12. Meet Ayah Sam (2)

1312 Words
Malam minggu bareng anak SMA ya. Hepi reading ^_^ . . "Ayah, kangeeen!" Aysha memeluk Ayahnya, mengabaikan pertanyaan Samudra tentang motor. Menciumi kedua pipinya sebagaimana biasa yang mereka lakukan jika salah satu dari mereka baru sampai rumah. "Ayah juga kangen, Aya," balas sang ayah sambil mencium puncak kepala anak gadisnya. "Ibuk mana? Adek-adek?" Samudra bertanya sambil meneruskan langkahnya ke arah ruang keluarga menuju dapur. Aysha mengikuti sang Ayah sambil menggandeng lengannya. Jantungnya sudah berdebar tak karuan. Ia yakin yang akan dipermasalahkan Ayahnya pasti tentang motor. Aysha berboncengan menggunakan motor adalah hal yang paling tak disukai Samudra. "Hai, Love," sapa Ara begitu bayangan Samudra memantul di netranya. "Hai_," Samudra membatalkan kalimatnya saat melihat wajah tak dikenal berseragam sekolah di ruang makan mertuanya. Sambil berdiri, anak laki-laki itu tersenyum tipis dan mengangguk sopan ke arahnya. Tanpa senyum, Samudra balas mengangguk. Tatapannya beralih ke istrinya yang tersenyum lebar menuju ke arahnya. Ara meraih tas kerja Samudra dan memberinya kepada Aysha untuk di simpan. Kemudian mencium tangan sang Suami. Samudra membalas dengan kecupan singkat di kening dan bibir Ara. Semua kegiatan itu tak lepas dari pandangan mata Byantara, yang seketika salah tingkah karena Samudra kini kembali fokus padanya. Byantara bersikap laki-laki, walau sedikit gugup dengan tatapan intimidasi dari Samudra, ia menghampiri ayah Aysha itu dengan tangan terulur untuk menyalami. "Byantara, Om, salam kenal." Samudra memicingkan matanya, berpikir sesaat, kemudian menyambut perlahan tangan yang telah terulur itu. "Anak Damar?" tanyanya memastikan. "Iya, Om." Byantara mengangguk, dengan senyum ragu-ragu, menunggu reaksi Samudra. "Wah, udah gede banget." Samudra menyambut uluran tangan Byantara sambil menepuk bahunya beberapa kali, wajahnya seketika berubah santai dan tersemat senyuman. "Kelas berapa sekarang? Sekolah di mana?" "Kelas XII, Om, di Tunas Bangsa juga, sama dengan Aysha." Tak urung Byantara juga merasa lega akan penerimaan Samudra. "Kamu yang punya motor di depan? Aysha pulang sama kamu?" Pertanyaan Samudra kembali membuat Byantara gugup. Ia melirik pada Ara yang tampak tengah tersenyum geli sambil memandangnya. Byantara meneguk ludahnya, memilih kata sebelum menjawab. "Iya, Yah. Tadi Aya pulang bareng sama Byan, karena waktu Ibu mau jemput, Aya masih belum selesai ekskulnya." Potong Aysha yang sudah turun dari lantai dua, setelah menaruh tas kerja ayahnya di kamar. 'Maafin Aya bohong dikit ya, Yah.' Byantara merasa tertolong dengan kehadiran Aysha walau merasa kurang nyaman karena Aysha sedikit berbohong. Ia melirik ke arah Aysha namun gadis itu menghindari kontak mata dengannya. "Ayah udah pernah bilang, kan. Jangan naik motor. Naik motor itu resiko kecelakaannya lebih besar dibanding mobil. Tersenggol aja bisa jatuh terpental, kalau mobil masih ada kerangka pelindungnya." Ternyata Samudra tak melepaskan begitu saja. "Iya, lain kali gak lagi." Aysha yang kini melirik pada Byantara. Laki-laki itu juga tengah menatap ke arahnya dengan wajah pias. "Sudah-sudah, tadi kalian mau makan, kan?" Ara memutus suasana tegang yang tengah menyelimuti ruang makan. "Ayo dimulai, nanti keburu dingin lagi makanannya." Menyorong bahu Aysha dan Byantara untuk duduk di kursi meja makan. "Ayah mau ikut makan juga, atau mau langsung istirahat dulu?" Ara memeluk pinggang Samudra, berusaha mengalihkan pandangan suaminya dari Aysha dan Byantara yang sudah duduk bersebelahan di meja makan, membelakangi mereka. "Itu_" "Ayo ke kamar, aku kangen, pengen peluk-peluk." Ara berjinjit, berbisik di telinga Samudra sambil mengecup cepat cuping telinga suaminya. Samudra menghela nafasnya, ia bisa apa kalau Ara sudah begitu. Menurut saja saat tangannya di tarik oleh Ara menaiki undakan tangga. "Aya, ibu temenin Ayah istirahat dulu. Nanti kabari kalau Byan mau pulang," ucap Ara sedikit keras sambil menaiki tangga. Di meja makan, kedua remaja itu mengambil makanan dalam diam. Byantara tiba-tiba kehilangan selera makannya saat membayangkan tak akan ada kesempatan lagi baginya untuk mengantar ataupun menjemput Aysha. Apalagi tadi Aysha sendiri yang mengatakan tak akan lagi. Kembali menghela napas kasar, malas-malasan Byantara menyuapkan nasi ke dalam mulutnya. "Aya, yang lain pada kemana? Kok cuma ada kalian berdua? Bukannya Ayahmu sudah pulang?" Suara Airina terdengar dari arah belakang, baru keluar dari kamar tidur bersama Donni sang suami. "Ayah sama ibuk ke kamar, Oma. Ayah mau istirahat kayaknya. Oma sama Opa, makan lagi, yuk." Aysha menawari Oma, Opa nya. "Opa mau puding aja, Sayang. Tadi sudah makan nasi." Kali ini Opa Donni yang menjawab. Donni tersenyum ke arah Byantara yang tengah tersenyum padanya. Byantara menawari Donni makan sebagai sopan santun. "Silahkan, silahkan, Opa pengin makan puding aja. Oma tadi ada bikin puding coklat kesukaan Opa," jawabnya sambil tersenyum lebar. "Kesukaan Aya juga, Opa." Aysa tak mau kalah. "Iyaa, kesukaan Aya juga." Opa menjawab protes Aysha dengan terkekeh. "Kata Oma, kamu anaknya Damar? Bukannya kalian tinggal di Surabaya, ya?" Opa beralih perhatian pada Byantara. "Iya Opa, saya Byantara. Iya benar kami kemarin tinggal di Surabaya, tapi sejak bulan enam kemari, semua pindah ke Jakarta lagi, Opa. Papa mau ngurus perusahaan keluarga yang di sini." Byantara menjelaskan. "Danisha kenapa? Mau pensiun dini dia?" Tawa Opa lagi. Byantara ikut tertawa mendengar komentar Donni. Bersama Oma dan Aysha, mereka berempat akhirnya mengobrol panjang lebar tentang segala hal sambil makan dan menikmati puding buatan Oma Airina. --- "Kemarin karena terpaksa, gakda pilihan, makanya aku izinin. Tapi kan tadi, dia bisa dijemput supir jam berapapun Aya selesai, gak harus motoran lagi, Neng." Ara memutar malas bola matanya. "A', gak ada orang yang pengin kecelakaan. Dan gak ada juga orang yang bisa nolak kalau bencana akan datang. Yang penting kita berusaha sebaik mungkin dan selalu berdoa untuk diberi yang terbaik. Sisanya ya, pasrah sama Allah." "Nah, itu! Memilih untuk naik mobil ketimbang motor itu, adalah usaha yang terbaik." Samudra tak mau kalah. Ara mencebik pelan. "Byantara juga pasti hati-hati bawa motornya, A'. Kalau dia anak yang sembrono, pasti papa mama nya gak akan izinin dia pakai motor." "Kalian itu harta Aa' yang paling berharga. Gak ada di dunia ini yang bisa menggantikan. Kalau sampai sesuatu terjadi pada salah satu dari kalian, mungkin Aa' bisa gila." Samudra memeluk erat sang istri, menghidu puas wangi tubuh yang dua malam ini jauh dari dari pelukannya. Ara membalas erat pelukan sang suami, ia paham kekhawatiran suaminya itu. Namun rasa sayang kadang melupakan kenyataan, bahwa ada yang namanya suratan takdir. Tidak ada yang bisa mencegah atas apa yang Allah beri dan tidak ada yang bisa memberi atas apa yang Allah cegah. "Kalau dia mau dekat-dekat dengan Aya, suruh dia pakai mobil." Ara meregangkan pelukannya kemudian tertawa. "Mereka itu anak SMA, A'. Mainnya masih pakai motor." "Aa' dulu SMA kelas tiga udah pakai mobil." Samudra protes. "Aa' mah, sok keren!" cibir Ara. "Lah, emang Aa' udah keren dari orok, gak perlu nunggu pakai mobil." Sombongnya, yang kemudian mendapat cubitan gemas dari sang istri. "Kenapa kamu kayaknya pengen banget mereka dekat?" Samudra serius menatap istrinya. "Aa' gak setuju?" Ara balas bertanya. "Ini bukan masalah setuju atau enggak. Jodoh udah diatur Allah. Kita tinggal terima aja nanti. Aku cuma pengen tau alasan kamu ingin mereka dekat." "Mungkin karena alasan yang sama waktu Ayah dan Mama ngizinin aku jalan dengan Aa'. Karena sudah kenal dengan seluruh keluarganya. Setidaknya, kalau panjang jodoh hingga menikah, Byantara akan berpikir seribu kali jika ingin menyakiti anakku. Dan anakku yang manja itu tetap mendapat kasih sayang dari keluarga mertuanya, yang jelas ada Danisha yang akan jadi pelindungnya. Aku gak mau anakku dapat mertua galak." Ara memanyunkan bibirnya di akhir kalimat. Samudra mengangguk paham. Kemudian dengan wajah jahilnya ia menjawil hidung sang istri. "Bukan demi menyambung hubungan kamu dengan Damar yang dulu gagal?" Ara membulatkan matanya sesaat kemudian memicing serius menatap Samudra. "Itu juga termasuk alasan, gak jodoh sama papanya, biar jodoh di anaknya." "Apa?" Ara segera melepas rangkulan Samudra dan menghindar menjauh, suara tawanya sudah terdengar sebelum Samudra menyadari Ara ternyata balas menjahilinya. Samudra yang memiliki kaki lebih jenjang, gampang saja mendapatkan Ara kembali. Ikut tertawa dengan Ara. Ia memang sempat terkejut dan termakan ucapan Ara barusan tadi, namun sedetik kemudian tersadar bahwa istrinya itu telah berhasil mengelabuinya. . . . Komen yuuk.. cerita ini aku ikutkan kontes menulis Innovel " All The Young. " doakan lancar seleksinya ya. luv, luv, luv ... tengkyuu
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD