11. Meet Ayah Sam

1603 Words
Ketemu anak SMA sambil mlm mingguan.. Hepi reading man teman! . . . "Mau makan atau ngemil doang?" Perlahan Byantara melepas helm Beno dari kepala Aysha. "Oma pasti masak, jadi nanti gue makannya di rumah aja. Sekarang pengin yang dingin-dingin dulu." Aysha berkaca pada spion motor Byantara, merapikan rambutnya yang kusut akibat helm. Byantara memperhatikan Aysha yang sedang merapikan diri. Ia menunggu Aysha selesai, sambil mengacak sendiri rambutnya agar tidak lepek bekas tertutup helm. Memperhatikan Aysha yang telah merasa rapi, namun ada sejumput rambut mencuat yang lolos dari perhatian Aysha, maklum saja spion di motor Byantara ukurannya minimalis. Byantara membantu merapikannya. "Thanks, masih ada yang kusut lagi, gak?" Aysha bertanya sambil mengelus pelan bagian rambut yang dirapikan Byant tadi. "Enggak, udah cantik, eh ... udah rapi maksudnya." Byantara salah ucap, seketika ia memutar balik dan melangkah menjauh menghindari tatapan Aysha yang sempat tampak membulatkan matanya sesaat mendengar kalimat Byantara tadi. Aysha terkikik pelan, menyadari Byantara yang salah tingkah. 'Padahal gak masalah, kan, gue emang cantik ini.' Kembali ia terkekeh dengan pikiran narsisnya sendiri. "Hei, kok gue ditinggal sih!" teriak Aysha sambil mempercepat jalannya menyusul Byantara yang sudah menaiki tangga memasuki gedung utama mall. Aysha memukul pelan lengan Byantara. "Kok gue ditinggal?" Mereka sudah berjalan bersisian sekarang. "Mau es krim atau kopi-kopian?" Byantara mengganti topik pembicaraan, mengabaikan pertanyaan Aysha, ia masih malu. Setelah berkeliling sekian menit, akhirnya mereka sepakat untuk menghabiskan waktu di salah satu outlet yang menjual berbagai jenis minuman kopi. Byantara menawarkan diri untuk mengantri di kasir pemesanan, untungnya siang ini tidak begitu ramai, di depan Byantara hanya ada dua pelanggan saja yang mengantri. Sementara Aysha mencari tempat untuk duduk. "Ada meja kosong di teras luar, mau di sana atau di dalam aja?" Aysha mendatangi Byantara yang sedang mengantri giliran, tersisa satu orang lagi. "Terserah aja. Tapi lo gak panas kalau di luar? Mataharinya gak terik sih." Keduanya menatap ke arah luar memperkirakan situasi. Kemudian kembali saling pandang, menunggu pendapat masing-masing, tapi malah berakhir dengan tatap-tatapan konyol berujung dengan salah tingkah keduanya. Begitu sadar, Byantara segera berbalik arah kembali ke antrian. "Terserah lo, deh." "Luar aja, deh." Ucap mereka bersamaan. Kembali keduanya salah tingkah. Tanpa nenunggu lagi, Aysha langsung bergerak menuju teras luar kafe. 'Ish, apaan sih, malah lihat-lihatan gak jelas, ya ampuuun.' Aysha menepuk pipinya pelan beberapa kali, menghilangkan rasa hangat yang tiba-tiba menjalar. 'Jantung gue kenapa debar banget ini, elaah!' Byantara menepuk pelan dadanya beberapa kali. "Ay," sapa Byantara, ia meletakkan kedua minuman pesanan di atas meja. Kemudian menarik mundur kursi di hadapan Aysha agar ia bisa duduk dengan nyaman. "Gue gak tau lo suka yang mana, tadi lupa nanya. Jadi gue pesan yang biasa gue minum aja. Ada Mocca Frappuccino sama Caramel Frappuccino, lo mau yang mana?" Aysha menarik cup minuman yang terdekat dengannya. "Gue yang mana aja, dua-duanya gue suka." Byantara bernapas lega, mengetahui pilihannya tepat. Memberi senyum pada gadis yang tengah menikmati minuman sambil melirik padanya. "Berapa nih, tadi?" Aysha mencari dompet di dalam tasnya. "Udah, gue yang traktir." "Oke, next time giliran gue ya." "Hmm," Byantara menggumam sambil mengangguk, mulutnya tengah menghisap minumannya. 'Yes, berarti akan ada kencan kedua. Eh, yang bilang ini kencan pertama siapa? Fix, otak lu udah gak bener By.' Byantara menggeleng samar, menenangkan jalan pikirannya. Bagai sudah berteman lama, mereka akhirnya melupakan kecanggungan tadi, bahkan sama sekali tak membahas masalah di kantin tadi. Banyak hal yang bisa mereka jadikan bahan obrolan, apalagi ternyata mereka memiliki kegemaran yang sama, diantaranya musik, film dan makan. Begitu asyiknya berbincang sehingga tak terasa waktu yang sudah ditentukan Ara, Ibunya Aysha, tersisa tak sampai 30 menit lagi. Jarak dari mall ke rumah Oma Airina dalam keadaan lancar saja, bahkan bisa memakan waktu 45 menit, ini bahkan kurang dari itu. Kedua remaja itu berlari menuju parkiran, sesekali terdengar tawa mereka saat harus pontang panting menghindar dari tabrakan dengan pengunjung mall lainnya. Beberapa kali Byantara meneriakkan kata 'maaf' pada pengunjung yang ia senggol saat berlari. --- "Demi Tuhan, By! Lo bawa motornya kencang banget, untung jantung gue buatan Tuhan, kalau made in China dah lepas dari kapan-kapan." Aysha melepas helmnya sambil mengomel. Aysha memang memanggil Byantara dengan nama kecilnya saja jika sedang tidak berada bersama dengan teman-teman sekolahnya, sebagaimana saat mereka kecil-kecil dulu, Byantara akan dipanggil dengan By atau byan dan Aysha dengan panggilan Ay atau Aya. Byantara terkekeh. Ia mengingat bagaimana Aysha memeluknya sangat erat saking takutnya dibawa ngebut. "Yang penting kan, selamat sampai tujuan. Sekencang itu pun, kita tetap telat sepuluh menit dari janji kita sama Ibu. Ayah lo belom nyampe, kan?" Byantara tak enak hati. "Belom ada mobilnya sih. Ayo masuk. Eh, mau masuk dulu atau langsung pulang, nih?" "Gue pamit dulu lah ke Ibu." Kembali Biantara mengacak rambutnya. Aysha sudah pernah bilang, belum, kalau Byantara gantengnya nambah berkali lipat kalau lagi mengacak rambutnya begitu? Aysha mengerjap beberapa kali mengembalikan kesadarannya kemudian bergegas menuju teras rumah Airina dan langsung masuk karena pintunya berada dalam posisi terbuka. "Assalamualaikuum," teriak Aysha sambil memasuki ruang tamu, menuju ruang keluarga. "Duduk By, gue panggilin Ibuk dulu." Aysha meletakkan tas sekolahnya pada salah satu kursi dan mulai mencari ibunya di dapur. Tak menemukan ibunya, ia malah bertemu dengan Airina, Omanya. "Omaa ...." sapanya lembut pada sang Oma yang tengah memotong sesuatu yang tampaknya berbentuk puding. "Eh, cucu Oma udah sampai. Kamu pergi dengan siapa sih, kok tumben dapat izin dari Ibumu?" ucap Airina saat Aysha mendekat untuk mencium tangan Airina. "Kata ibumu, kamu pergi dengan anak laki-laki. Benar begitu?" "Oh, itu, iya sih. Tapi kan_ " "Ay," Tiba-tiba suara Byantara terdengar memotong percakapan Aysha dengan Airina. Membuat kedua wanita itu menoleh bersamaan ke arah suara. "Loh, kenapa By?" Aysha tak menyangka Biyantara menyusulnya ke dapur. "Mau numpang toilet, dong," ucapnya sambil memberikan cengiran. "Oh, itu." Aysha menunjuk arah pintu kamar mandi yang terletak di dapur. Byantara mengangguk pada Aysha kemudian pada Airina. "Numpang toiletnya, Oma." "Iya, iya, silahkan," Balas Airina sambil memperhatikan Byantara berjalan menuju kamar mandi. "Ganteng banget, Ay. Mirip siapa ya? Kayak familiar gitu mukanya." Airina bicara sedikit berbisik, ia mengerutkan keningnya, mengingat-ingat wajah teman Aysha itu mirip siapa. "Teman sekelas kamu?" Tanyanya lagi. "Kakak kelas, Oma." Aysha mengambil botol minuman dari kulkas dan dua buah gelas kosong dari rak piring. "Ibu mana sih, Oma? Dari tadi gak kelihatan." "Lagi ngomelin si kembar di atas, habis pada berantem. Heran, kebanyakan bercanda, akhirnya malah berantem beneran, mereka itu." Airina selesai memotong puding dan menyimpan kembali ke dalam kulkas. "Kok bisa, kamu jalan sama kakak kelas?" Airina menggoda cucunya. Suara pintu toilet dapur dibuka. Kedua perempuan beda usia itu menoleh ke arah Byantara yang baru keluar dari dalamnya. Airina menyambut Byantara dengan senyuman. Ia masih serius meneliti wajah Byantara. "Byantara, Oma, salam kenal," ucapnya sambil menghampir Airina dan mencium punggung tangannya. "Byantara ..., iya, iya, salam kenal juga. Mmm ... Oma boleh tanya gak, siapa nama Oma kamu, soalnya Oma kayak pernah lihat kamu, di manaa gitu. Jangan-jangan kamu cucu salah satu teman Oma." Airina manyatakan rasa penasarannya. "Hei, kalian baru nyampe?" Terdengar suara Ara dari arah tangga memotong percakapan Byantara dengan Airina. "Udah dari tadi, Buk, Ibuk aja yang gak kelihatan," dumel Aysha sambi menghampiri Ara untuk salim. Byantara turut menghampiri Ara dan melakukan hal yang sama. "Kalian udah makan siang?" Ara bertanya saat selesai menyambut uluran tangan Byantara. "Belum. Aya sengaja gak makan, kangen, pengin makan masakan Oma." Aysha memberikan senyum lebar kepada Airina. Dibalas dengan senyum sayang dari sang Oma. "Ya udah makan dulu. Kamu juga sekalian makan dulu ya By, baru pulang. Ay, kamu siapin piring-piring biar ibuk panasin lauknya sebentar." Ara memberi perintah pada Aysha dan mempersilahkan Byantara untuk menunggu di meja makan. Sambil memperhatikan Ara memanaskan makanan, Airina berbicara pelan mengungkapkan rasa penasarannya pada Ara tentang kemiripan Byantara dengan seseorang yang dia lupa siapa. "Ah, Aysha gak bilang? Dia Byantara, anaknya Kak Damar, Ma," Ara menjawab dengan pelan pula. "Masha Allah! Kamu serius?" Airina terkejut melupakan bisik-bisiknya, kemudian tersadar karena peloton Ara. Kembali berbisik dan terkekeh, "Pantas saja mama kayak familiar dengar namanya. Jadi karena itu juga kamu izinin Aysha pergi dengan dia, walau motoran." Ara menjawab dengan memberi senyum jahil pada Mamanya. "Kamu gak takut di omelin suamimu, ngizinin Aysha dibonceng naik motor?" Airina ingat, dulu Aysha kecil pernah di ajak jalan-jalan putar komplek oleh tukang kebun Verisha sang besan, yang berakhir satu rumah kena omel. "Biarin aja, aku pengin lihat dia semarah apa, dan pengin lihat reaksi Aysha juga ngadepin marah Ayahnya. Seumur-umur aku belum pernah lihat Aysha dimarahin Aa'. Dan ini juga kali pertama Aa' ketemu dengan Byantara, kalau si Aa' sampainya cepat." Ara selesai memanaskan masakan dan bersiap menghidangkannya di meja. Kedua remaja itu tampak asyik duduk bersebelahan bersama-sama memperhatikan ponsel milik Byantara yang sedang memutar sebuah video musik sambil menunggu makanan dihidangkan. Airina tersenyum melihat keakraban mereka, "Mama mau panggil Ayah. Dia juga pasti pengin ketemu dengan anak Damar. Dia dulu sempat lebih senang kamu dekat dengan Damar daripada Sam." Airina tertawa pelan, Ara mendengus malas mendengar ucapan Mamanya. Tin. Suara klakson mobil terdengar dari arah car port. Aysha tersentak dan menoleh cepat ke arah Ibunya, merasa was-was akan tanggapan Ayahnya atas kehadiran Byantara di rumah Airina. "Buk ...." Ara terkekeh melihat wajah anak gadisnya yang berubah pias. Sementara Byantara yang tak paham keadaan hanya memandang heran ke arah Ara dan Aysha secara bergantian. "Assalamualaikum." Terdengar suara Samudra memberi salam dari pintu masuk ruang tamu. "Waalaikumusalam." Mereka bertiga menjawab nyaris bersamaan. Aysha segera menyusul Ayahnya ke depan sesuai perintah Ibunya, namun sang Ayah telah tiba di ruang keluarga terlebih dahulu. "Motor siapa itu di depan?" Samudra menatap tajam pada putri sulungnya, menuntut jawaban. . . . nah lo! Ayah Sam galak banget. ketemu minggu dpn lg yaa.. luv, luv, luv.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD