Rasa panik langsung melanda Revina, terlebih saat ini Tristan sudah semakin mendekat ke arah tempat Revina dan Bu Yuyun duduk. Saking paniknya, minuman yang Revina telan seakan tersangkut di tenggorokan, membuatnya terbatuk keras.
“Uhuk, uhuk!”
Revina sungguh kesulitan mengendalikan diri, hingga seteguk minuman yang tertahan malah menyembur keluar dan tepat mengenai kemeja calon bos barunya. Spontan, Tristan menghentikan langkahnya.
“Mati aku...,” batin Revina.
Sumpah demi apa pun ini terlalu awkward. Tristan kini menatap ke bawah pada cipratan yang kini membasahi kemeja tepat di bagian dadanya. Seketika ruangan mendadak hening, beberapa orang yang kebetulan melihat menahan napas—menunggu apa yang akan terjadi selanjutnya, sebagian lagi menahan tawa.
Jangan ditanya bagaimana Revina sekarang. Wajahnya sudah memerah. Tangannya pun gemetar. Ia buru-buru mengambil tisu di meja. “Ya ampun ... sa-saya minta maaf, Pak!” katanya terbata, berusaha mengelap noda pada kemeja Tristan.
“Enggak usah, biar saya aja,” ucap Tristan, yang membuat Revina berhenti mengelap kemeja Tristan.
“Se-sekali lagi maaf, Pak.”
Sejenak, Tristan masih menunduk untuk menatap kemejanya yang basah, lalu mengangkat wajahnya kembali ke arah Revina. Tidak ada sedikit pun raut kemarahan di wajahnya. “Bukan masalah,” balasnya seraya menarik kursi lalu duduk.
Sementara itu, Bu Yuyun sempat terdiam karena bingung sekaligus canggung dengan situasi ini. Namun, saat ia tersadar langsung bertanya, “Rev, kamu baik-baik aja?” Suaranya memang terdengar lembut, tapi cenderung ada nada heran yang tak bisa ia sembunyikan.
Revina buru-buru mengangguk. “I-iya, Bu. Maaf untuk hal barusan.”
“Pak Tristan, maaf ya,” ucap Bu Yuyun kemudian.
Tristan menoleh ke arah Bu Yuyun, senyumnya tenang, seolah meyakinkan bahwa insiden barusan hanyalah hal kecil. “Tidak masalah, Bu Yuyun. Justru ini cara yang unik untuk menyambut saya,” ucapnya kelewat ramah untuk ukuran pria yang baru saja ‘disembur’.
Bu Yuyun tersenyum kaku, lalu memperkenalkan dengan resmi. “Pak Tristan, ini Revina sekretaris saya yang sebentar lagi akan menjadi sekretaris Anda. Dan Revina ... ini Pak Tristan, kepala divisi MnB yang baru.”
Kekonyolan macam apa ini?
Revina sempat berharap ini mimpi, tapi sayangnya semua ini nyata! Jelas-jelas ini bukan mimpi!
Dari miliaran orang di dunia ini, kenapa harus Tristan yang menjadi atasan baru Revina?
Revina pun mulai merasakan kejanggalan, agak mustahil kalau ini kebetulan. Sungguh, menurut Revina ini bukan seperti kebetulan, seolah ada unsur kesengajaan.
“Kalau kebetulan, mana ada yang se-detail ini?” batin Revina, curiga kalau Tristan memang sengaja menjadi bosnya.
“Tristan,” ucap Tristan sambil mengulurkan tangan.
Tentu saja Revina segera membalas uluran tangan pria itu. Jantungnya berdetak sangat cepat saat tangannya bersentuhan dengan tangan Tristan. Senyuman Tristan, jelas sekali penuh arti. Revina bisa merasakan itu.
“Revina,” balas wanita itu.
Beberapa menit yang lalu, Revina membicarakan dengan Bu Yuyun bahwa tidak masalah jika kepala divisi yang baru ternyata laki-laki asalkan baik dan tidak rese. Namun, setelah melihat sendiri bahwa seorang Tristan Abditama yang akan berada di posisi itu, Revina mulai ragu tentang ucapannya. Ia merasa Tristan mustahil tidak rese.
Saat ini, obrolan terus bergulir dan pembicaraan didominasi oleh Bu Yuyun dan Tristan, sedangkan Revina lebih banyak diam. Ia hanya bicara sesekali saat perlu merespons. Jujur, Revina masih tidak habis pikir dengan apa yang terjadi. Namun, ia peka saat Tristan melempar senyum ke arahnya. Itu seperti meledek!
Antara mereka bertiga, sepertinya hanya Revina yang tampak paling tegang. Sementara Bu Yuyun dan Tristan terlihat begitu tenang, seolah makan siang itu hanyalah pertemuan biasa.
Meski jantung Revina berdegup tak karuan, hidangan demi hidangan tetap tersaji dan disantap dengan lancar. Hingga akhirnya, saat dessert baru saja selesai disantap bersama-sama, suasana mendadak berubah.
Ponsel Bu Yuyun bergetar di atas meja. Ia mengangkatnya, dan Seketika raut wajahnya berubah serius. Suara di seberang telepon sana memberi kabar mengejutkan bahwa putra sulungnya mengalami cedera saat bermain basket di sekolah dan saat ini sedang dalam perjalanan menuju rumah sakit.
“Ya Tuhan,” gumam Bu Yuyun, buru-buru bangkit dari kursinya. Tanpa banyak basa-basi, ia meraih tasnya seraya menatap Revina dan Tristan secara bergantian. “Maaf saya harus segera ke rumah sakit. Tolong lanjutkan saja tanpa saya.”
Revina hanya bisa terpaku, sementara Tristan mengangguk tenang. Tanpa bertanya alasannya, mereka sama-sama tahu alasan Bu Yuyun harus segera ke rumah sakit karena sedikitnya mereka mendengar apa yang Bu Yuyun bicarakan dengan seseorang yang meneleponnya beberapa saat lalu.
“Maaf ya Rev, kamu balik ke kantor naik taksi aja,” tambah Bu Yuyun.
“Iya, Bu. Enggak apa-apa. Semoga Fatir baik-baik aja, ya,” balas Revina yang memang tahu nama anak Bu Yuyun.
“Hati-hati, Bu. Tetap tenang dan jangan ngebut,” timpal Tristan.
Dalam hitungan detik, Bu Yuyun bergegas meninggalkan restoran, meninggalkan Revina yang kini mau tidak mau harus berhadapan dengan Tristan.
Ah, setidaknya makan siang sudah selesai sehingga Revina tak punya alasan untuk berlama-lama. Lagian tidak ada yang perlu dibicarakan lagi, kan? Secara teknis, obrolan Tristan dengan Bu Yuyun tadi sudah cukup jelas.
Melihat Revina yang tampaknya sedang beres-beres, membuat Tristan langsung mengajukan pertanyaan, “Kamu mau ke mana?”
“Kembali ke kantor,” jawab Revina, tanpa ragu.
“Kita bareng aja. Saya juga mau mampir ke kantor,” jawab Tristan.
Anehnya, Revina belum terbiasa mendengar suara Tristan menyebut diri dengan sebutan saya. Namun, ia harus membiasakan diri karena jauh lebih aneh kalau panggilan mereka aku-kamu.
“Maaf, Pak. Sepertinya saya naik taksi saja. Kalau begitu, sampai jumpa di kantor.” Revina menunduk hormat lalu bersiap untuk pamit.
“Barusan itu perintah, bukan tawaran.”
“Bukannya gimana-gimana nih, secara teknis Pak Tristan belum menjadi bos saya.”
“Hanya karena saya itu mantanmu, memangnya kamu boleh bersikap seenaknya?”
Deg. Benar juga, jika ini bukan Tristan ... sudah pasti Revina tidak akan banyak omong.
“Sekali lagi, barusan itu bukan tawaran melainkan perintah. Saya minta kamu yang nyetir,” kata Tristan lagi, seraya meletakkan kunci mobilnya di atas meja. “Kamu pasti bisa nyetir, kan, sekarang?” lanjutnya.
Sepertinya Revina tak punya pilihan lain.
***
Mobil yang Revina kemudikan melaju dengan kecepatan sedang. Tristan duduk di kursi belakang, tampak fokus dengan ponselnya.
“Sebelum ke kantor, saya mau mengganti kemeja dulu,” ucap Tristan. Jika cara bicaranya seperti ini, sudah pasti mereka sedang dalam mode profesional.
“Maksudnya, Pak Tristan mau mampir ke butik atau—”
“No, no, no,” jawab Tristan. “Kebetulan arah kantor melewati tempat tinggal saya, jadi bisa mampir sebentar.”
Revina mulai merasakan feeling yang kurang baik. Tristan tidak mungkin menyuruhnya mampir, kan? Pokoknya ia tidak akan mau kalau pria itu memintanya mampir!
“Di mana tepatnya, Pak?” tanya Revina kemudian.
“Calestia Tower.”
Untungnya, Revina tidak sampai menginjak rem mendadak sekalipun ia sangat terkejut. Tristan mustahil kebetulan tinggal di sana, kan? Sudah pasti pria itu mengikutinya!
“Ini nggak mungkin kebetulan, kan, Pak?”
“Wah iya, kamu juga tinggal di situ, ya?” Tristan malah balik bertanya.
Kenapa sekarang Tristan seakan menjelma menjadi sangat menyebalkan?
“Sejak kapan Anda tinggal di Calestia, Pak?” Revina berusaha bertanya dengan kalimat yang se-sopan mungkin.
“Baru aja kemarin saya pindahan.”
“Kenapa Pak Tristan melakukan ini?” Revina sudah tidak tahan lagi.
“Loh, maksud kamu apa?” Tristan berpura-pura bodoh.
“Tiba-tiba menjadi atasanku karena menggantikan Bu Yuyun, ditambah tinggal di tempat yang sama denganku. Aku yakin itu bukan kebetulan,” ucap Revina yang spontan mengesampingkan sikap profesionalnya. “Kamu sengaja, kan?”
Tristan tersenyum. “Berarti ini mode pribadi, ya? Panggilanmu bukan pak lagi, melainkan kamu,” kekeh pria itu.
“Tindakan kamu bikin aku nggak ragu buat resign,” ucap Revina lagi. “Serius, sejak awal bergabung di Golden Bite walaupun ditempatkan di kantor cabangnya, tapi aku nggak pernah kepikiran untuk resign. Dan sekarang ... untuk pertama kalinya aku sangat ingin mengundurkan diri.”
“Hah? Hanya gara-gara atasan kamu ganti?”
“Atasan ganti nggak masalah, tapi berhubung digantinya sama kamu—”
“Kamu nggak nyaman kerja bareng mantanmu?” goda Tristan.
“Enggak ada satu pun orang yang nyaman kerja bareng mantan.”
“Enggak ada satu pun? Saya nyaman, kok. Kita hanya perlu profesional, kan?” tanya Tristan. “Saya kurang profesional apa lagi coba? Justru kamu yang nggak membiasakan diri untuk profesional,” tambahnya.
“Maaf kalau sikap saya barusan kurang profesional, saya akan membiasakan diri,” ucap Revina.
“Bukan masalah, itu wajar karena kamu pasti kaget dengan situasi yang tiba-tiba saya menjadi bosmu.”
“Setelah dipikir-pikir, buat apa saya membiasakan diri? Toh saya tetap akan mempertimbangkan untuk resign. Dan hampir pasti ... saya beneran mau resign.”
“Secara teknis, perusahaan nggak akan setuju,” balas Tristan.
“Saya rasa resign itu bersifat pemberitahuan, bukan izin.”
“Tetap saja ada aturannya,” sanggah Tristan. Cara bicaranya sungguh berbeda saat berbicara dengan Bu Yuyun dan saat bicara dengan Revina sekarang. Saat bicara dengan Bu Yuyun, pria itu cenderung ‘sok’ elegan.
Tristan menambahkan, “Selain itu, kamu mau bilang apa sama Hans?”
Revina mengernyit. Maksud Tristan apa?
“Hans tahu saya jadi atasan barumu karena orang pertama yang saya beri tahu adalah dia.”
“Hah? Kapan bilang ke Hans-nya?”
“Beberapa menit yang lalu. Saya mengiriminya chat,” jelas Tristan. “Saya juga kaget melihatmu dengan Bu Yuyun. Bukankah dunia memang sempit?” lanjut pria itu.
Tidak. Revina tidak percaya. Entah kenapa ia malah merasa Tristan memang sengaja menggantikan Bu Yuyun agar bisa dekat dengannya. Bukannya Revina penuh percaya diri, tapi mana mungkin ada kebetulan se-konyol ini?
“Lagian saya juga penasaran, kenapa kamu nggak bilang ke Bu Yuyun kalau saya itu om-nya pacarmu? Saya tadi sempat mau bilang, tapi raut wajah kamu seperti ingin menyembunyikan itu.”
“Jangan ngarang. Saya nggak bilang karena tadi kaget dan nggak habis pikir, tapi setelah dipikir-pikir ... memang apa gunanya Bu Yuyun atau yang lain tahu? Hanya akan menciptakan kecanggungan,” tegas Revina.
“Intinya kalau kamu resign, Hans pasti bingung. Dia akan bertanya-tanya ... ‘Rev, kenapa tiba-tiba mengundurkan diri hanya karena om-ku menjadi atasanmu? Kamu ada masalah dengan om-ku, ya? Atau kalian ada masalah?’ Bukan hal aneh misalnya dia menanyakan itu padamu.”
Tristan kembali berbicara, “Saat Hans bertanya seperti itu ... haruskah saya menjelaskan apa yang terjadi sebenarnya? Saya akan memberitahunya tentang betapa wajar kamu mengundurkan diri karena pasti kurang nyaman memiliki atasan mantan sendiri. Dalam kata lain, Hans akan tahu kalau dulu kita pernah menjalin hubungan. Bila perlu, kita jujur aja tentang yang terjadi sebulan lalu saat saya mengantarmu pulang—saya mampir ke apartemenmu lalu kita berciuman dan....”
“Stop!” potong Revina. “Udah, tolong udah. Enggak usah diteruskan lagi ucapannya,” pintanya kemudian.
Tristan pun tersenyum, menyadari kemenangan besar sudah di depan matanya.
“Kenapa nggak usah diteruskan?” tanya Tristan, kali ini mulai tertawa. “Kamu se-takut itu Hans tahu tentang kita?”
“Sebenarnya apa yang Anda rencanakan, Pak?”
“Saya nggak merencanakan apa pun. Saya hanya menerima tawaran untuk bekerja di kantor cabang Golden Bite dan secara nggak terduga ... kamu yang akan menjadi sekretaris saya. Entah ini kebetulan atau memang takdir, tapi yang pasti saya senang kalau kamu yang menjadi sekretaris saya,” bohong Tristan, padahal ia memang yang sengaja mengambil kesempatan dalam kesempitan.
Tristan kembali berbicara, “Untuk itu, lupakan segala tentang resign dan semoga kita bisa saling bekerja sama dengan baik,” pungkasnya.
Bekerja sama dengan baik? Dengan mantan? Mana bisa?