Bukan Orang Ketiga | Bab 6

1024 Words
Tari memutar-mutar kartu nama yang ada di tangannya. Pikirannya berkecamuk dan mulai memutar ingatan saat wanita yang berstatus istrinya Gema itu datang menemuinya. Cintanya pada pria itu memang dalam, tapi tidak mungkin ia mau menjadi alasan rumah tangga mereka hancur. Maka lebih baik seperti ini. Wanita itu menelfon nomor yang tertera. Harus menunggu beberapa deringan sejenak sebelum akhirnya tersambung dengan seseorang di seberang. "Halo Mbak. Ini saya, Tari." Wanita itu menghembuskan nafasnya seolah pasrah. Ia memandang langit gelap di atasnya. Menelaah satu persatu bintang yang ada. Sejenak menghilangkan keluh yang ada di hatinya. Jam sudah menunjukkan pukul 7 malam. Ia bingung harus pergi ke mana. Sementara kalau wanita itu pergi ke Rumah Sakit, ia pasti bertemu dengan Gema. Akhirnya Tari memutuskan untuk menunggu orang suruhan Mbak Ajeng yang akan datang untuk mengurus apartemen yang akan ia tinggali sebagai kesepakatannya. Sejak kedatangan wanita itu, Tari belum menghubungi Gema sama sekali. Ia masih memikirkan cara yang tepat untuk memberitahukan nya tentang hal ini. Agak sulit untuk menjauhkan diri dari laki-laki itu sebenarnya. Selama mereka berpisah juga sebenarnya ia tidak pernah benar-benar hilang dari pandangan Gema. Jadi di sini lah ia sekarang. Duduk di depan Cafe sambil menunggu seperti yang Mbak Ajeng minta. Kemudian datanglah sebuah mobil hitam yang Tari sendiri tidak tau merk nya apa. Tapi sudah dipastikan mahal hanya dengan sekali lihat. "Bu Tari, silahkan masuk." Ia melangkah kan kakinya masuk ke dalam mobil itu tanpa melihat jelas siapa sosok yang ada di dalam mobil. Wanita itu kembali menyusuri setiap sudut mobil dengan pandangannya. Memperhatikan situasi yang tengah terjadi. Terdapat dua laki-laki tegap dengan setelan jas hitam rapi. Laki-laki pertama adalah yang mengemudikan kendaraan ini, sementara satunya sedang berada di samping Tari sembari terus bermain ponsel entah mengabari siapa. Tari duduk tenang dengan mengalihkan pandangannya ke arah luar jendela. Kemudian tersadar ketika mereka memasuki jalanan menuju luar kota. "Loh pak, kan saya mintanya apart deket rumah sakit. Kok ke sini?" Tari bertanya dengan nada curiga. Memandang kedua laki-laki itu bergantian. Tak ada jawaban dari mereka. Wanita itu semakin curiga dibuatnya. Akhirnya ia merogoh ponselnya dan mencoba menguubungi Mbak Ajeng unuk memperjelas kondisi ini. "GREPP!" Sesaat setelah ia memegang ponselnya, ia langsung dikejutkan dengan dekapan tangan di mulutnya. Ia melihat laki-laki di sebelahnya itu menahan sapu tangan di area mulut dan hidungnya. Tari mencoba beberapa saat agar tidak bernapas dan mencoba memberontak sebisanya. Tapi gagal. Pergerakannya di tahan oleh laki-laki itu dan perlahan ia mulai kehabisan napas. Tak ada yang bisa ia lakukan selain pasrah dan mulai terbius obat. Tari akhirnya pingsan tanpa menyadari apa yang sedang terjadi sekarang. "Ada mobil yang mengikuti di belakang dari tadi." Ujar pria di sebelah Tari setelah berhasil membuat wanita itu pingsan. Sementara laki-laki yang sedang nengemudi itu juga terlihat tak tenang. "Cepat laporkan hal ini segera." Ujarnya sebelum menambah kecepatan mobil itu di atas rata-rata. "Kita tidak bisa bawa wanita ini ke tempat itu kalau masih di ikuti." "Saya akan mengecohkannya, kau hubungi saja dia." Suasana mulai tidak terkontrol. Tetapi akhirnya mobil yang membawa Tari itu berhasil lolos dari pandangan sosok yang mengikuti mereka. Laki-laki itu mulai menggendong tubuh Tari dan menbawanya masuk ke dalam sebuah gedung. *** Ajeng menggigit jarinya panik sembari terus mencoba menelfon seseorang di ponselnya. "AHHH SIALL!" Ia menendang meja di sebelahnya hingga vas bunga yang ada di atasnya pecah. "KALIAN KENAPA BISA KEBOBOLAN HAH?!" Ajeng membentak seseorang di depannya. Sementara Juan sedang duduk di sofa dan mengotak-atik laptop dalam pangkuannya. "Bu, mobil itu masuk ke area non cctv. Kita suruh mereka buat cek lokasi penginapan di sekitar sana." Ujar Juan sembari memperlihatkan laptop-nya. Ajeng menatap ke arah anak buahnya itu. "Kalian denger kan? BURUAN!!" ujarnya menggila. "Saya sudah kirimi kalian lokasi serta daftar-daftar penginapan di sekitarnya, kalian hanya perlu cek situasi. Jangan bertindak apapun, cukup laporin aja." Juan membei titah sebelum mereka berangkat Semua laki-laki berbadan tegap yang di perintahkan itu akhirnya pergi dari sana. "Saya sudah bilang jangan gegabah." Juan menatap sang Nyonya yang sedang mondar-mandir dengan gelisah. "Itu gak mungkin Mas Gema." Lirihnya sembari terus mengigiti kuku jarinya. Keduanya sedang berada di mansion keluarga Atmodjo yang kini di wariskan atas nama Ajeng sebagai anak satu-satunya. Semua pelayan masih tetap bekerja untuk membersihkan tempat ini setiap hari meskipun tidak ada yang menempatinya. *** Sementara di sebuah penginapan yang ada di pinggiran kota bahkan sudah termasuk wilayah terpencil itu kini dikerubungi oleh banyak laki-laki dengan penampilan sangar. Tari terbaring lemas di atas kasur dalam salah satu kamar di penginapan itu. Setelah beberapa jam ia pingsan, akhirnya kesadarannya pun perlahan pulih. Ia memeriksa sekeliling dengan pandangannya karena belum mampu menggerakkan badannya yang lemas. Kamar yang terlihat sederhana tetapi perlengkapannya tersedia. Perlahan ia ingat-ingat lagi apa yang terjadi beberapa saat yang lalu dan hanya ada satu nama dalam pikirannya sekarang, Ajeng. Wanita itu berusaha menyingkirkannya dengan cara yang kotor. Tari menghembuskan nafasnya dan mencoba menguatkan agar bisa lolos dari sini. Ia berusaha duduk meski sedikit kesulitan apalagi saat kepalanya berdenging tiada henti. Untungnya orang-orang itu tidak mengikat tubuhnya dengan sesuatu jadi Tari bebas bergerak. Tapi sebelum wanita itu berhasil mengumpulkan tenaganya, pintu terbuka dengan perlahan. Tari bersiap dengan kemungkinan terburuk yang ada. Dia mengambil vas yang ada di atas meja dan menyembunyikannya di belakang tubuh. Sosok laki-laki muncul dari balik pintu dengan jas yang ia tenteng di tangan. Gema. Wanita itu menganga tak percaya. "Kita udah sepakat kan? Kamu tau gak kalo dalam bisnis, seseorang gak boleh teken kontrak ganda sekaligus?" Gema masuk ke dalam kamar dan mengunci pintunya. Tari mencoba bergerak ke ujung ranjang. Dia tidak percaya kalau sejauh ini, bukan Ajeng yang melakukan hal ini kepadanya. Tetapi pria itu. Gema, yang sedang marah karena perjanjian nya dengan sang istri. "Aku bisa jelasin Gema." Wanita itu berusaha membujuk dengan mengandalkan perasaan Gema padanya. Tubuh laki-laki itu sudah berdiri di sisi ranjang. Sementara Tari belum mampu mengendalikan badannya yang lemas. Gema perlahan naik ke atas ranjang mendekati tubuh wanita itu. "Kamu tau aku cinta sama kamu, makanya kamu bisa seenaknya gini kan?" Tari sudah terpojok di sudut ranjang. Perlahan tapi pasti, tubuh pria itu semakin dekat denganya hingga akhirnya berhasil menghimpit tubuh wanita itu di sana. Tari menatap mata Gema yang tajam dengan takut. "Gema, aku...."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD