Bukan Orang Ketiga | Bab13

1120 Words
Malam turun dengan tenang, tapi rumah kecil itu tak ikut damai. Kamar Tari gelap, tapi matanya belum mau kompromi. Udara di dalam terasa kering, tenggorokannya gatal. Ia duduk perlahan, melirik jam digital di nakas. Lewat dari jam dua. Dengan langkah pelan, ia keluar kamar, menelusuri lorong sempit menuju dapur. Lampu redup di atas kompor menyala. Saat matanya menyesuaikan cahaya, ia melihat Gema duduk sendirian di meja makan. Satu botol wine terbuka berdiri di samping gelas setengah kosong. Aromanya langsung tercium samar. Tari menghela napas pelan. “Serius?” Gema menoleh. Wajahnya lelah, pipinya agak merah, dan rambutnya berantakan seperti habis perang. “Mau gabung?” tanyanya santai, sambil sedikit mengangkat gelas. Tari menggeleng, membuka kulkas dan mengambil botol air dingin. “Kamu mabuk?” “Setengah.” Ia tak langsung menjawab, hanya duduk di kursi seberang. Tidak benar-benar karena ingin temani, tapi lebih karena takut dia muntah dan numpahin isi perut ke lantai. Gema kalau udah mabuk biasanya ngomong ngawur, tapi kalau dia sampai teler, ujung-ujungnya nyusahin. “Baru malam kedua ya?” gumam Gema pelan. “Rasanya kayak minggu kedua.” Tari mengisi gelasnya dengan air dan meneguknya tanpa bicara. Udara malam masuk lewat jendela kecil, membuat suara jangkrik samar terdengar. Dapur jadi satu-satunya ruang bernyawa malam itu. “Aku kira setelah nikah semua berubah,” katanya lagi. “Tapi ternyata kita masih saling jaga jarak kayak orang baru kenal.” “Kamu yang mau nikah,” Tari berkata akhirnya. “Jadi nikmatin aja.” Gema tertawa kecil, tapi tidak hangat. “Iya. Aku juga gak nyangka kamu bakal setuju. Kukira kamu bakal tampar aku di gereja.” Tari menghela napas, tapi tetap memilih ada di sana. Menemani laki-laki itu. Gema menopang dagu. Menatap tak percaya ke arah wanita itu yang memilih diam di dekatnya. “Kamu tahu gak. Kadang aku ngerasa kita ini nikah buat menyiksa satu sama lain.” “Kalau kamu nyadar itu, kenapa masih maksa sih?” “Karena kamu gak pernah mikir dari sisi aku. Selalu kamu yang paling sakit, kamu yang paling benar.” Tari mengangkat alis. “Kamu mabuk, Gema.” “Justru karena mabuk, aku jujur.” Ia meneguk lagi gelasnya, lalu menggeser botol menjauh. Tangan kirinya gemetar sedikit, entah karena alkohol atau marah yang belum selesai sejak lama. “Aku tidur di kamar yang dingin, sendirian, sambil mikir kenapa sih istriku tuh harus tidur di kamar lain. Kita ini apa, Tar? Penghuni kos?” Tari menatap nyarang. “Aku gak nyaman Ge, kamu kan tahu itu.” ujarnya sedikit menaikkan intonasi “Tentu aja gak nyaman. Kamu nikah karena dipaksa keadaan. Bukan karena cinta.” “Kamu juga gak minta restu istri kamu waktu nikahin aku. Kita sama.” “Beda. Aku nikah karena gak bisa hidup tanpa kamu. Kamu nikah karena gak bisa bilang enggak.” Terdengar jelas Gema yang berucap dengan nafas memburu. Tari diam. Kepalanya menoleh ke arah jendela. Embun tipis mulai menempel di kaca. “Kamu tahu gak rasanya tidur malam-malam sambil nebak, kamu masih mikirin aku gak sih?” “Kamu pikir aku gak mikirin kamu?” Gema tertawa. Tapi tawanya kering, bukan lega. “Kalau kamu mikirin aku, kenapa kamu selalu kayak gak peduli gitu? Kenapa kamu gak pernah nanya, aku beneran baik-baik aja atau cuman pura-pura?” “Aku juga nahan diri. Aku gak mau jadi pelakor. Kamu lupa? Aku yang tiap hari dihantui pikiran, ‘aku jahat gak sih?’” “Tapi kan kamu udah jadi istri sah aku sekarang. kamu yang selalu ngerasa bukan siapa-siapa.” “Karena kamu gak pernah selesai sama hidupmu, Ge.” Gema berdiri. Kursinya geser kasar. Ia berjalan ke wastafel, cuci muka sebentar. Air menetes dari dagunya, dan dia tetap menatap ke bawah saat bicara lagi. “Aku marah, tahu gak.” “Marah sama siapa?” “Sama kamu." Gema begerak duduk di hadapan perempuan itu. "Sama semua hal yang pernah kita lewatin. Aku marah kenapa kamu bisa tidur tenang tiap malam, sedangkan aku harus selalu cari cara supaya bisa sama kamu lagi." Tari menarik nafasnya lelah. Dia menyisir rambutnya ke belakang dengan perasaan frustasi. “Kamu kira aku tenang?” tanyanya pelan. “Kamu jalan terus. Lanjutin hidup sama dia, sementara aku? Aku hidup dengan bayang-bayang kamu sama cewek itu tiap hari. Aku nyalahin diri sendiri tiap malam.” “Kamu gak tahu apa-apa, Ge.” “Makanya bilang, biar aku tahu. Tapi kamu diem kan?” Sunyi sebentar. Kipas dapur berdecit. Tari akhirnya bergerak. Ia berjalan mendekat ke arah dispenser kemudian mengisi ulang gelas air, lalu menaruhnya di dekat Gema. “Minum dulu. Kamu mulai ngawur.” Gema tak menyentuhnya. "Aku udah berhasil nikahin kamu kayak janji aku kan dulu? Terus kenapa kamu gak mau nyoba juga sih?" "Yah, karena cewek itu Ge!" Tari duduk lagi. Pandangannya jatuh ke lantai. “Karena Ajeng, istri kamu. Aku gak bisa duduk nikmatin aja saat aku tau ada perempuan lain yang lagi sakit hati karena aku." "Tapi Ajeng gak se cinta itu sama aku. Beda dengan aku yang pertahanin kamu sejauh ini. Kenapa kamu harus merasa gitu padahal Akeng yang rencanain ini semua?" Gema memegang tangan Tari mencoba memastikan. "Percaya sama aku Tar, Ajeng kayak gitu karena dia gak mau kehilangan orangnya, dia sama sekali gak lakuin itu karena aku." Tari menyernyitkan alisnya. Dia memilih diam. Sementara laki-laki di hadapannya mulai bersandar kecapean. Pengarnya masih belum hilang hanya karena ia mencuci wajahnya. Ia juga bukan orang yang tahan dengan alkohol. "Ajeng cuman jadiin aku alat, Tar. Aku capek. Cuman sama kamu aku bebas jadi diri aku sendiri." Gema berlirih dengan pandangan lembut menyentuh wanitanya. Tari kebingungan. "Please Gema. Jangan buat aku jadi orang jahat." Laki-laki itu berdecih sinis. Dia membaringkan kepalanya di meja dengan lemas. "Aku butuh kamu Tar, kenapa kamu gak ngerti-ngerti sih?" Ujarnya pelan dengan setengah sadar Mungkin masih ada sisa penyesalan karena keadaan di dalam dirinya. Tetapi keduanya juga hanya pasangan biasa yang saling mencinta sebelum ambisi datang menghantui. Tari mungkin akan menerima laki-laki di depannya ini andai saja keadaan tidak jahat pada mereka. Ia tahu akan perasaan nya yang goyah bersama laki-laki yang sudah menemaninya dari lama itu. Sikap acuh tak acuhnya itu ia tunjukan sebagai bentuk perlawanan terhadap rasa bersalah. Apa yang terjadi jika akhirnya, Tari memilih untuk melepas perasaan bersalah itu dan memeluk Gema dengan tulus seperti dulu? Wanita itu menatap ke arah Gema yang sudah memejamkan matanya karena mabuk. Dia akhirnya memilih untuk menyandarkan kepalanya di meja seperti pria itu lakukan. Matanya menatap wajah teduh laki-laki itu yang terlelap tenang. "Yakinin aku yah, Mas. Aku masih nyoba, jadi tolong sabar." Pandangan terkhirnya sebelum memejamkan mata adalah wajah kelelahan Gema yang memilih menyerah. Laki-laki yang dipaksa melakukan keputusan penuh ambisi 6 bulan yang lalu, dan kini berusaha memperbaik keputusn itu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD