Satu bulan kemudian....
Setelah hari itu, hari di mana Revina bertemu lagi dengan Tristan setelah delapan tahun, lalu secara tak terduga Hans tiba-tiba mengalami diare pada detik-detik pria itu hendak mengantar Revina pulang. Ending-nya Revina terpaksa pulang bersama Tristan—yang menjadi momen gila karena Revina mengizinkan mantan kekasihnya itu mampir ke apartemennya.
Lebih gilanya lagi, pertemuan diakhiri dengan ciuman panas yang awalnya Revina tolak mentah-mentah, tapi lambat laun wanita itu terbuai sehingga membalas ciuman tersebut.
Jujur, itulah yang Revina sesali hingga saat ini. Bagaimana mungkin ia mengkhianati Hans? Sekalipun itu pertama kalinya Revina khilaf, tapi tetap saja itu tak bisa dibenarkan.
Sumpah demi apa pun Revina sangat merasa bersalah, tapi yang terjadi ... sudah telanjur terjadi. Hal yang harus Revina garisbawahi adalah jangan sampai hal semacam itu terulang lagi. Kabar baiknya, Tristan benar-benar menepati ucapannya bahwa pria itu sungguh tak pernah muncul lagi. Tristan tidak akan mengganggu hubungan Revina dengan Hans. Setidaknya itu yang bisa Revina syukuri.
Kini, satu bulan sudah berlalu. Revina masih tak bisa memungkiri kalau momen yang ia lewati dengan Tristan hari itu tak bisa dilupakan dengan mudahnya. Terkadang wanita itu masih terbayang saat Tristan melumat bibirnya tanpa ampun. Rasanya itu ... lebih mendebarkan.
Padahal Revina tak boleh membandingkan, tapi bisa-bisanya ia malah menganggap ciuman dengan Tristan jauh lebih mendebarkan daripada dengan Hans.
“Aku pasti nggak waras,” batin wanita itu.
“Rev.”
Revina spontan terkesiap saat mendengar namanya dipanggil oleh suara familier. Suara itu berasal dari arah pintu ruangan kepala divisi Marketing&Branding atau MnB.
“Iya, Bu Yuyun?” jawab Revina yang langsung terkesiap. Revina tentu saja sangat menghormati Bu Yuyun. Selain karena atasannya itu jauh lebih tua darinya, Bu Yuyun itu salah satu yang berjasa dalam hidup Revina.
“Kamu udah punya rencana makan siang?” tanya Bu Yuyun kemudian.
Revina ingat, saat evaluasi karyawan kontrak menjadi karyawan tetap beberapa tahun lalu, Bu Yuyunlah yang merekomendasikan Revina untuk diangkat menjadi kartap. Bahkan, saat Bu Yuyun dipromosikan menjadi kepala divisi dua tahun yang lalu, ia secara langsung memilih langsung Revina untuk menjadi sekretarisnya.
Dan sampai sekarang, Bu Yuyun termasuk atasan yang humble dan tidak pernah satu kali pun menjelma menjadi bos menyebalkan bagi Revina. Malah sebaliknya, Revina merasa memiliki bos seperti Bu Yuyun adalah suatu keberuntungan.
“Rev? Kamu melamun?” Suara Bu Yuyun kembali membuyarkan lamunan Revina.
Ah, bisa-bisanya Revina malah melamun.
“Makan siang ya, Bu? Kebetulan belum ada rencana. Temen-temen tim lagi pada di luar buat riset pasar, jadi kemungkinan aku makan siang di kantin aja sendirian,” jelas Revina. “Bu Yuyun mau dipesankan sesuatu?”
“Enggak, saya mau ngajak kamu makan siang bareng. Saya traktir.”
“Oh, oke.” Revina mengangguk-angguk.
***
Revina pikir Bu Yuyun akan mengajaknya makan siang di tempat biasa, tapi ternyata bosnya itu mengajaknya makan siang di restoran yang lumayan mewah. Revina mencoba mengingat-ingat, apakah ini hari ulang tahun atau hari spesial lainnya ... tapi jelas bukan. Revina tidak mungkin lupa hari ulang tahun bos terbaiknya.
Tunggu, apa Bu Yuyun baru mendapat bonus? Hanya ini kemungkinan yang masuk akal.
“Kamu pasti kaget, ya? Tiba-tiba saya ngajakin makan siang di sini.”
“Hmm, lumayan. Sebenernya ditraktir makan siang sama Bu Yuyun itu udah sering banget, tapi kalau di restoran yang mewah begini ... biasanya hari-hari spesial aja, kan?”
Bu Yuyun terkekeh. “Kamu se-hafal itu.”
“Jadi, ada apa nih?” tanya Revina penasaran.
“Coba ingat-ingat, apa yang paling saya inginkan sejak dulu? Selain dipromosikan ya, karena saya udah kepala divisi sekarang,” kekehnya.
Revina tampak berpikir sejenak. “Hmm, dipindahkan ke kantor pusat?” tebaknya, agak ragu. Tapi seingatnya Bu Yuyun memang ingin bekerja di kantor pusat. Selain cita-cita sejak dulu, jarak dari rumah ke kantor juga lebih dekat. Setidaknya Revina ingat karena bukan sekali dua kali Bu Yuyun mengatakannya.
“Kamu memang sangat mengenal saya, Rev. Dan ya ... setelah bertahun-tahun akhirnya saya dipindahkan ke kantor pusat,” ucap Bu Yuyun, sangat antusias.
Revina kaget tebakannya benar. Dan tentu saja ia juga ikut senang. “Waaah, selamaaat! Akhirnya harapan yang satu ini terwujud juga ya, Bu,” kata Revina. “Sekarang aku nggak heran Ibu tiba-tiba ngajak makan siang di sini,” sambungnya.
Bu Yuyun tersenyum, Revina juga.
“BTW mulai kapan pindahnya, Bu?”
“Dalam waktu dekat.”
“Hah?” Revina kaget karena menurutnya ini terlalu mendadak.
“Maaf ya Rev, baru bilang sekarang. Saya sengaja keep info tawarannya sejak hampir satu bulan lalu dan memutuskan nggak cerita ke siapa-siapa dulu, takutnya nggak jadi, kan?” jelas Bu Yuyun. “Suami saya pun belum tahu soal ini. Dalam kata lain, kamulah yang pertama tahu,” sambungnya.
Revina mengerti sekarang. “Itu sebabnya Bu Yuyun sat-set banget ngerjain ini itu.”
“Maaf ya, Rev. Kamu udah dibikin repot sebulan belakangan.”
“Ya ampun, nggak repot sama sekali, Bu.”
“Cuma ada satu hal yang saya sayangkan, Rev. Saya nggak bisa ajak kamu, padahal saya kira bisa. Jujur, saya udah telanjur cocok sama kerjaan kamu. Enggak pernah mengecewakan.”
Revina tersenyum. “Makasih atas pujiannya, Bu. Aku pasti senang kalau ikut Ibu ke kantor pusat, secara Ibu ini atasan paling baik yang pernah aku temui,” ucapnya. “Tapi kalau dari sananya nggak bisa, asalkan aku nggak dipecat ... itu bukan masalah. Kabar baiknya, tim marketing satu itu kumpulan orang-orang kocak dan nggak toxic. Jadi meskipun sedih kehilangan Bu Yuyun, seenggaknya masih ada mereka yang bikin hariku lebih seru,” sambungnya.
“Saya sempat request bawa sekretaris sendiri supaya bisa ajak kamu, tapi nggak bisa. Aturannya memang begitu, kamu harus tetap stay di sini, supaya kepala divisi yang baru nggak kelimpungan sendiri. Enggak lucu, kan, kalau kepala divisi baru terus sekretarisnya juga baru?” kekeh Bu Yuyun.
Bu Yuyun menambahkan, “Jadi kamu nggak bakalan dipecat, malah bakal mati-matian dipertahankan. Jadi, siap-siap minta naik gaji.”
Revina tertawa. “Ibu bisa aja.”
“Ih, serius.”
“Hmm, selain gaji ... menurutku ada hal yang nggak kalah penting, Bu. Aku harap atasan baruku sebaik Bu Yuyun,” kata Revina. “Ah, aku yakin yang se-perfect Bu Yuyun itu mustahil, tapi seenggaknya jangan rese, itu udah lebih dari cukup, sih,” kekehnya melanjutkan.
“Kamu tenang aja, Rev. Pengganti saya baik, kok,” ujar Bu Yuyun. “Saya udah ketemu soalnya,” lanjutnya.
“Ah, syukurlah.” Revina tampak lega. “Jujur yang aku pikirkan saat Bu Yuyun bilang mau pindah ke kantor pusat, tapi secara aturan aku tetap di sini ... aku langsung mikir gimana nasibku dengan kepala divisi yang baru.”
Revina melanjutkan, “Kalau Bu Yuyun bilang dia orang baik, aku senang mendengarnya.”
“Baik dan ramah. Mana ganteng dan lajang.”
Revina hampir menyemburkan minumannya. Untung saja ia masih bisa mengendalikan dirinya.
“Maksud Bu Yuyun ... kepala divisi yang baru itu laki-laki?” Revina tak bisa menyembunyikan keterkejutannya.
“Ya. Laki-laki. Enggak akan saya bilang ganteng kalau perempuan,” canda Bu Yuyun.
Revina mengangguk-angguk. “Selagi orangnya baik ... nggak penting mau laki-laki atau perempuan.”
“Ngomong-ngomong katanya dia mau ke sini loh. Sebelum nanti beneran masuk kantor, hal pertama yang ingin dia lakukan adalah berkenalan dengan sekretarisnya. Secara dia, kan, bakalan paling sering sama kamu nih, Rev, jadi wajar kalau calon kepala divisi yang baru ini mau ketemu kamu dulu,” jelas Bu Yuyun. “Saya pun rencananya lusa mau ketemuan sama calon sekretaris baru saya di kantor pusat nanti.”
Revina mengangguk-angguk.
“Panjang umur. Nah, itu orangnya lagi jalan ke arah kita,” ucap Bu Yuyun lagi.
Sambil meraih gelas dan menempelkan sedotan ke dalam bibirnya, Revina refleks menoleh mengikuti arah yang ditunjuk Bu Yuyun.
Seolah adegan drama yang diperlambat, hal pertama yang tertangkap matanya adalah sepasang kaki berbalut celana formal. Langkah itu panjang, mantap dan elegan—cukup untuk membuat Revina langsung menebak ‘orang ini pasti bertubuh tinggi’.
Pandangan matanya kemudian naik perlahan, menelusuri detail demi detail. Semakin ke atas, semakin terasa ada sesuatu yang familier. Hingga akhirnya, tatapannya berhenti pada wajah sang calon atasan baru.
Detik itu juga, Revina berharap dirinya sedang bermimpi. Atau setidaknya, sedang berhalusinasi. Bukannya apa-apa, bagaimana mungkin sosok yang berdiri di hadapannya, dengan tatapan tajam yang tak asing ternyata adalah pria yang sebulan lalu khilaf berciuman dengannya.
Calon kepala divisi yang baru itu ... Tristan.
Astaga. Kok bisa?