Bukan Orang Ketiga | Bab 12

1114 Words
Kipas angin berputar lambat. Udara di ruang tengah tetap panas. Karena ini villa kecil di daerah terpencil, ia harus menerima tidak ada AC di sini. Yah, meskipun dia memang terpapar AC hanya di Cafe tempatnya bekerja dulu. Gema muncul dari dapur, bawa dua piring nasi goreng. Satu ia letakkan di meja, satunya lagi ia bawa sambil mendekat ke arah perempuan itu. “Makan dulu.” Tari tak menoleh. “Gak lapar.” “Kamu belum makan dari tadi pagi.” “Aku bilang gak lapar.” Gema menarik napas pendek. “Oke.” Ia duduk di kursi seberang. Sendoknya berbunyi tiap kali menyentuh piring. Suara yang seharusnya biasa, tapi di rumah sekecil ini, terdengar seperti gangguan. Beberapa menit sunyi. Lalu Gema bicara lagi. “Kamu ingat nasi goreng Bu Sis?” Tari mengalihkan pandangannya. “Apa sih?” Wanita itu sedang sibuk mengalihkan perhatiannya dari Gema dengan fokus memperhatikan Televisi yang terpajang di depannya. “Ituloh yang kita suka beli pas pulang kelas malam. Nasi goreng kornet. Pedes banget.” Tari bangkit. Mengambil air dari kulkas, meneguk cepat. Lalu duduk kembali. Kali ini di sofa, menjauh. Sementara laki-laki itu hanya menyaksikannya dengan tenang. “Kamu gak bosan ya, terus narik-narik masa lalu buat ngobrol?” Gema mengangkat bahu. “Setidaknya aku masih inget. Kamu kayak orang yang pengen lupa semuanya.” “Memang itu tujuannya, Ge. Lupa semuanya.” Gema menatapnya. “Berarti pernikahan ini juga bagian dari yang mau kamu lupain?” “Pernikahan ini bahkan gak masuk akal.” “Oh. Jadi kamu anggap semuanya sia-sia?” “Enggak. Aku anggap ini kesalahan.” Gema tertawa kecil. “Jadi, waktu kamu bilang kamu pernah cinta sama aku, itu juga salah?” “Bukan. Tapi lanjut terus sama kamu, itu yang salah.” Tari membentak agar laki-laki di depannya ini sadar. Sunyi. Gema terus makan tanpa melihat ke arah Tari. “Kamu gak pernah bener-bener pulih dari yang dulu ya,” katanya tanpa melihat. “Kamu yang gak pernah minta maaf bener-bener,” balas Tari. “Aku nikahin kamu.” “Bukan karena cinta. Karena obsesi.” Gema berhenti makan. Ia letakkan sendok di piring. “Kamu tahu siapa yang pertama kali cabut dari hubungan kita dulu? Bukan aku. Kamu.” “Karena waktu itu kamu bahkan gak berusaha tahan aku.” Gema menghela nafas lelah. "Aku usaha Tar! Aku juga kesulitan hadapin Papa aku. Aku cuman mau kamu masih ada di sisi aku saat itu buat kuatin aku." Perempuan itu mengulum bibir getir. "Karena papah kamu ngancem aku supaya ninggalin kamu. Karena Ajeng muncul kayak penyelamat. Karena kamu lebih milih diam daripada perjuangin aku.” "Papah aku apa?" Gema terkesiap. Ia seera mengernyitkan dahinya penasaran. Tari berdiri. “Kita selesai bahas ini.” “Gak pernah selesai, Tar.” “Kamu yang gak bisa move on. Bukan aku.” Gema bangkit juga. Berdiri di depannya. “Kalau kamu udah move on, kenapa kamu masih di sini?” “Karena kamu tarik aku ke sini dengan janji bantuin ibu aku. Kamu manfaatin satu-satunya kelemahan aku.” “Dan kamu manfaatin rasa bersalah kamu buat pura-pura jadi korban.” "Karena memang aku korbannya!" Tari terdiam. Wajahnya berubah tapi tak ada air mata. Hanya rahang yang mengeras. “Sekarang kita lagi saling memanfaatkan kan?” ucap Gema dengan nada datar. Gema mengangguk pelan. “Itu bener kan? Tapi aku gak malu ngakuin itu.” Tari melangkah ke arah kamar. Tapi langkahnya terhenti karena laki-laki itu menarik tubuhnya mendekat. "Aku kangen banget sama situasi kita yang lagi baik-baik aja." Tangan kekar laki-laki itu memeluk perut ramping Tari yang tertutup baju kaos yang ia kenakan. Wanita itu menghindar, mencoba memberontak. "Aku cuman meluk istri aku sendiri, kenapa sih?" "Lepasin aku Gema!" "Padahal dulu kamu suka banget aku peluk." Tari terus mencoba melepaskan diri dari cengkraman pria itu. Tapi kekuatannya bahkan tidak bisa dibandingkan dengannya. Mata Gema turun mendapati bibir ranum wanita itu. Tanpa sepatah kata, dan tanpa aba-aba, Gema menurunkan sebuah kecupan singkat di sana. Membuat Tari mengedipkan matanya tak percaya beberapa kali. Tak mendapati perlawanan lain, Gema melanjutkan ciumannya. Kini lebih lama dan intens. Tak ada balasan dari perempuan itu. Mungkin, karena Tari masih mencerna apa yang terjadi. Gema akhirnya menyikap naik baju kaos yang di pakai perempuan itu. Membuat tangannya bersentuh langsung dengan kulit lembut Tari. Sementara perempuan itu masih terlena dengan ciuman yang diberikan. Hingga tidak menyadari perlakuan tangan Gema di sana. Hingga ia merasakan perlakuan hangat di perutnya. Cepat-cepat ia melepaskan ciuman mereka dan menurunkan bajunya yang tersikap tadi. Ia menatap mata Gema tajam. Tetapi laki-laki itu tak memberinya jeda untuk marah. Ia menggendong tubuh kecil perempuan itu dan kenaruhnya di sofa dengan pelan. Tari berteriak memberontak, tetapi perlawanan nya seolah memberikan energi tambahan pada pria itu. "Gema, aku gak mau lakuin itu!" Laki-laki itu menatap Tari dengan nafas memburu yang larut dalam nafsu. Dia menahan kedua tangan perempuan itu di atas dan mulai menyusuri lehernya. Ia perlahan menggigit, menghisap, dan meninggalkan bekas merah di area lehernya. "Aku juga gak boleh lakuin ini ke istri aku sendiri?" Gema menahan nafsunya sendiri. Ia menatap lirih mata yang menatap tajam ke arahnya itu. "Lepasin aku!" Laki-laki itu menghembuskan nafasnya. "Aku gak bakal lakuin itu kok kalau kamu belum siap." Ujarnya sambil melepas tangan tari yang sebelumnya ia tahan. Tari mengelus pergelangan tangannya yang sakit. "Tapi kamu udah berusaha buat aku goyah biar bisa lakuin itu." Ia mendorong tubuhnya ke ujung sofa supaya menjauh dari pria itu. Ia tau bahwa ia tidak bisa selamanya menghindar. Tapi Tari tidak bisa melakukan itu saat ia bahkan tidak mampu memaafkan dirinya sendiri. Gema pun membantu menurunkan baju Tari yang tersikap karena ulahnya. Kemudian perlahan ia mundur ke arah ujung sofa dan melepaskan wanita itu. Tari bernafas lega sesaat. Kamu jangan pernah bahas masa lalu kita lagi. Aku udah cukup kuat buat bilang itu bukan hal indah." Ujarnya kemudian beranjang oergi dari sana. “Kamu yang bilang dulu hidup kamu paling bahagia sama aku.” Tari menoleh, tajam. “Itu sebelum kamu jadi laki-laki yang tega ninggalin aku di tengah jalan.” ujarnya sebelum akhirnya menghilang dari balik pintu kamar Gema melipat tangannya di d**a kemudian berteriak. “Dan sekarang kamu jadi perempuan yang pura-pura gak butuh siapa-siapa padahal tiap malam duduk sendiri sambil diem.” “Aku lebih baik sendiri daripada sama kamu.” Tari membalas dengan berteriak nyaring dari dalam kamar Gema hanya mengangguk. Masih gengsi juga ternyata, padahal laki-laki iu tau bahwa Tari menikmati sentuhannya. Tak ada sahutan kagi dari kamar. Ia pun membiarkan wanita itu di temani sepi. Di ruang tengah, lampu tetap menyala. Piring nasi goreng masih utuh. Dan rumah itu, walau tak besar, tetap terasa terlalu luas untuk dua orang yang tak saling bicara.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD