Bukan Orang Ketiga | Bab 5

1101 Words
Ajeng mencengkram erat rok yang sedang ia kenakan. Ia menggigit bibir bawahnya dengan keras tanpa perasaan. Tanpa mempedulikan apakah bibirnya akan berdarah atau tidak. "Juan.. Ibu perempuan itu, dimana sekarang?" Laki-laki yang sedang berdiri di dekat sofa tempat Ajeng duduk itu mengeluarkan ponselnya. Kemudian memperlihatkan foto yang ada di dalam layar. "Ini foto Ibunya. Ada di bangsal VIP Rumah Sakit Cendana. Yayasan milik keluarga Wijaya." Ajeng menyernyitkan alisnya. "Dia berani bawa ibu perempuan itu ke rumah sakit papahnya?" "Sejujurnya rumah sakit itu bukan di wariskan ke Arya Wijaya, Ayahnya Pak Gema. Tapi ke saudarinya, Hera Wijaya. Jadi yah, secara teknis Rumah sakit itu punya Tantenya Pak Gema." Juan, sang asisten menjelaskan dengan rinci. "Tapi kan tetap aja. Kalau mau perempuan itu aman, dia harus menjauh dari antek-anteknya keluarga Wijaya." Juan menarik kembali ponselnya saat ia rasa sudah cukup untuk melaporkan nya. "Tapi Hera Wijaya agak beda Bu." "Maksudnya?" "Hera cuman dapet yayasan Rumah Sakit itu sebagai satu-satunya warisan yang diteruskan ke dia dengan satu syarat. Arya Wijaya, atau adiknya itu gak bisa ikut campur apapun di sana." Ajeng tersenyum sinis. "Jadi dia backingan kamu Mas?" Gumamnya. Sebenarnya Ajeng menyuruh Juan, sang asisten agar tak membuntuti suaminya hari ini. Tetapi bodoh jika ia melepas laki-laki itu begitu saja. Apalagi ketika Gema jujur masih memiliki perasaan dengan perempuan itu. Akhirnya ia memerintahkan Juan untuk mengikuti orang suruhan Gema yang setiap hari mengawasi wanita itu. Dan yah, ternyata hasil penyelidikannya itu malah seperti ini. "Juan.." "Iya Bu." Laki-laki itu menjawab sigap. "Saya mau ketemu sama dia." Keinginan Ajeng membuat alis pria itu sedikit menyernyit ragu. "Tapi Bu, apa Pak Gema gak bakal diam aja kalau tau hal itu." "Terus kamu mau saya tunggu mereka jadian dulu?!" Bentak Ajeng. "Saya gak bakal biarin pernikahan ini hancur karena pelakor itu." "Tapi dengan emosi itu yang ada malah buat Pak Gema benci sama Ibu." "PRANGGGG" Suara pecahan gelas terdengar nyaring menusuk ke telinga siapa pun yang mendengar. "Aku istri sah nya Gema. Menantu keluarga Wijaya. Aku harus singkirin gulma itu sebelum dia jadi hama!" Ujarnya kemudian melangkahkan kaki dari sana. "Siapin mobil, aku mau kita berangkat sekarang!" Teriaknya sebelum menutup diri dari balik ruang kamarnya. Juan menghela nafas panjang. Ia sudah bertahun-tahun melayani keluarga Atmodjo terkhusus anak perempuan tunggal mereka itu. Ajeng Ayu Atmodjo. Itu artinya, tidak ada yang lebih mengenal perempuan itu dibanding dirinya, sang asisten. Ia memungut pecahan gelas yang terjatuh di lantai dengan tenang. "Selalu saja ceroboh, dia bahkan masih impulsif sampai sekarang." Gumamnya kemudian berjalan keluar membawa pecahan gelas itu di tangannya. Juna kemudian menyiapkan mobil seperti yang diminta. Ia harus menunggu setidaknya 15 menit di dalam mobil hanya untuk kehadiran sang Nyonya yang muncul dengan baju sabrina maroon yang dikenakan nya dan dandanan glamour serta satu set perhiasan Ruby di badannya. Laki-laki itu kini tambah khawatir menyaksikan tampilan Ajeng yang berlebihan. "Kita ke Cafe tempat perempuan itu bekerja." "Baik Bu." Suasana di dalam mobil itu di penuhi keheningan. Ajeng sibuk memainkan ponselnya karena bingung ingin melakukan apa. Begitu pula dengan Juan yang memilih fokus mengemudi. Perjalanan itu menghabiskan waktu hampir 20 menit hingga sampailah mereka pada tempat yang di maksudkan. Cafe dengan tampilan minimalis dengan gaya aesthetic. Tidak begitu mewah, malah menampilkan kesan vintage dengan perpaduan warna coklat dan corak kayu. Kata Juna, desain seperti ini memang lagi trend di kalangan anak muda. Disitulah dia berada, Tari. Wanita itu sedang membawa nampan gelas berisikan pesanan pelanggan yang datang. Lumayan ramai untuk ukuran cafe sederhana, tapi untungnya masih tersisa tempat untuk Ajeng duduki di sana. Ajeng menatap setiap gerak-gerik tubuh perempuan itu. Ia hendak memanggil pelayan unuk memesan, tapi yang datang bukan Tari, melainkan orang lain. Hal tersebut membuat Ajeng menghembuskan nafasnya. Sebenarnya ia ingin bicara dengan wanita itu, tapi kondisi cafe sedang ramai sekarang dan menurut pendapat Juan, kurang elegan untuk berbicara hal tersebut di ruang publik. "Kapan shift perempuan itu selesai?" Ajeng bertanya dengan nada kesalnya pada Juan. "Jam 6 sore." Jawab Juan yang membuat Ajeng menghembuskan nafas kesal. Ajeng berdecak. "Oh my god, just call her! Aku mau bicara sekarang!" Bentaknya. "Tapi suasananya lagi gak pas, yang ada malah jadi tontonan gratis. Ibu mau?" "Kamu tanya owner-nya, suruh Tari luangin waktunya buat bicara sama saya. Saya bayar berapa pun!" Juan memijit pelipisnya. Ajeng kalau mode gak sabaran yah gini. "Ibu tunggu di mobil. Biar saya yang atur." Akhirnya kalimat itu membuat Ajeng keluar dari Cafe dengan menenteng tas bermereknya. Bunyi heels nya beradu dengan hiruk pikuk pengunjung yang ada di sana. Sesaat setelah ia memastikan Ajeng masuk di mobil dengan penurut, ia pun berjalan menuju bar dan mulai bernegosiasi dengan orang di sana. Tari akhirnya di panggil. Wanita itu menampilkan wajah kebingungannya. Ternyata Cafe ini memiliki tempat VIP yang bisa di booking dan terletak di bagian belakang gedung dengan tema outdoor. Untungnya tidak silau karena pohon-pohon besar yang menutupi. Disitulah Tari dan Ajeng bertemu. Kedua perempuan itu sangat jauh berbeda dari segi penampilan. Membuat Ajeng tersenyum sinis. "Kamu tau saya kan?" Tari menggeleng. "Saya gak tau Mbak siapa." Hal tersebut membuat Ajeng menghembuskan nafasnya. "Saya Ajeng Ayu Atmodjo. Istri SAH Mas Gema." Tari menampilkan wajah terkejutnya. Padahal Gema sudah berjanji tidak akan ada kondisi seperti ini. "Sebelum kamu menggoda suami orang, seharusnya kamu tau dulu siapa istrinya." Ujarnya datar. Ajeng menatap rendah ke arah perempuan di depannya ini. "Saya tidak menggoda suami Mbak. Dia sendiri yang datang menawarkan bantuan, dan seharusnya Mbak tau kalau saya sama Gema—” "Mantan pacar kan? Udah mantan kan? Harusnya udah gak ada urusan lagi dong." Ajeng melipat tangannya di depan. "Saya tau suami saya masih ada perasaan sama kamu. Tapi gak usah kamu manfaatin dong?" "Gema cuman mau bantuin ibu saya, dia sakit." "Saya yang bakal bantuin kamu. Semuanya. Biaya, perlengkapan, apapun. Saya juga bakal beliin kamu rumah atau barang bermerk yang kamu mau. Jadi jauhin suami saya!" Ajeng perlahan mendekat kan wajahnya, "kamu cuman butuh bantuan kan? Bukan suami orang?" Ujarnya dingin kemudian kembali memundurkan tubuhnya. Tari kebingungan. Ia tidak tau harus berkata apa. Jadi ia memilih menunduk, memainkan jari jemarinya. Hal itu membuat Ajeng menghembuskan nafasnya. "Saya tau perasaan kamu karena ibu kamu sakit. Saya juga ngalamin hal yang sama beberapa bulan yang lalu. Jadi tolong, jangan jadiin rasa sakit kamu malah jadi beban buat orang. Saya tau Gema tidak mencintai saya, tapi saya bakal tetep coba asal kamu, gak kasih dia kesempatan." Ajeng mengambil sesuatu dari dalam tasnya. "Kesepakatan yang saya ajukan masih sama, kamu bisa minta hal lain juga. Ini kartu nama saya." Tari mengulum bibirnya dan mengambil kartu nama yang disodorkannya. Ia menunduk hingga ia rasa bayangan perempuan itu sudah hilang dari pandangannya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD