Tari bangun lebih dulu saat matahari bahkan belum menampakkan dirinya. Badannya serasa kaku karena tertidur di atas meja makan. Dia menggerakkan kakinya yang kesemutan karena terlalu lama dengan posisi begitu.
Matanya menangkap sosok pria di sebelahnya yang masih terlelap dengan tenang. Ia menghembuskan nafasnya pelan sebelum akhirnya berdiri dari sana.
Tari mengambil botol wine yang ada di meja dan mengangkatnya menuju wastafel. Dia membuang isi dari botol itu ke saluran wastafel. Bau alkohol menyeruak mengisi dapur.
Setelah membereskan botol-botol wine itu, dia lalu menyusun kursi dapur menjadi sejajar dan pelan-pelan menyeret kepala Gema agar baring di atas kursi itu. Awalnya Tari kesulitan karena ia harus melakukannya pelan-pelan agar laki-laki itu tidak bangun. Tapi ternyata, ia berhasil memperbaiki posisi Gema.
Laki-laki itu sepertinya masih terpengaruh alkohol. Wajar saja, ia sudah menghabiskan hampir satu botol penuh wine. Gema bukan tipe yang menyelesaikan masalah dengan alkohol sebenarnya. Tapi dengan...
Itu.
Sebungkus obat tidur yang tadi malam telah luput dari perhatiannya. Dia meminum obat tidur bersamaan dengan alkohol. Tak ada yang segila itu selain Gema.
Tari berdecak lelah. Ia kemudian berjalan masuk ke dalam kamar Gema. Menggeledah laci-laci yang ada di sana. Benar saja, beberapa obat tidur terisi di dalam botol vitamin. Biasanya Gema sengaja agar tidak ada yang mempertanyakan hal itu.
Agar tidak ada yang khawatir.
Kehidupan Gema selama ini juga tidak mudah. Tapi ia juga bingung harus bersikap bagaimana.
Katanya menangkap ponsel Gema yang sedari tadi berdering menampilkan pesan-pesan yang masuk. Ia kemudian beralih menatap jam dinding yang menunjukkan pukul lima. Siapa lagi yang akan rela memberi spam chat selain istrinya itu.
Tari harus berdiri mematung dulu di tengah kamar Gema sambil berpikir apakah boleh ia mengecek ponsel laki-laki itu. Hingga akhirnya ia memilih untuk ikut campur.
Tangannya dengan berat mengambil handphone Gema yang tergeletak begitu saja di atas kasur. Hatinya terenyuh menatap walpaper yang menunjukkan foto dirinya saat pernikahan mereka.
Tari tampak memakai dress putih elegan dengan ekspresi tanpa senyum sama sekali. Ia menebak foto ini adalah hasil jepretan kamera milik Tante Hera.
Matanya menelusuri setiap deretan chat yang terkirim ke nomor Gema. Matanya memicing cemburu membaca setiap chat yang muncul.
'Mas, kamu di mana sih?'
'Mamah kamu ajak kita makan bareng tau'
'Aku jawab apa dong?'
'kamu bisa kan Mas?'
'udah 3 hari kami gak pulang kemana sih?'
'aku kangen'
'Mas'
'Mas'
'Masa aku tidur sendirian lagi sih?'
'kamu dimana?'
'Mas'
'Mas handphonenya kamu taro di mana sih?'
Tari menghembuskan nafas panjang. Dia menimbang-nimbang apakah harus membalas pesan itu atau tidak.
Hingga akhrnya ia berdecak dan melempar ponsel itu kembali ke atas kasur dengan layar yang masih terbuka. Tari duduk di pinggir ranjang sambil memeluk diri sendiri.
Ia menunduk. Kebingungan harus melakukan apa.
Tari lalu berjalan keluar dari kamar laki-laki itu. Ia lalu masuk ke kamarnya dan mengambil cardigan dan mulai mengenakannya sembari berjalan ke arah luar.
Villa ini meskipun terpencil, ternyata menyediakan semacam toserba yang tersedia 24 jam di sebelahnya dan di kelola oleh owner yang sama. Ia membeli beberapa bahan masakan yang sekiranya ia perlukan lalu oergi dari sana.
Dari mana uangnya? Tentu saja ia ambil asal dari kantong jas Gema yang terletak sembarang di sofa.
Ia kembali berjalan masuk ke arah villa yang di tempatinya. Tari mematung di depan pintu menyaksikan Gema yang sudah bangun dan mondar-mandir dari arah ruang tamu.
Pandangannya menyaksikan laki-laki itu yang kelabakan menelfon seseorang dan memaki-maki nya. Gema sekarang menampilkan wajah emosi yang meluap-luap.
Tari memicingkan matanya. "Ada apa?"
Gema menoleh dengan cepat. Bisa di liat bahwa laki-laki itu seperti bermafas lega. Ia langsung berlari ke arah Tari dan memeluknya erat.
"Aku pikir kamu kabur." Ujarnya lirih sembari menambah keeratan dalam dekapannya. Tari hampir terhuyung ke belakang akibatnya.
"Aku ke Toserba samping tadi." Meski tidak membalas pelukan laki-laki itu, Tari tetap mencoba menjelaskan. "Kan kamu tidur tadi."
Hembusan nafas yang terburu-buru dan detak jantung yang tidak beraturan bisa ia rasakan dari tubuh laki-laki itu.
"Aku pikir kamu marah pas baca chat dari Ajeng. Aku kira kamu ninggalin aku tadi."
Hati Tari kembali terenyuh mendengar hal itu. Ia menunduk dan mengulum bibirnya dalam.
"Aku cariin kamu kemana-mana, kamu gak boleh ninggalin aku lagi!"
Wanita iu mengangguk. "Iya nggak, lepasin dulu."
Gema malah semakin memeluknya. Menenggelamkan kepalanya dalam sela-sela leher wanita itu. "Gak mau, nanti kamu pergi lagi."
"Nggak Ge, aku nggak kemana-mana."
Tari akhirnya luluh. Ia membiarkan kantong belanjaan nya jatuh ke lantai dan mulai membalas pelukan laki-laki itu. "Tenang yah? Aku nggak pergi, janji."
Tangannya mengelus lembut punggung tegar Gema. "Aku bakal disini sama kamu."
Gema masih setia memeluk erat tubuh mungil wanitanya itu. Hingga akhirnya ia kerasa tenang dan melepaskan nya pelan-pelan.
"Oh," Tari mengambil kantong belanjanya yang terjatuh. "Ini aku mau bikinin kamu sup buat penghilang pengar." Ujarnya sambil memperlihatkan hasil belanjaannya.
Gema mengerjap tidak percaya. Ia menatap mata Tari lamat-lamat.
"Iya ini aku mau bikinin kamu sup makanya aku beli bahan-bahan tadidi toserba samping." Lanjut Tari menjelaskan.
Laki-laki itu dengan pelan mengangguk.
Tari kelabakan sambil menunduk. "Tadi aku ambil uang dari saku jas kamu."
Gema mengangguk cepat. "Iya gak papa, nanti aku kasih kamu uang pegangan yah. Asal gak kamu pakai buat kabur."
"Nggak kok."
Gema mengambil kantong belanjaan Tari untuk membantu wanita itu. "Nggak papa, aku kan emang harus kasih kamu uang."
"Oh nggak," Tari menggeleng dengan cepat lalu melanjutkan. "Maksudnya aku nggak akan kabur kok."
Gema tersenyum tipis mendengar hal itu. Ia mulai salah tingkah di samping wanita itu. Sementara Tari pun tidak mampu menahan rona merah yang muncul tiba-tiba di wajahnya.
"Kalau kamu udah bilang gitu, aku percaya kok." Ujar Gema sambil menggandeng tangan Tari menuju dapur.
"Aku bantuin yah masaknya." Laki-laki itu mengajukan diri sambil memakain celemek.
"Apa gak usah bikin sup penghilang pengar yah? Kan kamu udah gak mabuk."
Gema dengan sigap mengambil celemek satunya lagi dan memakaikannya ke wanita itu. "Terserah sih, aku ikut kamu aja." Balasnya sambil tersenyum tenang.
Sekarang menunjukkan pukul enam pagi. Tapi sepasang pasutri itu sudah asyik menghabiskan waktunya berduaan di dapur.
Kini Gema tidak perlu membahas masa lalu lagi untuk membawa wanita itu ke dalam obrolan. Kini keduanya sudah mampu membicarakan masa depan bersama.