13. Meet Papa Damar

1389 Words
Ketemu anak SMA yuuk.. Hepi reading yaa ^_^ . . "Pa, aku dibikinin SIM dong." Byantara mencecahkan pantatnya di samping sang papa yang tengah asyik menonton tv. Damar menoleh sesaat pada sang putra yang tak ada angin, tak ada hujan tiba-tiba membicarakan SIM. "Kamu kan sudah punya SIM." "SIM A, Pa." "Loh? Jadi selama ini nyetirin Mami ke sana-sini, SIM-nya gak ada?" Danisha yang mendengar pembicaraan ayah dan anak itu, datang mendekat. Byantara meringis sambil mengacungkan tanda V dengan jarinya. "Byantara udah 18 tahun, kan? Udah bisa bikin SIM A, Dam, kenapa gak dibikinin?" Dewanto, kakek Byantara turut mengomentari. "Ribet nanti kalau ada pemeriksaan di jalan." Keluarga Damar dan Danisha tengah berkumpul bersama di rumah Dewanto. Hal biasa yang mereka lakukan setidaknya dua kali dalam sebulan. Merasa mendapat dukungan dari banyak pihak, Byantara tersenyum lebar pada sang papa. "Besok, Pa?" "Buru-buru amat. Setelah punya SIM, bakalan minta mobil, pasti!" Dengus Damar sambil menjitak pelan kepala anak sulungnya itu. Byantara tertawa, tak menampik tuduhan Damar, ia memainkan kedua alisnya meledek. "Tanya Mama dulu kalau urusan beli mobil." Damar mendengus pasrah. "Yes! Mama mah, pasti setuju aja." Jawab Byantara senang. Ia yakin Mamanya itu akan selalu luluh dengan rayuanya. Ting ... "Axelle udah di depan. Byan jalan dulu, Pa!" Ucapnya saat chat dari Axelle masuk. "Mau kemana?" Tanya Damar cepat. "Jangan pulang terlalu malam, besok hari sekolah!" "Siap Boss!" Jawab Byantara sambil mulai menyalami anggota keluarganya satu-satu tak lupa mencium tangan mereka. "Anakmu itu udah mulai nempel ama anaknya Ara, Kak! Pasti itu alasannya kenapa dia tiba-tiba minta dibikinin SIM." "Anaknya Ara, Aysha?" Dewanto memastikan. "Iya dong, Pa. Anak Ara cewek, kan, cuma satu." Kekeh Danisha. "Bukannya keci-kecil dulu sering dijodoh-jodohkan, ya?" Tanya Dewanto lagi penasaran. "Iya, Byan kecil dulu demen banget ngintilin Aysha kesana kemari." Kekeh Dinda yang kini sudah ikut bergabung di ruang keluarga. "Sampai repot bujuknya kalau mau diajak pulang." Sheila ikut berbagi nostalgia. "Mereka pacaran?" Damar penasaran. "Gak tau kalau itu, temenan sih pastinya. Byantara udah berapa kali nganterin Aysha pulang." Damar dan Sheila yang baru tahu kabar tersebut saling bertatapan kemudian terkekeh geli. Selama ini mereka belum pernah mendengar Byantara dekat dengan anak perempuan. Ini tentu saja merupakan hal baru bagi keduanya. "Papa setuju kalau mereka berdua serius pendekatan. Udah kenal seluruh keluarganya, gak khawatir lagi." Ucap Dewanto. "Masalahnya, Kak Sam itu posesifnya gak cuma ke Ara, tapi ke Aysha juga, jadi Byantara harus pintar-pintar ambil hatinya." Danisha tertawa sambil menepuk bahu Damar. "Anak lo harus kuat mental, Kak!" ucapnya lagi sambil tertawa. "Mereka masih sama-sama muda, apapun bisa terjadi. Mengalir aja. Kalau memang jodoh gak bakal kemana. Anak gue high quality, rugi mereka kalau gak diterima." Damar menjawab santai sambil tertawa. Yang lain ikut tertawa mendengar ucapan Damar. "Assalamualaikum." Terdengar suara ucapan salam dari ruang tamu. "Waalaikumusalam." Serempak isi rumah menjawab salam. "Loh, Aysha? Astagaa, aunty lupa kalau pesan makaroni panggang sama ibu kamu." Semua mata sontak tertuju pada gadis yang siang ini menggunakan dress selutut berwarna kuning pastel itu. Baru saja di ceritakan, tiba-tiba orangnya muncul. "Iya, Aunty. Aya telpon ke ponsel Aunty gak dijawab-jawab." Aysha memasang wajah cemberut yang menggemaskan. "Uluuh cayang. Maaf, sepertinya ponsel Aunty masih di tas, di ruang makan, jadinya gak dengar suara deringnya." Danisha menghampiri Aysha dan mengambil alih pinggan makaroni panggang pesanannya. "Kamu sama siapa kesini? Eh, salim dulu tuh, ama kakek dan neneknya Andin, terus ama yang lainnya. Aunty antar ini ke dapur dulu biar disiapkan ama si Mbak." "Aya sama supir, aunty." Aysha tersenyum menjawab sambil mendatangi satu persatu keluarga Danisha dan menyalaminya. "Aduh, cucunya Airina makin cantik aja. Kayaknya kita udah lama gak ketemu ya, Sayang." ucap Dinda, mamanya Danisha, saat Aysha menyalaminya. Tak lupa Dinda mencium pipi Aysha yang sudah memerah karena malu. Setelah menyalami Dewanto, Aysha bergeser kepada Sheila yang menyambutnya dengan berdiri. "Halo sayang, apa kabar? Masih ingat tante, kan? Yang ketemu di kantornya Aunty Shafa sebelum masuk sekolah." Aysha tersenyum mengangguk, ia ingat, karena waktu itu Sheila begitu ramah menyapanya, persis seperti saat ini. Padahal Aysha merasa baru sekali itu bertemu. "Ingat, Tante," Jawabnya. Seperti Dinda, Sheila pun mencium pipi Aysha. "Kenalin, ini suami tante, Papanya Byantara." Aysha sedikit terkesiap, namun dengan cepat menguasai dirinya kembali, hanya saja wajahnya tak bisa berbohong. Pipinya kembali merona saat Sheila menyebutkan nama Byantara. Pemandangan itu tak dilewatkan oleh Damar. Ia menyadari remaja di hadapannya ini memiliki rasa terhadap putranya. Ia kemudian membalas uluran tangan Aysha untuk bersalam. "Mata kamu mirip sekali dengan Ara," ucapnya seketika saat mata mereka beradu pandang. Ucapan samar itu terdengar jelas oleh Aysha. Aysha hanya mengangguk tersenyum dengan pipi yang bertambah merah. "Aya gak langsung pulang, kan? Main di sini dulu ya, ada Andin juga kok." Danisha sudah kembali bergabung di ruang keluarga. "Ha? Mm, Aya belum bilang Ayah." Aysha ragu-ragu, sebenarnya ia ingin bertemu dengan Andin putri sulung Danisha, karena sejak sekolah dimulai, mereka belum sempat bertemu lagi. Banyak gosip K-pop yang ingin ia bahas. "Itu mah, gampang. Nanti aunty yang izin ke Ayah kamu." Danisha tersenyum meyakinkan. Aysha tersenyum mengangguk dan pasrah, berdoa saja semoga ayahnya mengizinkan. "Aya duduk dulu ya, biar aunty suruh si Mbak panggilin Andin di atas." Perintah Danisa sambil tangannya mencari kontak Samudra. Aysha menarik nafas panjang dan lagi-lagi tersenyum mengangguk. Ia mencari sofa single kosong untuk ia duduki. Namun yang kosong adanya tepat di sebelah Damar dan di samping Nenek. "Sini, sayang" "Sini, Ay." Ucapan Sheila dan Dinda terdengar berbarengan, membuat semua tertawa. Akhirnya Aysha memilih duduk di dekat Dinda. Ia takut jantungnya collapse jika duduk di dekat orang tua Byantara. "Oma Ai, sehat?" Tanya Dinda saat Aysha sudah duduk dengan nyaman di sampingnya. "Alhamdulillah sehat, Nek. Bulan lalu baru pulang umroh bareng ama Oma Ve." Jawab Aysha yang perasaannya sudah jauh lebih tenang sekarang. "Wah, Alhamdulillah. Oma Ve juga sehat berarti ya." "Assalamualaikum." Belum sempat Aysha menjawab, terdengar teriakan salam dari arah ruang tamu. "Kenapa balik lagi?" Damar menyapa heran. "Kok teriak-teriak, sih, Kak?" Sheila menegur anak sulungnya. "Dompetku ketinggalan," ucapnya cepat sambil berlari kecil menuju kamar tempatnya berganti pakaian. Aysha melirik ke arah Byantara berlari ke dalam tadi. Sebenarnya ia sudah menduga dan mempersiapkan diri sedari rumah bahwa kemungkinan dia akan bertemu dengan Byantara di sini. Namun ternyata, saat dugaannya menjadi nyata, tetap saja perutnya melilit dan jantungnya memompa cepat. Terciduk oleh Damar saat memperhatikan Byantara, Aysha cepat-cepat menunduk dan mengalihkan pandangannya. "Aunty udah izin ke ayah kamu, katanya pulang sebelum maghrib." Danisha telah selesai menelepon Samudra. "Oh, ya udah Aunt. Terus, sopirnya gimana? Suruh pulang dulu atau nunggu?" "Aduh, aunty lupa nanya," cengir Danisha dengan rasa bersalah. "Ya udah, biar Aya aja yang tanya, Aunt." Aysha membuka sling bag mininya. "Dompetnya dah ketemu! Aku per_, Ay?" Byantara yang terburu-buru karena ditunggu Axelle menghentikan langkahnya seketika. Salah tingkah, Aysha hanya bisa meringis. "Nek, Aya nelpon ayah dulu," izinnya sambil bangkit menjauh menuju taman samping agar bisa bicara lebih leluasa dengan sang ayah. Diliriknya sekilas Byantara yang masih terpaku menatapnya dari seberang meja. "Katanya mau pergi?" Tanya Damar pada anaknya yang masih mematung memperhatikan Aysha yang berjalan ke arah taman. Danisha terkekeh melihat kelakuan sang keponakan yang tampak bengong. "Byan!" Panggil Damar lagi. "Kok dia bisa ada di sini, sih?" Tanyanya pelan, seolah pada dirinya sendiri. Tak menghiraukan pertanyaan papanya, ia malah menyusul Aysha ke taman belakang. "Lo kapan nyampe?" Tanya Byantara saat Aysha telah selesai menelepon. Terkejut saat tiba-tiba mendengar suara Byantara yang sudah berdiri di belakangnya. "Ngagetin, ih!" "Kapan nyampe?" Tanyanya lagi. "Barusan." Aysha menjawab pelan. "Ngapain?" "Maksudnya?" "Lo kemari ngapain?" "Nganterin pesanan Aunty Danisha." Aysha beranjak ingin kembali ke ruang keluarga. "Lama atau langsung pulang?" Byantara menghalangi jalan Aysha. "Kenapa?" Aysha balas bertanya dengan kesal. "Kalau masih lama, tungguin gue. Gue mo pergi bentar ama Axcelle, udah terlanjur janji." "Lah, kalau mau pergi, ya pergi aja. Gue tinggal, karena mau main ama Andin, kok." "Ya udah pokoknya jangan pulang dulu. Gue balik sejam lagi." Setelah mengucapkan kalimat paksaan itu, Byantara pergi meninggalkan Aysha yang memasang wajah kesal. 'Apa-apaan dia itu? Dasar aneh!' Dumel Aysha pelan. "Hampir batal pergi anak lo, Kak!" Kekeh Danisha saat akhirnya Byantara pamit pergi. "Bibit-bibit calon bucin mulai kelihatan." Sheila ikut menertawakan anaknya. Damar mendengus, ia kemudian berlalu meninggalkan dua emak-emak yang kini sedang tertawa bahagia karena tujuan mereka menjodohkan Byantara dengan Aysha tampaknya berpeluang besar. . . . Dikomen ya gengs.. ini bakal tayang rutin awal Januari. So, mari kita memupuk kesabaran ?? Luv..luv..luv
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD