga-bunga dong." Nina hanya mengedikkan bahunya. "Lo tau sendiri kan, Andara naksirnya ama Kak Byan, bukan Kak Radhit, " bisiknya lagi. "Ah, iya." Tika menepuk jidatnya pelan. "Ra," suara seseorang memanggil Aysha dari belakang. Ketiga sahabat itu menoleh ke asal suara. Tampak Radhitya, Kenan, Axelle dan Byantara beberapa meter berjalan di belakang mereka. Aysha bersama kedua sahabatnya berhenti berjalan, menunggu mereka mendekat. Namun Radhitya sengaja sedikit berlari untuk mendekati mereka lebih dulu. "Sudah kabari ibu kamu, minta jemput?" tanya Radhitya saat telah mendekati Aysha. "Sudah." Aysha memutuskan untuk kembali melanjutkan perjalanannya menuju kantin tanpa menunggu yang lain mendekat. Sekilas matanya melirik pada Byantara yang juga tengah mengarahkan mata padanya. "Gimana tadi ekskulnya, sudah dapat materi?" "Belum, Kak. Masih perkenalan dan sharing info kegiatan aja." "Oh, semoga cocok dan betah ya. Siap-siap aja, tiga bulan lagi, sekolah bakal ngadain PORSENI, nanti pembukaan dan penutupannya bakal ada acara spesial gitu. Pasti anak ekskul seni bakalan yang paling sibuk. Karena kalian bakal yang ditunjuk untuk isi acara." "Nah, iya. Tadi Pak Kasno juga ada singgung sih. Iya kan, Ra? Ra?" Nina menyenggolkan bahunya pada bahu Aysha. "Hei, melamun?" Radhitya yang menyadari Aysha diam saja jadi ikut penasaran. "Eh, what? Kenapa?" Aysha tersadar. Akhirnya ketiga teman berjalannya menertawakan Aysha yang salah tingkah karena ketahuan melamun. Mengambil tempat duduk di meja panjang karena mereka memutuskan untuk duduk bertujuh dalam satu meja, Aysha memilih posisi paling pinggir dan bersandar ke dinding, di sebelahnya ada Nina. Sementara Tika yang kehausan sudah langsung ngacir menuju showcase yang berisikan berbagai macam jenis minuman dingin. "Kalian duduk aja, biar aku yang pesankan," ucap Radhitya pada Aysha dan Nina. "Gak usah, Kak. Ntar paling juga Tika bawain buat kita," tolak Nina pada Radhitya. Radhitya pun akhirnya mengalah dan menoleh ke arah Tika yang memang tampak sedang mengeluarkan beberapa botol minuman dari showcase. "Ya udah kalau gitu, aku pesan-pesan dulu," ucap Radhitya lagi. "Abiii," pekik manja sebuah suara. "Kamu gak jadi ambil ekskul renang? Padahal aku udah bela-belain beli pakain renang baru untuk ikutan ekskul renang," Indah, teman sekelas Byantara sambil berlari kecil mendekati Byantara, dengan tampang merajuk. Hampir seisi kantin menoleh ke arah suara, demikian juga Aysha dengan kedua pasang mata yang sama-sama duduk menunggu pesanan di meja itu. Ada Nina dan Kenan, mereka bertiga menoleh ke arah Byantara yang kini lengannya telah digelayuti oleh Indah. Byantara yang tampak risih, memutar matanya jengah. "Yang bilang gue mau ikut ekskul renang, siapa?" ucapnya sambil berusaha melepas rangkulan Indah. "Eh, cewek gatel! Udah berapa kali gue bilang, lo jangan sok manja-manja gitu deh, sama Abi. Lo gak liat, mukanya mau muntah gitu, lo gelendotin?" Suara perempuan lain terdengar dari arah pintu masuk kantin. Sontak semua kepala yang berada di kantin menoleh ke arah pintu. Indah hanya menoleh ke arah suara tanpa melepas rangkulannya. "Apaan sih, badut ancol, ikut campur aja," cibirnya pelan. Kenan yang mendengar ucapan Indah, terkekeh di samping Byantara. "Mampus lu, bakal ada adu jambak episode ke dua nih," ujarnya pelan. Byantara mendengus kasar dan sekali lagi berusaha melepaskan rangkulan Indah. Indah memelototkan matanya pada Kenan. "Bukan gue kemarin yang mulai, ya. Si badut ancol, tuh!" "Lu ngatain gue badut ancol?" Perempuan yang berseteru dengan Indah itu, telah mendekat dan menarik kuncir rambut Indah, dengan tanpa rasa bersalah. Indah yang tak menyangka akan ditarik rambutnya, terpekik kaget. Rangkulannya di tangan Byantara terlepas. "Apaan sih, Ros. Lu kalau cemburu lihat gue dekat sama Abi, ngomong aja baik-baik, gak usah main kasar kayak gini." Indah menepis tangan perempuan bernama Rosa itu dari rambutnya. Byantara dengan wajah merah padam, memukul keras meja di hadapannya hingga kedua perempuan yang tengah berseteru itu terkejut dan menghentikan perdebatannya. Tak hanya mereka, Aysha, Nina dan Tika yang telah kembali membawa serta minuman mereka pun, ikut terlonjak kaget. Byantara tak hanya marah, namun ia juga malu, karena telah menjadi bahan perdebatan kedua perempuan itu. Axelle dan Radhitya yang telah kembali dengan piring makanan mereka, memandang ke arah Byantara dengan wajah heran. "Kalian berdua, jangan coba-coba bicara sama gue lagi!" desis Byantara pelan namun tegas, jarinya menunjuk pada wajah kedua perempuan itu bergantian. "Tapi Bi_," Indah tak melanjutkan kata-katanya. Byantara dengan wajah marahnya telah beranjak pergi meninggalkan mereka menuju pintu keluar. Indah dan Rosa masih melanjutkan adu mulut mereka, saling menyalahkan. Keduanya adalah teman sekelas Byantara dan Axelle. Mereka berdua, Indah dan Rosa bahkan dulunya adalah teman akrab. Aysha yang masih terkesiap dengan kejadian barusan memandang miris ke arah Byantara yang telah menjauh. Separuh hatinya ingin menyusul teman masa kecilnya itu, namun selebihnya lagi ia merasa gamang. Nanti, setelah disusul, terus apa? Aysha yang gelisah menoleh pada Tika dan Nina. Inginnya minta solusi, namun di depannya ada Radhitya yang sepertinya menyadari kegelisahan Aysha. Sedikit melirik pada Axelle yang juga tengah menoleh ke arahnya. Axelle tampak menggerakkan sedikit kepalanya. "Tsuiseki." ( kejar ) "Gue duluan ya, Tik, Nin," ucap Aysha pelan, yang kemudian diangguki cepat oleh keduanya. "Hati-hati, Ra," ucap Radhit walau dengan sedikit bingung. Aysha mengangguk saja dan tergesa-gesa menuju arah Byantara tadi menghilang. Jujur saja Aysha bingung mau ke arah mana. Parkiran? Taman Barat atau rooftop? Sedikit menyesal karena terlalu lama mengambil keputusan, sehingga kehilangan jejak Byantara. Entah firasat dari mana, kakinya melangkah ke arah rooftop tempat anak-anak MIPA praktikum botani. Menaiki anak tangga dengan tergesa, Aysha akhirnya sampai di ujung tangga teratas. Pintu yang dalam keadaan terbuka, memastikan ada seseorang berada di rooftop, karena peraturannya pintu tak boleh tertutup bila rooftop ada pengunjungnya. Ini kali ke dua Aysha menginjakkan kaki di rooftop. Ia menyukai suasananya yang tampak hijau dan teduh. Di bagian kiri terdapat greenhouse, tempat di mana para siswa menanam berbagai jenis tanaman hydroponics. Sedangkan hampir setengah bagian kanan rooftop diberi atap dari bahan paranet untuk melindungi tanaman yang tak terlalu menyukai cahaya matahari seperti anggrek, mawar dan anyelir. Di bawah atap paranet itu juga disediakan bangku-bangku taman yang biasa digunakan siswa siswi untuk bersantai pada jam istirahat. Sedikit lebih ke ujung, atapnya sengaja dibiarkan terbuka tanpa paranet, untuk menanam berbagai jenis tanaman obat keluarga seperti jahe, kencur, sereh, lengkuas, kunyit dan beberapa tanaman berbunga cantik yang membutuhkan panas matahari. Sekali pandang saja, Aysha telah menemukan Byantara yang tengah duduk di salah satu bangku taman, sambil menunduk memainkan ponselnya. Aysha menelan ludahnya susah payah, ragu untuk mendekat. Namun sesaat ia akan mundur, Byantara menoleh kearahnya, namun segera mengalihkan pandangannya kembali pada ponselnya. Berat hati, tapi sudah terlanjur, akhirnya Aysha mendekati Byantara dan duduk di bangku taman yang sama, walau tetap ada jarak diantara mereka. "Ngapain kemari?" Aysha mendengus pelan, "Gue juga bingung kenapa gue nyusulin lo. Ya udah lah, gue balik aja." Aysha sudah akan beranjak pergi saat tangannya ditahan Byantara dan memberinya kode untuk kembali duduk. Keduanya masih saling diam walau sudah bersama selama lima menit. Sambil memeriksa ponselnya, kalau-kalau Ibunya mengiriminya pesan, Aysha mengeluarkan earphone-nya. Benar saja, ada sebuah pesan dari Ara yang mengatakan bahwa ia baru saja berangkat dari rumah sepuluh menit yang lalu. Artinya, jika perjalanan lancar, tiga puluh menitan lagi, Ibunya akan sampai. Byantara menggeser posisinya menghadap pada Aysha yang tengah santai dengan earphone-nya. Ia mendekati Aysha dan mencabut salah satu earbudnya dan menempelkan ke telinganya sendiri, ikut mendengarkan lagu yang sedang Aysha dengar. Aysha yang sudah merasakan pergerakan Byantara tak terkejut lagi saat earbud-nya dicabut, ia hanya menoleh sesaat dan kembali fokus pada ponselnya yang tengah membuka salah satu aplikasi membaca. Limabelas menit berlalu. Mereka hanyut dengan alunan musik di telinga. "Jalan, yuk!" Aysha mengerutkan keningnya. "Maksudnya?" "Ya ... jalan. Temani gue jalan." "Ibu udah mau sampai, lagipula gue mau ke rumah Oma gue siang ini." "Nanti gue antar ke sana." Byantara sudah berdiri dan menyerahkan earbud Aysha. "Gue gak yakin bakal dikasi deh." "Coba tanya dulu," pintanya sedikit memaksa pada Aysha. "Gue gak janji ya," manyun Aysha karena paksaan Byantara. Aysha menelpon Ara yang ternyata sudah tak seberapa jauh lagi dari sekolahnya. Setelah mengatakan ingin menemani Byantara membeli keperluan sekolah, akhirnya Ara memberi izin. Dengan catatan, Byantara harus mengantar Aysha ke rumah Oma Ai sebelum pukul tiga sore, Agar tidak keburu Samudra sang ayah yang lebih dulu tiba dari Bandung. Byantara memberikan hoodienya pada Aysha, untuk menutup pahanya saat di atas motor nanti, namun Ara menolak dan menjelaskan bahwa ia sudah mengenakan legging spandex selutut di balik rok seragamnya. Byantara kembali menekuk mukanya, dan mendengus. Perubahan itu tak luput dari perhatian Aysha. "Kenapa lagi, mukanya manyun begitu? Gue udah ikhlas ya, nemenin lo." "Kemarin, gue tawarin jemput lu, berangkat ekskul bareng, lu tolak, lu bilang mau berangkat diantar sopir. Dan ternyata lu berangkat bareng Radhit. Kalau lu emang udah janjian sama dia, lu jujur aja, gak usah pake bohong. Gue gak masalah kok." Byantara menghentikan geraknya memasang helm. Aah ... Aysha tahu ini akan jadi bahan sindiran Byantara sewaktu-waktu, namun tak menyangka teman masa kecilnya ini akan sebaper itu. "Sorry ... jujur aja, gue emang gak niat kok, mau dijemput Kak Radhit, tapi waktu tadi malam dia nge-chat gue, gue gak bisa nolak. Gue gak mau dianggap milih-milih temen. Mau dianterin elo, tapi gak mau pergi bareng dia," terang Aysha. Ia memang sudah menolak untuk pergi bersama, tapi Radhit menanyakan alasan dan menghubungkannya dengan Byantara yang boleh mengantarnya saat pulang sekolah. Aysha yang tak ingin ribet menjelaskan mau tak mau akhirnya menyetujui permintaan Radhitya. Byantara memutar matanya malas dan kembali mendengus. Setengah hati ia menerima penjelasan Aysha. Ia kemudian memasangkan helm ke kepala Aysha dan menguncinya. "Ini helm siapa? Main comot aja!" Aysha mendelikkan matanya. "Helmnya Beno, anak kelas gue." "Lah, terus nanti dia pulang, pake apa?" "Bodo amat! Udah cepat naik!" "Ishh ...!"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD