Lift bergerak naik, beberapa kali harus berhenti untuk menurunkan penumpang yang buru-buru keluar di lantai tujuan mereka. Revina dan Tristan berdiri berdampingan, menunggu hingga akhirnya tiba di lantai tempat tinggal Revina. Lantai 16.
Seiring lift menanjak, Revina hanya bisa menggerutu dalam hati. Kenapa ia malah mengiyakan syarat Tristan? Betapa konyol—membiarkan pria itu ikut masuk ke unit apartemen tempat tinggalnya. Terlebih setelah apa yang Tristan lakukan di gudang, bagaimana mungkin Revina membiarkannya bertamu?
Namun, Revina sudah tak bisa berubah pikiran lagi, terlebih pintu lift terbuka tepat di lantai 16 tujuan mereka. Revina berjalan keluar dari lift, sedangkan Tristan mengikutinya dari belakang.
Tidak ada percakapan sepanjang mereka menyusuri lorong apartemen. Hingga akhirnya, Revina berhenti di depan sebuah pintu. Ia mengeluarkan kartu kunci, lalu membuka pintunya. Detak jantungnya melonjak saat Tristan ikut masuk dan menutup pintu di belakang mereka.
Bagaimana ini? Benarkah Tristan akan menepati janjinya—bahwa syaratnya sekadar mampir, tanpa ada maksud lain?
Baiklah, jika Tristan berani macam-macam. Kali ini Revina tak akan tinggal diam. Ia berjanji akan memberi pelajaran berharga, minimal menendang bagian bawah pria itu. Awas saja!
“Kamu serius nggak mempersilakan aku duduk?” tanya Tristan. “Atau kamu ingin aku melihat-lihat keseluruhan ruangan yang ada di sini?”
“Si-silakan duduk. Aku siapin minum dulu,” jawab Revina seraya mengatur suhu ruangan.
Tristan tersenyum lalu mengambil posisi duduk di sofa yang empuk dan nyaman. Sementara itu, Revina sudah bergegas untuk mengambil air minum yang akan ia suguhkan pada Tristan.
“Maaf, aku jarang kedatangan tamu. Jadi, hanya ada ini.” Revina berkata sambil meletakkan minuman kaleng serta makanan ringan di meja.
“Sebetulnya nggak perlu repot-repot, tapi terima kasih.”
Revina duduk di sofa yang berseberangan dengan yang Tristan duduki.
“Sudah mengabari Hans kalau kamu tiba dengan selamat?”
Revina mengangguk-angguk. “Udah,” jawabnya. Tadi selagi mengambil air, Revina memang sekalian mengirimkan chat pada sang pacar.
“Kamu nggak akan lama, kan, di sininya?” tanya Revina kemudian, sangat berhati-hati.
“Baru aja duduk. Minum pun belum, tapi udah diusir secara nggak langsung.”
“Maaf, bukannya ngusir. Tapi aku merasa nggak nyaman kalau begini.”
“Takut dikira lagi selingkuh, ya?” kekeh Tristan. “Bercanda, kok. Bercanda. Lagian aku mampir ke sini bukan sebagai om-nya Hans, tapi sebagai mantan pacar kamu,” lanjutnya.
“Kenapa masih bahas itu, sih?”
“Kamu pikir saya ke sini mau membahas apa kalau bukan membahas itu?”
“Padahal semua pembahasan udah selesai waktu kita di mobil tadi.”
“Belum, Revina. Pembahasan kita di mobil tadi bahkan nggak ada setengahnya.”
“Maksudku, sebanyak apa pun pembahasannya udah nggak penting lagi. Buat apa coba?”
“Aku ingin kamu tahu apa yang aku lalui setelah kamu pergi begitu aja.”
“Aku nggak mau tahu, Tristan.”
“Kamu setuju aku mampir.”
“Cuma mampir, kan? Enggak lebih dari itu,” jawab Revina cepat. “Kamu sendiri yang bilang syaratnya hanya satu. Kalau begini caranya, berarti syaratnya lebih dari satu dong.”
“Delapan tahun lalu,” ucap Tristan, siap untuk bercerita.
Bukan masalah Revina tidak setuju dengan obrolan ini. Tristan akan tetap bercerita. Ia ingin Revina tahu apa yang terjadi sebenarnya.
“Satu bulan setelah kamu menghilang, aku yang kehilangan semangat dan harapan akhirnya terpaksa menyetujui pernikahan yang orangtuaku atur. Tapi dalam pernikahan itu, aku sama sekali nggak mencintai istriku—yang sekarang menjadi mantan istri.”
Meskipun awalnya enggan, pada akhirnya Revina mendengarkan cerita pria di hadapannya.
“Pada saat itu aku mulai pasrah, jika menikah menjadi satu-satunya cara untuk melupakanmu, aku akan jalani karena nggak ada pilihan lain. Dan selayaknya suami istri, kami menuntaskan urusan ranjang kami sebagaimana mestinya. Tapi, karena kamu yang pertama melakukannya denganku ... aku jadi membandingkan kalian. Aku tahu istriku sudah melakukannya dengan pria lain sedangkan kamu pertama kali melakukannya denganku.”
“Tapi aku nggak mempermasalahkan itu. Toh aku juga bukan pertama kali dengannya, kan? Jadi ini adil menurutku. Saat kami punya anak, aku sengaja memberinya namamu agar saat aku nggak sadar mengigau menyebut nama Revina ... itu akan terdengar seolah aku menyebut nama putriku. Dan akibatnya aku semakin sulit untuk move-on darimu. Semakin hari, perasaan cintaku semakin menjadi-jadi sampai-sampai rasanya ingin meledak.”
Tristan melanjutkan, “Awalnya semua baik-baik aja, sampai aku tahu kalau ternyata istriku punya pria idaman lain. Konyolnya, ternyata mereka udah menjalin hubungan sejak kami belum dijodohkan. Dalam kata lain, dia juga terpaksa menikah denganku.”
“Tristan dengar, apa pun yang kamu ceritakan nggak akan mengubah apa pun. Kita juga nggak akan tiba-tiba bersatu lagi.”
“Aku hanya ingin kamu mendengarkan. Bisakah aku melanjutkan ceritaku?”
Revina tidak menjawab, sebagai tanda ia mempersilakan Tristan untuk lanjut bercerita.
“Sampai akhirnya kami sepakat cerai. Ternyata dia bersedia dijodohkan demi warisan, hati dan cintanya hanya untuk pria idaman lain yang kini udah menjadi suaminya, bukan untukku,” jelas Tristan lagi.
“Satu hal yang pasti, aku nggak sakit hati sama sekali dia punya pria idamannya sendiri. Aku nggak merasa patah hati, bahkan semudah itu melupakannya. Lain ceritanya sama kamu, Rev. Aku sama sekali nggak bisa melupakanmu. Dan rasanya bersyukur banget kita bisa ketemu lagi seperti ini.”
Tidak, Revina berjanji tidak akan terbuai.
“Kembali ke pembahasan tentang perceraian. Soal hak asuh, jelas jatuh ke tangan mantan istri. Sekarang Revina bersamaku dalam rangka liburan aja. Jujur, aku nggak peduli Revina anak siapa—aku akan tetap menganggapnya sebagai putriku terlebih dia memakai namamu.”
“Tunggu, berarti sekarang kamu ada di sini dalam rangka liburan?” tanya Revina kemudian.
“Ya, mana mungkin aku tinggal di rumah Mas Wijaya selamanya? Tentu aku harus pulang lagi. Terutama mengantar Revina kecil kembali pada mamanya.”
Revina merasa lega. Ia seperti baru saja mendapatkan angin segar saat sedang panas-panasnya. Jujur, wanita itu sempat khawatir jika Tristan berada di sini selamanya. Apalagi Tristan terang-terangan bersikap ‘nakal’ padanya.
Namun, setelah mendengar bahwa pria itu hanya sedang liburan bersama putrinya dan akan pulang dalam waktu dekat, membuat Revina benar-benar bersyukur. Itu artinya ia akan terbebas dari Tristan dan hubungannya dengan Hans akan baik-baik aja.
“Ah, aku sempat takut banget,” batin Revina.
“Rencananya kapan kamu akan kembali pulang?” Revina sungguh penasaran. Lebih cepat Tristan pulang, itu lebih baik.
“Beberapa hari lagi.”
Dalam hati Revina bersorak gembira. Yes!
Tristan masih berbicara, “Makanya aku ingin mampir dulu ke sini. Kita bisa ngobrol sambil melepas rindu. Jujur, aku kangen banget sama kamu.”
“Maaf, Tristan—”
“Iya, oke. Aku paham. Untuk itu, sebelum aku pulang, aku mau yang terakhir kalinya....”
“Terakhir kalinya apa?”
Tristan tidak langsung menjawab, melainkan berpindah tempat duduk ke samping Revina. Spontan Revina langsung menjauh, tapi Tristan secepatnya menahan agar wanita itu tetap di dekatnya.
“Apa ini?”
“Aku nggak akan kasih tahu Hans, Mbak Karmila maupun Mas Wijaya tentang apa yang terjadi delapan tahun lalu, asalkan—”
“Loh, kok beda lagi? Bukannya tadi syaratnya cuma satu, ya? Aku bahkan udah memenuhi dua hal yang kamu inginkan padahal kesepakatannya satu aja. Pertama, kamu ingin mampir ... aku mengiyakan. Kedua, kamu ingin aku dengerin cerita kamu dan aku lakukan. Itu udah melebihi batas.”
“Memang benar aku bilang kalau hanya ada satu syarat untuk tutup mulut, yang kamu sebutkan itu satu A dan satu B. Sekarang aku mau sebutkan syarat satu C alias yang terakhir.”
“Keluar sekarang juga! Aku nggak mau kamu ada di sini lagi.” Revina mulai marah.
“Aku akan keluar lalu meninggalkan kota ini, tapi sebelumnya ... syarat satu C dulu.”
“Apa lagi, sih?!” Revina hanya akan mendengarkan, tidak janji akan memenuhinya.
“Syaratnya itu nggak perlu aku sebutin. Langsung praktik aja,” ucap Tristan.
Revina mengernyit. “Eh? Maksudnya?”
Tristan tidak mengatakan apa pun lagi. Kali ini yang pria itu lakukan adalah menghapus jarak di antara mereka. Dalam posisi duduk di sofa yang sama dan saling menyerong satu sama lain sehingga berhadapan, Tristan tanpa ragu melumat bibir Revina.
Selama beberapa saat Revina dibuat terkejut sehingga sempat nge-freeze dan tidak berdaya, sehingga membiarkan mantan kekasihnya itu bertukar saliva dengannya.
Namun, saat kesadaran Revina mulai datang, wanita itu segera berusaha melepaskan diri. Ia meronta, berharap Tristan mengakhiri ciuman mereka. Sayangnya yang Revina lakukan hanya sia-sia lantaran dirinya kalah tenaga. Ya, Tristan mengunci tubuhnya dan terus-terusan mencium bibirnya dengan penuh hasrat dan menggebu-gebu.
Perlahan tapi pasti Revina pun mulai melunak. Ia memejamkan mata dan pelan-pelan merespons ciuman yang Tristan lakukan. Revina membalasnya dan semakin lama ciuman mereka, justru semakin tak bisa dikendalikan.
Revina tak bisa memungkiri kalau bersentuhan bibir dengan Tristan berhasil menciptakan rasa nikmat. Rasa yang pernah ada dan mereka rasakan dulu, kini membuat keduanya bernostalgia. Revina tahu ini salah, tapi dirinya sudah telanjur terbuai.
Sekali dimulai, rasanya sulit untuk mengakhirinya. Oh tidak, bagaimana ini?
Sungguh, Revina jadi bertanya-tanya. Bolehkah khilaf sekali saja? Toh sebentar lagi Tristan akan pergi meninggalkan kota ini dan tidak akan kembali lagi. Anggap saja ini ciuman perpisahan mereka.
Ciuman pertama setelah delapan tahun sekaligus ciuman terakhir....